Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Panasnya Geopolitik Timur Tengah Tekan Rupiah ke Rp17.915

3 min read
Panasnya Geopolitik Timur Tengah Tekan Rupiah ke Rp17.915
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah ditutup di level Rp17.915 per dolar AS setelah melemah 28 poin pada perdagangan Kamis.

  • Ketegangan Timur Tengah dan kekhawatiran pasokan minyak menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah.

  • Pasar juga menanti arah suku bunga The Fed serta data klaim awal tunjangan pengangguran AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026). Rupiah sebenarnya sempat menguat saat perdagangan dibuka. Namun, penguatan tidak bertahan hingga akhir perdagangan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.915 per dolar AS, melemah 28 poin atau 0,16 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.887 per dolar AS.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.879 per dolar AS. Namun, rupiah kemudian berbalik melemah dan bergerak di kisaran Rp17.863-Rp17.920 per dolar AS sepanjang perdagangan.

  1. 1. Konflik Timur Tengah jadi perhatian pasar

    Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran membuat pelaku pasar kembali khawatir terhadap pasokan minyak dunia.

    Kekhawatiran tersebut meningkat setelah kelompok Houthi dilaporkan menyerang kilang minyak di Riyadh pada awal pekan ini. Padahal, pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah sempat meningkat pada September. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz bahkan sempat lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

    "Namun, ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz jalur yang sebelum perang mengangkut volume setara dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan bahan bakar global telah meningkat pada bulan Oktober seiring dengan konflik antara AS-Israel dan Iran yang memasuki bulan kedelapan," kata Ibrahim.

    Menurut dia, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz juga meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut terjadi ketika negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk berupaya meningkatkan ekspornya. Pada Rabu, United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil di perairan sekitar 51 mil laut sebelah utara Madinat ash Shamal, Qatar. Insiden tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa.

  2. 2. Pasar menunggu arah suku bunga AS

    Selain konflik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed juga menjadi perhatian pasar. Ibrahim mengatakan pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang. Perkiraan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen pada September lalu.

    Namun, peluang kenaikan suku bunga kembali pada Desember masih terbuka. Salah satu alasannya adalah kekhawatiran terhadap inflasi yang bisa kembali meningkat jika harga energi dunia tetap tinggi.

    "Hari ini fokus pasar akan tertuju pada data mingguan klaim awal tunjangan pengangguran yang kan dirilis malam nanti pukul 19.30 WIB," tutur Ibrahim.

    Data tenaga kerja menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS dan membantu pasar memperkirakan langkah The Fed selanjutnya.

  3. 3. Rupiah diprediksi bergerak melemah pada Jumat

    Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak naik-turun pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.910-Rp17.950 per dolar AS dan berpotensi kembali ditutup melemah.

    Sementara untuk sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More