Comscore Tracker

Tiongkok Ngamuk ke Trump karena 3 Perusahaannya Didepak dari Bursa AS

Tiongkok mengatakan akan mengambil tindakan yang diperlukan

Jakarta, IDN Times – Bursa saham New York (NYSE) telah memulai proses penghapusan (delisting) tiga perusahaan telekomunikasi Tiongkok pada awal tahun ini. Langkah itu dilakukan mengikuti arahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang melarang orang AS berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer Tiongkok.

Menanggapi langkah tersebut, pemerintah Tiongkok melalui kementerian perdagangan, mengatakan akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingan perusahaannya.

Kementerian Perdagangan juga mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa delisting itu merupakan penyalahgunaan keamanan nasional dan tidak sesuai dengan aturan pasar.

“China menentang Amerika karena menyalahgunakan keamanan nasional dengan memasukkan perusahaan China ke dalam apa yang disebut ‘Perusahaan Militer China Komunis’ dan akan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingan yang sah dari perusahaan China,” kata seorang juru bicara kementerian pada Sabtu (2/1/2021), menurut Channel News Asia.

“Tindakan tersebut juga akan sangat melemahkan kepercayaan semua pihak terhadap pasar modal AS,” tambahnya, tanpa merinci tindakan apa yang mungkin dilakukan.

Baca Juga: Biden Tuding Trump Rusak Badan-badan Keamanan AS

1. Delisting dari bursa AS

Tiongkok Ngamuk ke Trump karena 3 Perusahaannya Didepak dari Bursa ASSeorang pria membawa bendera China dari sebuah rumah di seberang Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Chengdu, provinsi Sichuan, China, Minggu (26/7/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter)

Pada Kamis lalu, NYSE mengatakan bahwa mereka akan mulai menghapus China Mobile, China Unicom, dan China Telecom sebagai tanggapan atas keputusan Trump yang melarang investasi AS di perusahaan yang dimiliki atau dikendalikan oleh militer Tiongkok. Perdagangan perusahaan akan ditangguhkan antara 7 Januari sampai 11 Januari, katanya.

“Perdagangan China Mobile Communications, China Telecommunications Corp dan China Unicom (Hong Kong) Limited akan berakhir minggu depan, tergantung pada transaksi yang diselesaikan,” kata bursa dalam sebuah pernyataan, Jumat.

2. Perintah eksekutif Trump

Tiongkok Ngamuk ke Trump karena 3 Perusahaannya Didepak dari Bursa ASPresiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan di pesawat Air Force One saat ia kembali dari New Hampshire ke Washington, Amerika Serikat, Jumat (28/8/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria)

Larangan bagi orang maupun perusahaan AS berinvestasi di perusahaan Tiongkok yang dianggap memasok atau mendukung aparat militer dan keamanan Tiongkok, tertuang dalam perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada November lalu.

Dalam perintah tersebut, ada 31 perusahaan Tiongkok yang dimasukkan dalam daftar perusahaan yang diyakini AS digunakan Tiongkok untuk mengeksploitasi modal investasi AS untuk mendanai dinas militer dan intelijen, termasuk pengembangan dan penyebaran senjata pemusnah massal. Langkah yang diumumkan Trump menjelang akhir masa jabatannya itu telah menarik kecaman dari Tiongkok.

3. Perselisihan AS-Tiongkok

Tiongkok Ngamuk ke Trump karena 3 Perusahaannya Didepak dari Bursa ASANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter

Kisruh soal penghapusan perusahaan Tiongkok dari NYSE itu terjadi ketika hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut sedang memanas. Kedua negara telah terlibat banyak perselisihan, mulai dari soal perang dagang, masalah penanganan COVID-19, sampai soal kebebasan di Hong Kong dan Xinjiang.

Semua perselisihan itu terjadi karena Trump memandang Tiongkok sebagai negara yang telah melakukan banyak praktik yang merugikan negaranya. Di bawah janji pemilunya, America First, Trump telah mengatakan akan menindak negara manapun yang merugikan AS, dan ia memandang Tiongkok sebagai ancaman terbesar bagi Amerika Serikat dan demokrasi global.

Baca Juga: Jelang Setahun Deal Dagang, Tiongkok Belum Penuhi Janji ke AS

Topic:

  • Rehia Sebayang
  • Anata Siregar

Berita Terkini Lainnya