Ia menjelaskan dalam uji kinerja selama 168 jam atau tujuh hari berturut-turut pada Agustus 2026, konsumsi energi Ammonia Pabrik-2 turun lebih dari 10 persen. Pada saat yang sama, kapasitas produksi amonia harian meningkat 4,18 persen.
Lebih rinci, konsumsi energi Ammonia Pabrik-2 turun dari 39,28 MMBTU menjadi 35,25 MMBTU per ton amonia. Artinya, terjadi penghematan sebesar 4,03 MMBTU per ton, melampaui target minimal penghematan sebesar 4,00 MMBTU per ton.
Efisiensi tersebut diproyeksikan menekan biaya produksi hingga 14,3 juta dolar AS atau sekitar Rp228 miliar per tahun.
"Selain efisiensi energi, kapasitas produksi amonia juga meningkat. Rata-rata produksi Ammonia Pabrik-2 kini mencapai 1.841 ton per hari, naik 4,18 persen dibandingkan kapasitas sebelumnya yang sebesar 1.767 ton per hari," tegasnya.
Peningkatan produksi tersebut diharapkan memperkuat ketersediaan amonia sebagai bahan baku utama produksi urea Pupuk Kaltim.
Adapun proyek revamping mencakup pembaruan shift converter, ammonia converter, dan CO2 removal system, serta integrasi Distributed Control System (DCS).
Proyek ini juga diproyeksikan mendukung upaya dekarbonisasi Pupuk Kaltim dengan menurunkan emisi sekitar 110.000 ton CO2 per tahun.