ilustrasi OpenAI, AI ChatGPT (unsplash.com/BoliviaInteligente)
Di tengah ambisi pertumbuhan bisnisnya, OpenAI dikabarkan sedang berdiskusi untuk menghimpun pendanaan baru senilai US$30 miliar atau lebih. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp537 triliun. Perusahaan tersebut disebut mengejar valuasi sekitar 1,4 triliun dolar AS atau setara Rp25.060 triliun sebelum dana baru masuk. OpenAI juga dilaporkan menjajaki pembicaraan dengan sejumlah dana investasi dari Uni Emirat Arab, termasuk MGX yang berbasis di Abu Dhabi, untuk membantu menopang putaran pendanaan tersebut.
Sebagai gambaran, OpenAI sebelumnya menghimpun pendanaan sebesar 122 miliar dolar AS pada Maret 2026, dengan valuasi 852 miliar dolar AS yang sudah memperhitungkan dana dalam putaran tersebut. Berdasarkan asumsi kurs yang sama, pendanaan itu setara dengan sekitar Rp2.183,8 triliun, sedangkan valuasinya mencapai sekitar Rp15.250,8 triliun. Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan investor terhadap potensi perkembangan bisnis AI. Namun, valuasi perusahaan gak sama dengan pendapatan ataupun keuntungan yang dihasilkan, sehingga ketiganya perlu dibedakan ketika kamu menilai kondisi keuangan OpenAI.
Rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) juga menjadi perhatian. OpenAI disebut menunda rencana IPO hingga setidaknya 2027 karena ingin memprioritaskan upaya keselamatan AI. Sementara itu, Anthropic diperkirakan berpotensi menawarkan saham kepada publik paling cepat pada November 2026. Jika rencana tersebut berkembang sesuai perkiraan, persaingan antara kedua perusahaan akan semakin menarik untuk diikuti, terutama dalam hal pengembangan teknologi, penghimpunan modal, dan upaya memenuhi ekspektasi investor.
Target pendapatan Rp1.253 triliun memperlihatkan besarnya ambisi OpenAI dalam mengembangkan bisnis AI hingga akhir 2026. Namun, kamu perlu memahami bahwa angka tersebut merupakan proyeksi pendapatan tahunan yang disetahunkan, bukan jaminan pendapatan final ataupun keuntungan bersih perusahaan.
Perbedaan metode perhitungan pendapatan, kebutuhan pendanaan hingga ratusan triliun rupiah, dan ekspektasi investor menjadi faktor penting dalam membaca perkembangan bisnis OpenAI. Sementara itu, tekanan pada saham teknologi mengingatkan kita bahwa potensi besar industri AI tetap disertai risiko dan ketidakpastian yang perlu diperhatikan.