Bogor, IDN Times – Program swasembada pangan yang digelorakan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan hasil yang signifikan. Direktur Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO Biotrop), Edi Santosa, memperkirakan surplus beras tahun ini dapat mencapai hingga 8 juta ton jika panen berjalan baik.
Langkah besar ini menjadi pencapaian krusial bagi kedaulatan bangsa. Namun, Edi mengingatkan bahwa melimpahnya stok ini harus dibarengi dengan manajemen distribusi dan teknologi simpan yang canggih agar nutrisi beras tidak merosot tajam.
Keberhasilan Presiden Prabowo dalam mengamankan stok cadangan hingga jutaan ton adalah prestasi besar, tetapi Edi Santosa menekankan tantangan sesungguhnya ada pada "usia" beras tersebut. Beras diketahui memiliki masa prima yang singkat sebelum kualitasnya menurun secara alami.
"Beras memiliki masa prima hanya selama empat bulan; lebih dari itu, kualitasnya akan menurun secara alami. Percepatan distribusi menjadi kunci agar rakyat benar-benar menikmati beras segar, bukan beras yang sudah 'lelah' karena terlalu lama mendekam di gudang," tegas Edi saat diwawancarai IDN Times, Jumat, (22/2/2026).
Prediksi Surplus 8 Juta Ton, Indonesia Hadapi Penurunan Kualitas Beras

Intinya sih...
Skema paket bundling dan penggunaan dua warna tote bagKPPG BGN Bogor menerapkan sistem Paket Bundling dan Take-Away selama libur sekolah dan Lebaran. Penerima manfaat wajib membawa kembali kantong yang diterima sehari sebelumnya sebagai syarat mendapatkan paket berikutnya.
Standar menu Ramadan, bebas menu pedas dan cepat basiBGN menginstruksikan SPPG untuk menyajikan menu yang aman secara ketahanan pangan. Rekomendasi menu meliputi telur asin, abon, dendeng kering, buah-buahan, serta kurma.
Operasional 100 SPPG untuk 250 Ribu penerima di Kota BogorHingga saat ini, sudah ada 100 SPPG yang telah
1. Menjaga vitamin dan hormon agar tak jadi "tepung" semata
Menurut Edi, visi Presiden untuk menciptakan generasi sehat harus didukung dengan kualitas pangan yang utuh. Ia menjelaskan bahwa beras bukan sekadar sumber kenyang, melainkan sumber mineral dan hormon penting yang dibutuhkan tubuh.
Sayangnya, kandungan nutrisi inilah yang pertama kali hilang akibat proses penuaan (aging) jika penyimpanan melampaui masa primanya.
"Tanpa pengawasan ketat, masyarakat dikhawatirkan hanya mengonsumsi sisa-sisa tepung tanpa manfaat gizi maksimal," ungkap Edi.
2. Risiko 'aging' pada surplus 8 juta ton
Menurut Edi, prediksi surplus beras hingga 8 juta ton adalah bukti nyata keberhasilan program swasembada. Akan tetapi, dengan tumpukan beras yang mencapai 4,2 juta ton di gudang saat ini, diperlukan teknologi perawatan yang ekstra tinggi.
Edi memaparkan bahwa jika beras disimpan lebih dari satu atau dua tahun dengan metode biasa, maka "tenaga" atau energi di dalam butiran beras akan habis.
Hal ini menyisakan komoditas yang secara nutrisi sudah tidak lagi ideal untuk dikonsumsi sebagai pangan sehat yang menunjang produktivitas.
3. Modernisasi gudang: pelengkap mutlak swasembada
Edi berpendapat, apresiasi terhadap peningkatan produksi harus dibarengi dengan pembaruan infrastruktur gudang yang selama ini masih dianggap konvensional. Edi menyoroti gudang konvensional di Indonesia yang dinilai masih sangat rawan terhadap kelembapan serta serangan hama.
"Berbeda dengan negara maju yang menggunakan kontrol suhu dan kelembapan, gudang kita masih rawan. Modernisasi fasilitas pendingin menjadi syarat mutlak agar ambisi swasembada Presiden Prabowo menghasilkan pangan berkelas dunia yang tetap sehat dan higienis," tutup Edi Santosa.