PBB Peringatkan Krisis Pangan akibat Gangguan Pasokan Pupuk via Hormuz

- PBB memperingatkan krisis pangan di Asia dan Afrika jika AS dan Iran gagal menyepakati mekanisme pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan.
- Satuan tugas PBB menyiapkan pusat koordinasi di Oman untuk pelayaran aman pupuk; mekanisme dapat aktif 7–10 hari setelah kesepakatan kedua negara.
- Gangguan lebih dari enam bulan mengancam musim tanam, pasokan pangan, dan harga komoditas; perdagangan urea serta belerang global sangat bergantung pada Hormuz.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan potensi krisis ketahanan pangan di sejumlah wilayah Asia dan Afrika jika Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal menyepakati mekanisme pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan ke depan.
Mekanisme tersebut dirancang untuk memulihkan pengiriman pupuk melalui jalur strategis itu di tengah konflik yang telah menghambat pasokan selama lebih dari enam bulan.
1. PBB siapkan mekanisme pengiriman pupuk melalui Hormuz

Wakil Sekretaris Jenderal PBB Jorge Moreira da Silva (x.com/UNOPS_Chief) Dilansir Reuters, PBB membentuk satuan tugas pada Maret 2026 untuk memfasilitasi pengiriman pupuk melalui Selat Hormuz. Akan tetapi, mekanisme yang disusun belum dapat dijalankan karena AS dan Iran belum mencapai kesepakatan.
Rencana tersebut mencakup pusat koordinasi di Oman untuk mendaftarkan kapal dan mengatur pelayaran yang aman. Petugas PBB juga akan bekerja bersama otoritas setempat di pelabuhan kawasan Teluk Persia untuk memverifikasi pemuatan kargo. Selama pelayaran, kapal akan dilacak dan dapat menjalani pemeriksaan tambahan jika muncul kekhawatiran terhadap kapal atau muatannya.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB Jorge Moreira da Silva mengatakan bahwa mekanisme itu dapat diaktifkan dalam 7–10 hari setelah kedua negara mencapai kesepakatan. Menurutnya, pelayaran lima kapal per hari melalui Selat Hormuz saja dapat menjaga pasokan pupuk bagi negara-negara yang sangat membutuhkannya.
Ia menjelaskan, mekanisme PBB dapat berjalan bersamaan dengan perundingan AS dan Iran untuk mencapai kesepakatan menyeluruh yang menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Moreira da Silva mendesak kedua negara agar perundingan tersebut tidak menghalangi pelaksanaan mekanisme pengiriman pupuk.
2. Gangguan pasokan pupuk mengancam sektor pertanian

Teluk Persia (commons.wikimedia.org/Ali Rostami) Pengiriman pupuk dari kawasan Teluk Persia sebagian besar terhenti selama lebih dari enam bulan sejak bermulanya konflik. Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI) juga menyebut pupuk hanya mencakup bagian yang sangat kecil dari pengiriman yang kembali berlangsung selama gencatan senjata pada pertengahan Juni hingga pertengahan Juli 2026.
Sebelum konflik, sekitar sepertiga perdagangan urea global dan hampir separuh belerang yang diangkut melalui laut melewati Selat Hormuz. Urea merupakan pupuk yang banyak digunakan, sedangkan belerang menjadi salah satu bahan penting dalam produksi pupuk.
Dilansir Al Jazeera, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan pada Mei 2026 bahwa kelangkaan pupuk dapat memperketat pasokan pangan mulai akhir 2026 hingga 2027. Negara-negara yang sudah menghadapi krisis iklim atau masalah lainnya berisiko mengalami dampak lebih berat. Di Asia Selatan, petani juga menghadapi kenaikan biaya dan kelangkaan pupuk, sementara banyak negara di kawasan itu bergantung pada impor.
3. Gangguan Hormuz berisiko menaikkan harga komoditas

Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC) Menurut laporan Kamar Dagang Internasional (ICC) pada Agustus 2026, gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga komoditas naik hingga 81 persen untuk serealia, 66 persen untuk tanaman penghasil minyak, dan 30 persen untuk produk hewani.
Moreira da Silva juga memperingatkan bahwa keterlambatan melewati musim tanam dapat menurunkan produktivitas pertanian sekaligus memperbesar tekanan terhadap harga.
"Jika kita melewatkan musim tanam tersebut, produktivitas pertanian akan turun secara signifikan dan dampaknya terhadap harga akan meningkat drastis," ujar Moreira da Silva kepada Reuters di sela-sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.
AS dan Iran telah bertukar proposal melalui perantara sejak gencatan senjata sementara pada Juni 2026 berakhir. Namun, upaya membuka kembali Selat Hormuz masih terhambat oleh persyaratan Teheran dan desakan Washington agar program nuklir Iran dibahas sejak awal perundingan.




















