Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pertama Kali! Harga Solar Inggris Tembus £2 per Liter, Ini Dampaknya

5 min read
Pertama Kali! Harga Solar Inggris Tembus £2 per Liter, Ini Dampaknya
ilustrasi isi bensin, BBM, energi, SPBU (pexels.com/ClickerHappy)

Harga solar di Inggris akhirnya menembus angka 2 pound per liter untuk pertama kalinya. Jika dikonversikan dengan kurs 1 pound setara Rp22 ribu, angka tersebut setara dengan sekitar Rp44 ribu per liter. Kenaikan ini terjadi ketika pasar energi global sedang menghadapi tekanan akibat gangguan produksi dan distribusi minyak dari sejumlah wilayah penting.

Kondisinya tentu terasa berat bagi masyarakat Inggris, terutama mereka yang setiap hari bergantung pada kendaraan diesel. Menariknya, dampak kenaikan harga solar gak berhenti pada biaya mengisi bahan bakar kendaraan, tapi juga bisa merembet ke berbagai aktivitas ekonomi.

Lantas, apa saja dampak kenaikan harga solar ini dan mengapa kondisi tersebut bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Inggris?

  1. 1. Harga solar Inggris tembus £2 per liter

    ilustrasi mata uang Pound sterling (pexels.com/Suzy Hazelwood)
    ilustrasi mata uang Pound sterling (pexels.com/Suzy Hazelwood)

    Rata-rata harga solar di Inggris kini mencapai 200,01 pence atau sekitar 2 pound per liter, setara dengan kurang lebih Rp44 ribu per liter. Angka tersebut menjadi rekor baru karena untuk pertama kalinya harga rata-rata bahan bakar diesel di negara itu melewati batas 2 pound. Pada waktu yang sama, harga bensin juga ikut naik hingga rata-rata 174,71 pence atau sekitar 1,75 pound per liter, setara dengan kurang lebih Rp38.500 per liter.

    Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena kendaraan diesel masih banyak digunakan oleh masyarakat dan pelaku usaha. Simon Williams dari RAC menilai angka 2 pound merupakan ambang harga yang sebenarnya gak ingin dilewati siapa pun. Menurutnya, kondisi ini akan sangat menantang bagi rumah tangga dan perusahaan yang memiliki mobilitas tinggi, termasuk pekerja komuter, perusahaan angkutan, bisnis pengiriman, pemilik armada besar, hingga pekerja mandiri.

  2. 2. Perang Iran ikut menekan pasokan minyak dunia

    ilustrasi tentara militer AS
    ilustrasi tentara militer AS (pexels.com/Matthew Hintz)

    Lonjakan harga solar ini gak terjadi begitu saja. Dalam tujuh bulan terakhir, perang Iran telah mengganggu produksi serta transportasi minyak mentah dan produk olahan dari kawasan tersebut. Gangguan pada rantai pasokan membuat harga minyak dan bahan bakar olahan ikut mengalami tekanan di pasar dunia.

    Situasi semakin rumit setelah serangan Ukraina terhadap fasilitas penyulingan minyak Rusia turut membatasi pasokan solar di pasar internasional. China juga membatasi ekspor bahan bakar olahan sehingga jumlah produk yang tersedia di pasar global semakin terbatas. Ketika pasokan berkurang sementara kebutuhan tetap ada, tekanan terhadap harga pun semakin besar dan akhirnya ikut dirasakan konsumen di Inggris.

  3. 3. Isi tangki mobil keluarga kini makin mahal

    ilustrasi lalu lintas di kota London, Inggris, Eropa, perkotaan, crowd, pejalan kaki
    ilustrasi lalu lintas di kota London, Inggris, Eropa, perkotaan, crowd, pejalan kaki (pexels.com/Gawon Lee)

    Kenaikan harga solar membuat biaya perjalanan sehari-hari ikut membengkak. RAC memperkirakan pengisian penuh mobil keluarga rata-rata yang menggunakan diesel kini membutuhkan sekitar 110 poundsterling atau Rp2,42 juta. Angka tersebut hampir 32 pound atau sekitar Rp704 ribu lebih mahal dibandingkan biaya pengisian pada awal perang Amerika Serikat dan Iran.

