Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Revenge Spending: Saat Orang Belanja Lebih Banyak dari Biasanya
ilustrasi perempuan membawa banyak tas belanja (pexels.com/Sam Lion)
  • Revenge spending terjadi ketika konsumen kembali berbelanja setelah mengurangi pengeluaran akibat kondisi ekonomi buruk.

  • Pengeluaran yang meningkat dapat mendorong permintaan barang dan jasa, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan.

  • Contohnya, John berpotensi mengeluarkan uang lebih besar untuk bepergian setelah memiliki tambahan tabungan Rp75 juta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2020

John tidak dapat bepergian karena adanya pembatasan. Anggaran Rp75 juta untuk perjalanan tetap tersimpan.

2021

John kembali diperbolehkan bepergian. Ia berpotensi mengeluarkan uang lebih besar karena memiliki tambahan tabungan Rp75 juta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Revenge spending adalah kenaikan pengeluaran konsumen setelah sebelumnya mengurangi belanja akibat kondisi ekonomi buruk.
  • Who?
    Masyarakat atau konsumen, termasuk John dalam contoh pengeluaran wisata.
  • Where?
    Dalam pengeluaran konsumen, termasuk perjalanan atau wisata John berkeliling dunia.
  • When?
    Setelah kondisi ekonomi membaik dan perekonomian mulai stabil; contoh John terjadi pada 2021 setelah tidak bepergian pada 2020.
  • Why?
    Untuk mengganti kesempatan yang sempat hilang setelah konsumen sebelumnya mengurangi pengeluaran dan menambah tabungan.
  • How?
    Konsumen kembali berbelanja dengan pendapatan siap dibelanjakan atau tabungan yang lebih besar, tetapi perlu menyesuaikannya dengan kondisi keuangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Revenge spending terjadi saat orang kembali belanja setelah lama mengurangi pengeluaran karena keadaan ekonomi buruk. Mereka memakai uang yang sudah ditabung untuk membeli barang, memakai jasa, atau bepergian. John, orang yang suka jalan-jalan, bisa mengeluarkan uang lebih banyak pada 2021 karena tidak bepergian pada 2020. Pengeluaran itu tetap harus sesuai kemampuan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Revenge spending menunjukkan bahwa konsumen dapat kembali menikmati barang, jasa, atau pengalaman yang sebelumnya sulit diakses ketika kondisi ekonomi membaik. Peningkatan pengeluaran juga dapat mendorong permintaan terhadap barang dan jasa serta menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. Manfaat tersebut tetap berjalan jika pengeluaran disesuaikan dengan kemampuan keuangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Revenge spending atau belanja balas dendam menggambarkan kenaikan pengeluaran konsumen secara bertahap setelah terjadi peristiwa ekonomi buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dilansir Corporate Finance Institute, revenge spending muncul ketika masyarakat mulai kembali membelanjakan uang setelah sebelumnya mengurangi pengeluaran. Sederhananya, itu merupakan dorongan untuk mengeluarkan uang demi mengganti kesempatan yang sempat hilang.

1. Revenge spending muncul saat ekonomi mulai pulih

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi dan optimisme fiskal(https://www.freepik.com/free-photo/digital-increasing-bar-graph-with-businessman-hand-overlay_13312397.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=469933c9-44ea-4a3e-8543-158440a31f06&query=growth)

Revenge spending merupakan fenomena ketika konsumen mengeluarkan uang lebih banyak dari biasanya untuk membeli barang atau menggunakan jasa yang sebelumnya sulit dinikmati selama terjadi kondisi ekonomi buruk.

Pengeluaran konsumen yang meningkat di atas tingkat normal dapat mendorong permintaan terhadap barang dan jasa. Kondisi tersebut menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Fenomena ini biasanya berlangsung melalui beberapa tahap. Pertama, terjadi peristiwa ekonomi buruk yang membuat pengeluaran konsumen berhenti atau menurun.

Kedua, tingkat tabungan rumah tangga meningkat karena konsumen mengurangi pengeluaran. Ketiga, setelah kondisi membaik dan perekonomian mulai stabil, konsumen kembali berbelanja. Mereka memiliki pendapatan yang siap dibelanjakan atau disposable income lebih besar karena selama periode sebelumnya telah menabung lebih banyak.

2. Revenge spending tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan

ilustrasi mengeluarkan uang dari dompet, dolar AS, bayar tunai, cash (unsplash.com/Allef Vinicius)

Revenge spending dapat meningkatkan kepuasan konsumen dalam jangka pendek karena memberikan kesempatan untuk mengganti pengalaman yang hilang selama terjadi kondisi ekonomi buruk. Namun, pengeluaran tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan.

Revenge spending yang melampaui kemampuan dapat menimbulkan masalah keuangan dalam jangka panjang. Sebelum melakukan revenge spending, konsumen perlu mempertimbangkan terlebih dahulu utang yang masih harus dilunasi dan ketersediaan dana darurat.

3. Contoh revenge spending

ilustrasi seseorang yang memegang bundel uang (pexels.com/PRODUKSI MART)

Untuk memahami fenomena ini, misalnya ada seseorang bernama John yang gemar bepergian. Selama lima tahun terakhir, John mengalokasikan anggaran Rp75 juta setiap tahun untuk berkeliling dunia.

Pada 2020, John tidak dapat bepergian karena adanya pembatasan akibat kondisi yang terjadi saat itu. Dengan asumsi anggaran Rp75 juta tersebut tidak dialihkan untuk membeli barang atau menggunakan jasa lain, uang itu tetap tersimpan.

Artinya, tingkat tabungan rumah tangga John seharusnya meningkat karena ada Rp75 juta yang sebelumnya dialokasikan untuk perjalanan, tetapi tidak jadi digunakan.

Ketika John kembali diperbolehkan bepergian pada 2021, terdapat potensi terjadinya revenge spending. John dapat mengeluarkan uang lebih besar dari anggaran normalnya untuk bepergian karena memiliki tambahan tabungan Rp75 juta yang terkumpul selama periode tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article