Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Mentok 3 Persen di Akhir Tahun

BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Mentok 3 Persen di Akhir Tahun
ilustrasi berita pergerakan pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Markus Spiske)
  • Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2026 hanya sekitar 3 persen, tertekan ketidakpastian pasar keuangan dan konflik Timur Tengah yang menaikkan harga minyak serta komoditas.
  • Inflasi global diperkirakan bertahan sekitar 4,5 persen pada 2026, berpotensi mendorong pengetatan moneter; The Fed juga diproyeksikan menaikkan FFR pada kuartal IV.
  • Ketidakpastian global mengurangi minat investor pada emerging market dan menopang dolar AS; BI menilai sinergi fiskal-moneter penting untuk menjaga stabilitas serta pertumbuhan domestik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 masih terbatas di kisaran 3 persen. Destry mengatakan, prospek ekonomi global masih lemah di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.

Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas global.

“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat, yang diperkirakan sekitar 3 persen,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Agustus 2026, Rabu (19/8/2026).

  1. 1. Tekanan inflasi global diproyeksi masih tinggi

    Screenshot_20260819_142621_YouTube.jpg
    Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memimpin perdama Rapat Perdana Dewan Gubernur (RDG) BI. (Dok/Istimewa)

    Di sisi lain, tekanan inflasi global diperkirakan masih tinggi, yakni sekitar 4,5 persen pada 2026.

    Kondisi tersebut berpotensi mendorong bank sentral global menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

  2. 2. Suku bunga The Fed diproyeksi akan naik kuartal IV

    Gedung Federal Reserve (Instagram/the Fed)
    Gedung Federal Reserve (Instagram/the Fed)

    Destry memperkirakan suku bunga acuan Amerika Serikat, Fed Funds Rate (FFR), berpotensi kembali naik pada kuartal IV 2026. Kenaikan FFR tersebut juga diperkirakan membuat imbal hasil atau yield US Treasury tetap tinggi.

    "Hal ini sejalan dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed serta defisit anggaran Amerika Serikat yang masih lebar," jelasnya.

  3. 3. Ketidakpastian pasar keuangan global masih menahan preferensi investor

    ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
    ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

    Lebih lanjut, Destry menjelaskan ketidakpastian pasar keuangan global juga menahan preferensi investor terhadap investasi portofolio di negara-negara emerging market.

    Alhasil, dolar AS masih cenderung kuat terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang.

    Menurut Destry, kondisi global tersebut membuat penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi penting.

    "Langkah ini diperlukan untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik," tegasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More