Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Emas Turun Setelah Cetak Rekor, Haruskah Investor Khawatir?

Harga Emas Turun Setelah Cetak Rekor, Haruskah Investor Khawatir?
Etalase yang memajang imitasi emas antam di Toko Butik Emas Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sebelum terkoreksi, membuat sebagian investor khawatir akan potensi kerugian jangka pendek.
  • Investor disarankan fokus pada tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan atau pensiun, bukan fluktuasi harga sesaat.
  • Strategi efektif meliputi pembelian bertahap, menghindari keputusan karena FOMO, serta memahami selisih harga beli dan jual agar investasi tetap optimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pergerakan harga emas dalam beberapa waktu terakhir terkoreksi setelah sempat menyentuh level tertinggi. Kondisi ini membuat sebagian investor yang membeli emas saat harga berada di puncak khawatir mengalami kerugian.

Padahal, jika tujuan investasi adalah menyiapkan dana pendidikan, dana darurat, biaya ibadah haji, atau kebutuhan jangka panjang lainnya, fluktuasi harga dalam jangka pendek seharusnya tidak menjadi pertimbangan utama.

Dilansir dari laman Pegadaian, investor yang memiliki tujuan investasi yang jelas umumnya akan lebih tenang menghadapi volatilitas harga. Fokus mereka bukan pada naik-turunnya harga emas dalam jangka pendek, melainkan pada pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, daripada terus menebak arah pergerakan harga emas, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan agar investasi tetap berjalan sesuai tujuan.

1. Tetapkan tujuan investasi sejak awal

ilustrasi emas batangan/emas antam (freepik)
ilustrasi emas batangan/emas antam (freepik)

Sebelum membeli emas, tentukan terlebih dahulu tujuan investasinya, apakah untuk dana pendidikan, persiapan pensiun, biaya ibadah haji, atau menjaga nilai aset.

Dengan tujuan yang jelas, kamu tidak akan mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga dalam jangka pendek.

2. Beli emas secara bertahap

Pengunjung membeli emas di Butik Emas Antam. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Pengunjung membeli emas di Butik Emas Antam. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Membeli emas secara rutin sesuai kemampuan finansial dapat membantu mengurangi risiko membeli pada harga yang terlalu tinggi. Strategi ini dikenal sebagai dollar cost averaging (DCA), yakni melakukan pembelian secara berkala tanpa bergantung pada kondisi pasar.

Dengan cara tersebut, harga rata-rata pembelian cenderung lebih stabil dan risiko salah menentukan waktu pembelian dapat diminimalkan.

3. Hindari membeli karena fomo

Emas Antam (logammulia.com)
Emas Antam (logammulia.com)

Ketika harga emas sedang naik, banyak investor tergoda untuk segera membeli karena khawatir kehilangan peluang atau fear of missing out (FOMO). Padahal, keputusan investasi yang didorong oleh emosi sering kali kurang objektif.

Lebih bijak jika tetap berpegang pada rencana investasi dan kebutuhan finansial yang telah ditetapkan sejak awal.

4. Pahami selisih harga jual dan harga beli

Emas antam logam mulia PT Antam Tbk (dok. Istimewa)
Emas antam logam mulia PT Antam Tbk (dok. Istimewa)

Dalam investasi emas, harga beli dan harga jual kembali (buyback) tidak selalu sama.

Karena itu, penting untuk memperhitungkan selisih keduanya agar memiliki ekspektasi yang realistis terhadap potensi keuntungan yang bisa diperoleh.

5. Mulailah investasi secara konsisten, jangan tunggu harga sempurna

Ilustrasi emas Antam. (IDN Times/Mhd Saifullah)
Ilustrasi emas Antam. (IDN Times/Mhd Saifullah)

Banyak orang menunda membeli emas karena berharap harganya akan turun lebih rendah. Padahal, tidak ada pihak yang mampu memprediksi pergerakan harga secara akurat setiap saat.

Daripada terus menunggu waktu yang dianggap paling ideal, memulai investasi secara konsisten sesuai kemampuan finansial justru menjadi strategi yang lebih efektif untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More