Dalam APBN, porsi anggaran untuk Kementerian Pertahanan selalu berada di posisi teratas. Pada 2021 misalnya, alokasi pagu belanja Kemenhan tercatat sebesar Rp136,99 triliun. Angka ini merupakan belanja terbesar kedua setelah Kementerian PUPR.
Dari jumlah tersebut sebesar 12,32 persen atau setara Rp16,89 triliun rencananya akan dialokasikan untuk Alutsista. Secara rinci, alokasi untuk pengadaan Alutsista sebesar Rp9,3 triliun, modernisasi serta pemeliharaan dan perawatan Alutsista untuk TNI AD sebesar Rp2,65 triliun, TNI AL Rp3,75 triliun, dan TNI AU Rp1,19 triliun.
Padahal ketepatan penyerapan anggaran jumbo alutsista juga masih selalu dipertanyakan. Sebab, merunut anggaran alutsista tahun-tahun sebelumnya, tak satu pun pernah 100 persen terpakai.
Ketua Centra Initiative dan Anggota Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan, Al A'raf, mengatakan pada periode 2010-2014, pemerintah menganggarkan program modernisasi alutsista Rp156 triliun untuk fase I, yakni minimum essential forces alias (MEF). Berdasarkan data Kemenhan, anggaran itu hanya terealisasi 74,98 persen.
Kemudian, pada periode 2015-2019, anggaran modernisasi alutsista untuk fase II, yakni essential forces hanyalah sebesar Rp157,7 triliun. Anggaran itu hanya terealisasi 62 persen sampai dengan 2018. Lalu, anggaran awal modernisasi alutsista periode 2020-2024 ialah sebesar Rp157,5 triliun.
"Baik fase I maupun II dengan anggaran Rp150 triliun, sebenarnya Kemenhan tidak pernah menyerap anggaran sampai dengan 100 persen. Jadi anggaran untuk belanja Alutsista itu diberikan Rp150 triliun per fase, ada 2 fase, tidak pernah menyerap Rp150 triliun. Paling tinggi fase kedua paling hanya 80 persen. Fase pertama hanya mungkin 60 persen," ungkap A'raf.
Melihat data realisasi anggaran modernisasi alutsista yang tak pernah sampai 100 persen, ia pun mempertanyakan cara pemerintah merealisasikan anggaran Alutsista Rp1,7 kuadriliun yang baru diajukan tersebut.
"Jadi saya bingung, dengan anggaran Rp150 triliun saja tidak bisa menyerap 100 persen, ini meminta Rp1.760 triliun dalam 2,5 tahun. Bagaimana ini menghabiskan belanja Rp1.760 triliun sampai 2024," ujar A'raf.
Meski begitu, menurutnya langkah paling tepat yang harus dilakukan Kemhan adalah memaksimalkan penggunaan anggaran modernisasi alutsista yang sudah ada.
"Buat saya kalau Rp200-250 triliun masih relevan di tengah kondisi krisis. Tapi jauh lebih tepat Rp150 triliun coba dihabiskan 100 persen dulu," ucapnya.
Infografis realisasi belanja anggaran Kementerian Pertahanan. (IDN Times/Aditya Pratama)
Tentunya pemerintah masih harus putar otak untuk penganggaran alutsista pos anggaran dalam rangka mengatasi pandemik dan pemulihan ekonomi masih jadi prioritas. Jadi skema utang seperti apa yang akan dipilih pemerintah untuk modernisasi alutsista dalam negeri?