Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pertumbuhan Ekonomi Global Diproyeksi Melambat Jadi 2,6 Persen

3 min read
Pertumbuhan Ekonomi Global Diproyeksi Melambat Jadi 2,6 Persen
ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Anna Shvets)
  • UNCTAD memproyeksikan ekonomi global tumbuh 2,6 persen pada 2026, turun dari 2,9 persen, sementara negara berkembang melambat menjadi 4 persen di tengah guncangan energi Timur Tengah.
  • Perdagangan global diperkirakan tumbuh sekitar 4 persen pada 2026, didorong harga energi; perdagangan China-AS merosot lebih dari 20 persen sejak 2024, sementara Asia Timur memperluas koneksi dagang.
  • Asia diproyeksikan menyumbang 59 persen pertumbuhan global, dengan India 7,3 persen, Indonesia 5,2 persen, dan China 4,5 persen; UNCTAD menyoroti risiko finansial dari konsentrasi industri AI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pertumbuhan ekonomi global kemungkinan melambat menjadi 2,6 persen pada 2026, turun dari 2,9 persen pada tahun lalu. Perlambatan ini terjadi saat guncangan energi akibat krisis di Timur Tengah menguji ketahanan perekonomian global.

Hal tersebut disampaikan oleh badan perdagangan dan pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) di Jenewa pada Jumat (9/10/2026) melalui laporan Trade and Development Report 2026. Dalam laporan yang sama, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang diproyeksikan melandai menjadi 4 persen pada tahun ini dari 4,7 persen pada 2025.

  1. 1. Lonjakan harga energi dan pergeseran perdagangan

    ilustrasi pesawat kargo
    ilustrasi pesawat kargo (unsplash.com/Patrick Campanale)

    Perdagangan barang dan jasa diproyeksikan tumbuh sekitar 4 persen pada harga konstan sepanjang 2026. Kenaikan nilai perdagangan yang diproyeksikan tersebut didorong oleh harga komoditas energi yang lebih tinggi. Pada 2025, nilai perdagangan global tercatat sempat menyentuh rekor 35 triliun dolar AS atau setara Rp626.080 triliun (kurs Rp17.888).

    UNCTAD menilai bahwa guncangan energi saat ini menegaskan perlunya diversifikasi pasokan energi. Mengatasi hambatan energi dan pasokan dinilai lebih efektif meredam inflasi berbasis pasokan dibandingkan penerapan pengetatan moneter dan fiskal yang luas. Pada saat bersamaan, transaksi perdagangan antara China dan Amerika Serikat telah merosot lebih dari 20 persen sejak 2024.

    Meskipun perdagangan dua negara adidaya itu menyusut, Asia Timur tercatat memperluas perdagangannya dengan China maupun Amerika Utara. "Pengendalian ekspor, penyaringan investasi, dan persyaratan rantai pasokan membuat sektor-sektor strategis semakin sulit diakses oleh pelaku usaha baru," sebut UNCTAD sebagaimana dilaporkan The Economic Times.

  2. 2. Kontribusi kawasan Asia dan dinamika sektor AI

    ilustrasi AI
    ilustrasi AI (pexels.com/Aerps.com)

    Kawasan Asia diproyeksikan menyumbang 59 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi global pada 2026. Pada kawasan tersebut, pertumbuhan ekonomi India diperkirakan berada pada angka 7,3 persen, Indonesia sebesar 5,2 persen, dan China sebesar 4,5 persen. Asia Timur juga berada di pusat ekspansi pesat sektor manufaktur semikonduktor serta komputasi canggih.

    Produk kecerdasan buatan (AI) seperti semikonduktor kini menjadi pendorong utama dari perdagangan barang dagangan. Kendati demikian, UNCTAD mengingatkan bahwa kenaikan perdagangan terkait AI tidak serta-merta menghasilkan manfaat pembangunan yang luas.

    Badan PBB tersebut turut memperingatkan bahwa ledakan industri AI membawa risiko terhadap stabilitas finansial. Risiko ini muncul karena pasar menjadi semakin terpapar hanya pada beberapa perusahaan saja. Pihak UNCTAD sendiri tidak menyebutkan nama-nama korporasi yang dimaksud di dalam laporannya.

  3. 3. Prakiraan pertumbuhan dari Bank Dunia dan IMF

    ilustrasi grafik statistik ekonomi
    ilustrasi grafik statistik ekonomi (pexels.com/Monstera Production)

    Bank Dunia pada Juni telah memangkas perkiraan pertumbuhan global menjadi 2,5 persen akibat perang di Timur Tengah. Lembaga multilateral tersebut juga memproyeksikan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia hingga ke level 1,3 persen dalam skenario terburuknya.

    Di sisi lain, International Monetary Fund (IMF) sedikit lebih optimistis dengan memproyeksikan pertumbuhan sebesar 3 persen. Walaupun begitu, laporan Reuters mencatat IMF tetap menandai perang Iran, fragmentasi perdagangan, serta potensi koreksi pasar terkait AI sebagai faktor risiko.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More