Kenapa OpenAI Menunda IPO hingga 2027? Ini Alasannya

- CEO Sam Altman memastikan OpenAI tidak akan IPO pada 2026, meski telah mengajukan dokumen S-1 rahasia; 2027 menjadi kemungkinan paling cepat tanpa jadwal pasti.
- Penundaan dilakukan agar OpenAI dapat memprioritaskan keamanan dan alignment AI, di tengah perhatian besar terhadap risiko teknologi canggih sebelum menghadapi tekanan sebagai perusahaan publik.
- OpenAI tidak terdesak modal berkat pendanaan privat besar, sekaligus perlu memperkuat bisnis dan mempertimbangkan valuasi sekitar US$1 triliun serta tuntutan investor publik.
OpenAI sempat diperkirakan akan melantai di bursa pada 2026 setelah perusahaan mengajukan dokumen awal IPO kepada regulator Amerika Serikat. Namun, rencana tersebut kini tidak akan terealisasi tahun ini setelah CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa perusahaan tidak akan melakukan IPO pada 2026. Kondisi ini membuat 2027 mulai disebut sebagai waktu paling cepat bagi OpenAI untuk masuk bursa.
Keputusan tersebut cukup menarik karena OpenAI merupakan salah satu perusahaan teknologi paling bernilai di dunia dan masih membutuhkan dana besar untuk mengembangkan teknologi AI. Perusahaan juga tidak sedang berada dalam kondisi kekurangan modal sehingga tidak harus terburu-buru mencari dana dari pasar saham. Lantas, mengapa OpenAI memilih menunda IPO?
1. OpenAI ingin lebih fokus pada keamanan AI

ilustrasi menggunakan AI (freepik.com/frimufilms) Sam Altman mengatakan bahwa melakukan IPO pada 2026 merupakan keputusan yang kurang tepat karena OpenAI masih memiliki banyak pekerjaan terkait keamanan dan alignment AI. Alignment secara sederhana berarti memastikan sistem AI tetap bekerja sesuai tujuan dan nilai yang diharapkan manusia. Menurut Altman, perkembangan AI saat ini membuat persoalan keamanan menjadi semakin penting untuk ditangani.
Perusahaan AI juga menghadapi perhatian yang semakin besar dari pemerintah, peneliti, dan masyarakat terkait risiko teknologi yang semakin canggih. Altman bahkan mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya risiko ekstrem akibat AI perlu diperlakukan dengan sangat serius. Karena itu, OpenAI tampaknya ingin memberikan ruang bagi perusahaan untuk menangani persoalan tersebut sebelum menghadapi tekanan sebagai perusahaan publik.
2. OpenAI tidak sedang terdesak mencari modal

ilustrasi uang (pexels.com/Саша Алалыкин) IPO biasanya menjadi salah satu cara perusahaan mendapatkan dana dalam jumlah besar dari investor publik. Namun, OpenAI sudah memiliki akses terhadap pendanaan privat dalam jumlah sangat besar sehingga kebutuhan untuk segera menjual saham kepada publik menjadi lebih kecil. Kondisi tersebut memberikan perusahaan lebih banyak pilihan dalam menentukan kapan waktu yang tepat untuk IPO.
OpenAI juga secara resmi mengonfirmasi pada Juni 2026 bahwa perusahaan telah menyerahkan dokumen S-1 secara rahasia kepada regulator Amerika Serikat. Meski langkah tersebut menunjukkan persiapan menuju pasar saham, OpenAI saat itu menegaskan bahwa perusahaan belum menentukan kapan akan melanjutkan proses tersebut. Artinya, pengajuan dokumen tersebut belum berarti OpenAI sudah menetapkan jadwal IPO secara pasti.
3. OpenAI perlu mempertimbangkan nilai perusahaan yang sangat besar

ilustrasi ChatGPT (unsplash.com/Rolf van Root) Salah satu persoalan lain adalah bagaimana pasar akan menilai OpenAI ketika sahamnya pertama kali ditawarkan kepada publik. Sebelumnya, muncul laporan bahwa perusahaan mempertimbangkan valuasi sekitar US$1 triliun dalam rencana IPO. Nilai sebesar itu membuat ekspektasi terhadap kinerja OpenAI menjadi sangat tinggi.
Penundaan dapat memberikan waktu bagi OpenAI untuk memperkuat bisnis dan menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatannya dapat mendukung valuasi tersebut. Perusahaan juga dapat mengamati bagaimana pasar menerima IPO perusahaan teknologi AI lainnya sebelum menentukan waktu yang dianggap paling menguntungkan. Dengan begitu, OpenAI tidak harus terburu buru melantai ketika kondisi pasar belum sesuai dengan target perusahaan.
4. Menjadi perusahaan publik membawa tekanan yang berbeda

ilustrasi investasi saham (pexels.com/RDNE Stock project) Perusahaan publik harus menghadapi tuntutan investor terhadap pertumbuhan pendapatan, keuntungan, dan penggunaan modal. Kondisi tersebut dapat membuat keputusan bisnis menjadi lebih kompleks karena manajemen harus mempertimbangkan kepentingan pemegang saham selain rencana jangka panjang perusahaan. Bagi OpenAI, situasi ini menjadi penting karena pengembangan AI membutuhkan investasi yang sangat besar dan keputusan yang tidak selalu menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat.
Karena itu, menunda IPO dapat memberikan OpenAI lebih banyak ruang untuk menentukan arah bisnis tanpa tekanan pasar saham dalam jangka pendek. Altman juga menegaskan bahwa OpenAI tidak sedang terburu-buru melakukan IPO dan akan mempertimbangkannya ketika waktunya dianggap tepat. Artinya, 2027 lebih tepat dipandang sebagai kemungkinan paling cepat setelah 2026 dipastikan tidak menjadi tahun IPO, bukan sebagai jadwal yang sudah ditetapkan.
OpenAI memang sudah mengambil langkah menuju IPO dengan mengajukan dokumen secara rahasia kepada regulator. Namun, perusahaan kini memastikan bahwa pencatatan saham tidak akan dilakukan pada 2026 karena masih ingin berfokus pada keamanan AI dan berbagai persiapan bisnis. Jika kondisi mendukung, 2027 dapat menjadi kesempatan berikutnya, tetapi OpenAI belum memberikan tanggal pasti untuk melantai di bursa.





















