ilustrasi London, Inggris, Eropa (pexels.com/Daria Agafonova)
Tekanan terhadap pasar energi membuat negara-negara G7 mengambil langkah darurat. Dalam sebuah pertemuan khusus, negara-negara anggota G7 sepakat melepaskan 100 juta barel minyak untuk membantu menahan kenaikan harga energi. Langkah ini diharapkan dapat menambah pasokan minyak di pasar global, terutama ketika produksi dan distribusinya sedang terganggu.
G7 juga sepakat untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor di antara negara anggotanya. Keputusan tersebut menjadi penting setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengancam melarang pengiriman solar dari AS ke luar negeri. Jika larangan tersebut diberlakukan, pasokan global bisa semakin ketat dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga solar.
Di sisi lain, pemerintah Inggris berusaha menenangkan masyarakat dengan menegaskan bahwa negara memiliki pasokan yang beragam dan cukup tangguh. Pemerintah juga mengatakan terus berkoordinasi dengan mitra internasional serta industri bahan bakar. Mereka menegaskan bahwa saat ini gak ada alasan untuk mengkhawatirkan kemungkinan kekurangan solar.
Harga solar Inggris yang akhirnya menembus 2 pound atau sekitar Rp44 ribu per liter menunjukkan betapa cepat gangguan energi global bisa terasa sampai ke pengeluaran rumah tangga. Dampaknya juga dapat menjalar ke biaya transportasi, distribusi barang, pertanian, hingga berbagai aktivitas bisnis.
Kondisi ini menjadi tantangan besar terutama bagi orang dan perusahaan yang sangat bergantung pada kendaraan untuk bekerja. Jika tekanan terhadap pasokan energi terus berlangsung, biaya operasional dan pengeluaran masyarakat berpotensi ikut semakin tinggi.