Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tantangan Geopolitik, Pemerintah dan Pertamina Perkuat Ketahanan Energi
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menjadi narasumber pada sesi Global Executive Talk “The End Of Easy Energy” saat acara 50th IPA Convex yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, Banten pada Rabu (20/5) (dok. Pertamina)
  • Pemerintah dan Pertamina memperkuat kolaborasi menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global yang memengaruhi stabilitas pasokan serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.

  • Pertamina menegaskan era easy energy telah berakhir, menekankan pentingnya peningkatan produksi migas domestik, diversifikasi energi, dan strategi jangka panjang menghadapi risiko gangguan pasokan global.

  • Kolaborasi strategis dan pemanfaatan teknologi seperti AI serta supercomputer menjadi kunci efisiensi eksplorasi, pengurangan risiko operasi, dan optimalisasi potensi energi nasional termasuk EOR.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemerintah Indonesia dan Pertamina memperkuat kolaborasi untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan geopolitik, geoekonomi, serta berakhirnya era easy energy yang memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
  • Who?
    Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mewakili pemerintah serta perusahaan dalam menyampaikan langkah strategis menghadapi dinamika industri energi global.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di ICE BSD City, Tangerang Selatan, dalam rangkaian acara IPA Convex ke-50 yang menjadi forum diskusi sektor minyak dan gas nasional maupun internasional.
  • When?
    Acara dilaksanakan pada 20 hingga 22 Mei 2026, bersamaan dengan sesi Global Executive Talk bertema “The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas”.
  • Why?
    Tindakan ini dilakukan untuk mengantisipasi ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik global, gangguan rantai pasok energi dunia, serta kebutuhan menjaga keberlanjutan pasokan energi domestik.
  • How?
    Pemerintah dan Pertamina memperkuat kerja sama strategis melalui peningkatan produksi migas domestik, pemanfaatan teknologi seperti AI dan supercomputer, serta kemitraan dengan perusahaan energi global guna meningkatkan efisiensi dan ketahanan energi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Di tengah kondisi geopolitik dan geoekonomi saat ini, Pemerintah Indonesia dan Pertamina memperkuat komitmen untuk kolaborasi dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa tantangan geopolitik, geoekonomi serta ketegangan politik global saat ini melahirkan ketidakpastian. Pandangan hampir semua negara melihat semakin tidak jelas arahnya akan ke mana.

"Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang sedang bertikai, tapi hampir semua negara, bahkan hampir semua rakyat dunia, termasuk di Indonesia. Tetapi Indonesia harus saya sampaikan bahwa dari kondisi geopolitik-geoekonomi yang tidak menentu, tumbuh ekonomi pada kuartal pertama," kata Bahlil pada pembukaan IPA Convex ke-50 yang berlangsung di Ice BSD City pada 20–22 Mei 2026.

Bahlil juga menjelaskan bahwa hampir semua negara sekarang berpikir untuk melindungi negaranya masing-masing. Hal ini dilakukan baik oleh negara yang mempunyai sumber minyak maupun yang tidak mempunyai sumber minyak.

"Namun kami bersyukur bahwa dalam kondisi seperti ini, atas arahan Presiden, harus segera mencari alternatif-alternatif energi lain yang tidak hanya mengedepankan BBM yang bersumber dari fosil. Ketika lifting kita tidak tercapai, maka harus ada cara lain yang kita harus lakukan," jelasnya.

1. Era easy energy sudah berakhir

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menjadi narasumber pada sesi Global Executive Talk “The End Of Easy Energy” saat acara 50th IPA Convex yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, Banten pada Rabu (20/5) (dok. Pertamina)

Senada dengan itu, Pertamina juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika industri energi global yang semakin kompleks seiring berakhirnya era easy energy, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta gangguan rantai pasok dunia.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Pertamina tetap optimis. Penguatan kolaborasi strategis, akselerasi penerapan teknologi, dan optimalisasi produksi energi domestik menjadi kunci menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

Hal tersebut disampaikan Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, dalam sesi Global Executive Talk bertema “The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas” di ajang yang sama.

“Pada dasarnya, memang era easy energy sudah berlalu. Namun jika kita melihat lebih jauh, khususnya di Indonesia, kita masih memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, praktisi industri energi, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” ujarnya.

Dalam paparannya, Oki juga menyoroti meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global, khususnya akibat ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi utama dunia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu volatilitas harga energi dan memengaruhi stabilitas pasokan energi global.

Menurut Oki, Pertamina memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional dengan memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi di seluruh Indonesia. Karena itu, respons strategis Indonesia tidak dapat hanya bergantung pada diversifikasi impor dan pengelolaan pasokan jangka pendek, tetapi juga perlu didukung peningkatan produksi minyak dan gas domestik.

“Hal pertama yang kami lakukan adalah meningkatkan dan memaksimalkan produksi domestik minyak dan gas,” katanya.

2. Kolaborasi menjadi strategi utama

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menjadi narasumber pada sesi Global Executive Talk “The End Of Easy Energy” saat acara 50th IPA Convex yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, Banten pada Rabu (20/5) (dok. Pertamina)

Selain penguatan produksi nasional, Pertamina juga menempatkan kolaborasi sebagai strategi utama untuk menghadapi tantangan industri energi yang semakin kompleks dan berisiko tinggi.

Oki mengatakan kemitraan memungkinkan perusahaan berbagi keahlian dan pengetahuan untuk mengurangi risiko bisnis. Saat ini, Pertamina juga memiliki kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan energi global. “Kami membutuhkan partnership. Kami memiliki banyak perusahaan mitra yang sangat andal,” katanya.

Di sisi lain, koordinasi dengan pemerintah dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan investasi energi. Ketika tingkat pengembalian investasi (rate of return) masih terbatas, diperlukan dukungan melalui perpanjangan masa kontrak, penyesuaian skema bagi hasil, maupun insentif fiskal.

3. Pemanfaatan teknologi dalam sektor energi

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menjadi narasumber pada sesi Global Executive Talk “The End Of Easy Energy” saat acara 50th IPA Convex yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, Banten pada Rabu (20/5) (dok. Pertamina)

Pemanfaatan teknologi juga dinilai semakin penting untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko operasi. Ia mencontohkan penggunaan supercomputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) oleh perusahaan energi global untuk mendukung proses eksplorasi dan pengambilan keputusan yang lebih akurat.

Di tengah sejumlah tantangan tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor energi, termasuk pada sumber daya migas nonkonvensional dan enhanced oil recovery (EOR). Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pertamina mendorong pengembangan teknologi produksi dan optimalisasi lapangan eksisting melalui berbagai pendekatan, termasuk chemical enhanced oil recovery (EOR) dan optimalisasi sumur produksi.

“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, engineer, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” tutupnya. (WEB)

Editorial Team