Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Produsen Makanan Jepang Beralih ke Kemasan Monokrom
Ilustrasi produk makanan ringan Jepang, Calbee. (unsplash.com/Tanya Barrow)
  • Produsen makanan Jepang seperti Calbee, Fujiya, dan Itoham beralih ke kemasan monokrom untuk menghemat tinta akibat lonjakan harga bahan baku berbasis minyak bumi.
  • Langkah efisiensi ini juga dimanfaatkan perusahaan seperti Aeon untuk mengurangi penggunaan plastik dan memperkuat strategi keberlanjutan di tengah krisis energi global.
  • Pemerintah Jepang menanggapi krisis nafta dengan meningkatkan impor dari luar Timur Tengah serta memastikan pasokan minyak dan produk petrokimia tetap stabil sepanjang tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dampak krisis energi dan rantai pasokan akibat konflik di Timur Tengah kini mulai berdampak pada rak-rak supermarket di Jepang. Sejumlah produsen makanan ringan terpaksa mengganti kemasan warna-warni mereka dan beralih ke desain monokrom demi menghemat tinta.

Raksasa makanan ringan Jepang, Calbee Inc, memelopori langkah ini dengan meluncurkan produk andalannya, seperti kerupuk udang Kappa Ebisen dan kripik kentang, dalam kemasan hitam-putih di Tokyo sejak 1 Juni 2026. Kemasan baru ini diberi label khusus paket hemat minyak dan tidak lagi menampilkan foto produk, melainkan hanya ilustrasi sederhana.

Secara total, Calbee menerapkan kebijakan tersebut pada 14 produk utamanya untuk memastikan stabilitas pasokan produk. Tinta cetak dan bahan kemasan plastik bergantung pada nafta, bahan baku berbasis minyak bumi yang harganya meningkat dan pasokannya terganggu akibat krisis energi global, dilansir Kyodo News.

1. Efisiensi yang dilakukan oleh perusahaan lainnya

Potret minimarket FamilyMart. (unsplash.com/ayumi kubo)

Tidak hanya Calbee, langkah efisiensi ini juga mulai diikuti oleh sejumlah korporasi besar di Jepang. NHK News melaporkan pada Sabtu (6/6/2026) bahwa produsen permen terkemuka, Fujiya Co, akan mengurangi penggunaan warna pada kemasan produk populer seperti biskuit Country Ma'am dan Fujiya Home Pie mulai awal Juli sebagai respons terhadap lonjakan harga tinta.

Di saat yang sama, rangkaian produk baru dari Itoham Foods hanya akan menggunakan tiga warna pada kemasan. Perusahaan tersebut juga berencana menyederhanakan desain kemasan produk-produk lama.

"Harga sedang naik. Kemasan baru mungkin tampak agak aneh, tetapi mungkin akan memiliki nilai kebaruan," kata Yuko Nakajima, eksekutif Itoham Yonekyu.

Kebijakan serupa diterapkan oleh Kagome, yang merombak desain kemasan saus tomatnya dengan mengurangi elemen visual berwarna. Sementara itu, jaringan toko serba ada FamilyMart Co akan secara bertahap mengubah kemasan merek privat mereka, Famimaru, menjadi hitam-putih mulai musim panas tahun ini. Perubahan tersebut diawali dari produk sandwich dan disertai pengurangan warna pada kemasan onigiri (bola nasi).

Upaya penghematan biaya juga dilakukan oleh Pan Pacific International Holdings Corp, operator jaringan toko diskon Don Quijote. Sejauh ini, perusahaan tersebut telah menjual 26 item merek privat mereka, termasuk air minum dan tisu, dalam kemasan monokrom untuk menekan biaya operasional.

2. Penghematan tinta dan redesain ramah lingkungan

Ilustrasi rak-rak minimarket. (unsplash.com/Joan Tran)

Sebagian besar kemasan makanan berwarna di Jepang menggunakan teknik cetak gravure, yang bergantung pada pelarut organik berbahan dasar minyak bumi. Menurut Asosiasi Produsen Tinta Cetak Jepang, meski kekhawatiran kelangkaan mulai mereda dibandingkan awal krisis, harga bahan baku tetap melonjak tinggi.

Selain mengatasi kenaikan biaya produksi, sejumlah perusahaan memanfaatkan situasi ini untuk mengurangi penggunaan plastik dan meninjau kembali strategi keberlanjutan mereka. Aeon Co, misalnya, memangkas penggunaan plastik hingga sekitar 40 persen pada beberapa produk merek Topvalu dengan mengganti kemasan berbasis nampan menjadi kantong.

"Krisis ini memberi kami kesempatan untuk meninjau kembali pendekatan kami terhadap isu lingkungan," ujar Mitsuko Tsuchiya, presiden pengelola Topvalu, dilansir Asahi Shimbun.

Meski perubahan visual ini sempat mengejutkan konsumen, respons di pasar cenderung positif. Beberapa pembeli di Tokyo mengaku desain minimalis ini justru menarik perhatian dan dapat menjadi pemantik diskusi keluarga mengenai isu sosial serta lingkungan global.

3. Upaya pemerintah Jepang mengatasi krisis nafta

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (x.com/takaichi_sanae)

Sebelum pengumuman tersebut, para pejabat perusahaan mengunjungi kementerian pertanian, guna menjelaskan keputusan mengubah kemasan. Kementerian tersebut merespons dengan mengatakan bahwa pihaknya akan menanggapi konsultasi mengenai pengadaan produk minyak bumi, bersama dengan kantor-kantor pemerintah untuk bisnis industri makanan.

Bulan lalu, kementerian perdagangan mengakui bahwa ada masalah pasokan. Namun, para pejabat mengatakan Jepang kemungkinan akan memiliki cukup produk turunan nafta untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan bahwa Jepang akan meningkatkan impor tiga kali lipat dari Amerika Serikat, Aljazair, dan negara lain di luar Timur Tengah. Ia juga menginstruksikan para menterinya untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang memadai, serta untuk memastikan pasokan minyak mentah dan produk petrokimia tetap berada pada tingkat yang setara dengan tahun sebelumnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article