    Kondisi serupa juga dialami pengguna mobil bensin. Biaya mengisi penuh mobil bensin tipikal telah mencapai sekitar £96,09 atau Rp2,11 juta, meningkat 23,03 pound atau sekitar Rp507 ribu sejak Februari. Bagi orang yang harus berkendara setiap hari untuk bekerja, sekolah, atau menjalankan usaha, kenaikan beberapa ratus ribu rupiah dalam sekali pengisian tentu bisa membuat pengeluaran bulanan semakin berat.

  4. 4. Dampaknya bisa merembet ke harga barang

    ilustrasi pengiriman barang, logistik
    ilustrasi pengiriman barang, logistik (pexels.com/Tiger Lily)

    Kamu mungkin berpikir bahwa masalah ini hanya dirasakan pemilik kendaraan diesel. Padahal, kenaikan harga bahan bakar dapat menciptakan efek berantai karena banyak aktivitas ekonomi membutuhkan kendaraan untuk mengangkut barang dan bahan baku. Ketika ongkos transportasi meningkat, perusahaan bisa menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi.

    Petani di Norfolk, Mark Means, bahkan mengaku sangat khawatir dengan lonjakan biaya diesel. Ia telah mengeluarkan 50 ribu pound atau sekitar Rp1,1 miliar untuk membeli tangki diesel baru agar memiliki persediaan yang cukup selama musim tanam dan panen. Namun, harga bahan bakar yang terus naik tetap memangkas margin keuntungan usahanya.

    Efek serupa juga dirasakan instruktur mengemudi di Leicester, Steven Tompkins. Ia mengatakan kenaikan harga bahan bakar membuat tarif les mengemudi harus dinaikkan karena biaya operasional ikut meningkat. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana kenaikan harga energi akhirnya dapat memengaruhi konsumen yang bahkan gak membeli solar secara langsung.

  5. 5. G7 siapkan langkah untuk meredam kenaikan harga

    ilustrasi London, Inggris, Eropa
    ilustrasi London, Inggris, Eropa (pexels.com/Daria Agafonova)

    Tekanan terhadap pasar energi membuat negara-negara G7 mengambil langkah darurat. Dalam sebuah pertemuan khusus, negara-negara anggota G7 sepakat melepaskan 100 juta barel minyak untuk membantu menahan kenaikan harga energi. Langkah ini diharapkan dapat menambah pasokan minyak di pasar global, terutama ketika produksi dan distribusinya sedang terganggu.

    G7 juga sepakat untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor di antara negara anggotanya. Keputusan tersebut menjadi penting setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengancam melarang pengiriman solar dari AS ke luar negeri. Jika larangan tersebut diberlakukan, pasokan global bisa semakin ketat dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga solar.

    Di sisi lain, pemerintah Inggris berusaha menenangkan masyarakat dengan menegaskan bahwa negara memiliki pasokan yang beragam dan cukup tangguh. Pemerintah juga mengatakan terus berkoordinasi dengan mitra internasional serta industri bahan bakar. Mereka menegaskan bahwa saat ini gak ada alasan untuk mengkhawatirkan kemungkinan kekurangan solar.

    Harga solar Inggris yang akhirnya menembus 2 pound atau sekitar Rp44 ribu per liter menunjukkan betapa cepat gangguan energi global bisa terasa sampai ke pengeluaran rumah tangga. Dampaknya juga dapat menjalar ke biaya transportasi, distribusi barang, pertanian, hingga berbagai aktivitas bisnis.

    Kondisi ini menjadi tantangan besar terutama bagi orang dan perusahaan yang sangat bergantung pada kendaraan untuk bekerja. Jika tekanan terhadap pasokan energi terus berlangsung, biaya operasional dan pengeluaran masyarakat berpotensi ikut semakin tinggi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More