Menkeu Catat Penarikan Utang Baru Capai Rp386 Triliun per Mei

- Pemerintah telah menarik utang baru sebesar Rp386 triliun hingga Mei 2026, setara 46,4 persen dari target pembiayaan utang APBN 2026 senilai Rp832,2 triliun.
- Minat investor terhadap surat utang negara tetap kuat meski pasar global bergejolak, menunjukkan kepercayaan tinggi pada instrumen keuangan pemerintah.
- Yield SUN tenor 10 tahun stabil di level 6,68 persen per awal Juni 2026, menandakan ketahanan pasar obligasi domestik di tengah ketidakpastian global.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah menarik utang baru sebesar Rp386 triliun hingga akhir Mei 2026. Jumlah tersebut setara 46,4 persen dari target pembiayaan utang dalam APBN 2026 yang sebesar Rp832,2 triliun. Realisasi ini pun diklaim masih sesuai rencana dalam target APBN tahun ini.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan, penarikan utang dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan serta kebutuhan likuiditas pemerintah.
“Seperti ini netonya Rp386 triliun,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
1. Rincian penarikan utang per Mei 2026

Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan anggaran hingga Mei 2026 tercatat Rp379,4 triliun atau 55,1 persen dari target APBN sebesar Rp689,2 triliun. Dari jumlah tersebut, pembiayaan utang mencapai Rp 386 triliun atau 46,4 persen dari target Rp832,2 triliun.
Sementara itu, pembiayaan nonutang tercatat minus Rp6,5 triliun atau 4,4 persen dari target APBN sebesar minus Rp143,1 triliun.
2. Minat investor surat utang pemerintah masih terjaga

Meski demikian, Purbaya menegaskan tidak ada kendala dalam penerbitan surat utang negara (SUN). Dia mengatakan, minat investor terhadap obligasi pemerintah masih terjaga meski di tengah gejolak global.
“Pasar kan gonjang-ganjing, tapi penggemar SUN kita masih cukup banyak dan tidak ada kehilangan kepercayaan kepada surat utang negara kita,” ujar dia.
3. Ketahanan pasar obligasi domestik masih berdaya tahan

Kementerian Keuangan mencatat yield SUN tenor 10 tahun berada di level 6,68 persen per 3 Juni 2026. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya, meski pasar global masih diliputi ketidakpastian.
Stabilnya imbal hasil mencerminkan ketahanan pasar obligasi domestik di tengah gejolak eksternal. Stabilitas pasar obligasi juga tercermin dari spread yield SBN terhadap US Treasury yang masih berada dalam kondisi terkendali.
“Investor jangka panjang di pasar modal masih cukup percaya terhadap prospek ekonomi Indonesia,” ujar dia.




![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Cek Kamu akan Terlahir Jadi CEO atau Karyawan Biasa](https://image.idntimes.com/post/20250411/1000080289-5b24f5a14d3cd8dcd6ed21352b3d81b1-8e79354d356775a53c1f354e2534f81e.jpg)












![[QUIZ] Pilih Ide Bisnis, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20240219/pexels-startup-stock-photos-7103-a56a4ee6b878557b98051ffe7f93ee25-bae414e6e8f3154ea4ce8f51e23c7387.jpg)
