Area gudang pupuk Indonesia (Dok/Pupuk Indonesia).
Pada tahap awal, SEAFA didirikan oleh tiga produsen pupuk di Asia Tenggara, yaitu Pupuk Indonesia dari Indonesia, Petronas Chemicals Group dari Malaysia, dan Brunei Fertilizer Industries dari Brunei Darussalam.
Dalam kesepakatan tersebut, para anggota menyetujui bahwa Brunei Darussalam akan menjadi lokasi kantor sekretariat utama asosiasi. Sementara dari sisi struktur organisasi, Pupuk Indonesia ditunjuk sebagai Chairman pertama SEAFA, dengan Petronas Chemicals Group sebagai Co-Chairman. Posisi ketua asosiasi selanjutnya akan dipilih secara bergilir dengan masa jabatan selama satu tahun.
"Ke depan, SEAFA diharapkan dapat berkembang menjadi platform kolaborasi strategis bagi industri pupuk di kawasan, termasuk sebagai wadah berbagi pengetahuan dan inovasi dalam praktik produksi berkelanjutan, pengembangan teknologi rendah karbon, serta digitalisasi rantai pasok pupuk," tuturnya.
Dengan demikian, organisasi ini juga diharapkan menjadi representasi bersama industri pupuk Asia Tenggara dalam berbagai forum regional dan internasional yang berkaitan dengan ketahanan pangan, industri berkelanjutan, serta agenda perubahan iklim.
Dalam jangka panjang, SEAFA juga terbuka untuk memperluas kolaborasi dengan lebih banyak produsen pupuk dari negara-negara ASEAN lainnya. Dengan demikian, asosiasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi industri pupuk kawasan sekaligus meningkatkan kontribusi ASEAN dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk dan ketahanan pangan global.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono juga menegaskan bahwa kolaborasi antar negara menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan, terutama di tengah dinamika geopolitik global. Kerja sama tersebut perlu dibangun secara berkelanjutan, termasuk melalui forum internasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan termasuk negara-negara sahabat.
“Kita ingin relasi ini kita bangun dengan baik, bukan hanya kebutuhan sesaat. Pupuk ini bukan hanya urusan industri pupuk, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Sehingga, kita tidak bisa (berjalan) sendiri-sendiri, kita harus kolaborasi (antar negara),” kata dia.