Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mentan: RI Jadi Target Impor Beras Ilegal karena Tiba-tiba Swasembada
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/6/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)
  • Indonesia disebut menjadi sasaran impor beras ilegal setelah mencapai swasembada karena pasar dalam negerinya besar.

  • Selisih harga beras dinilai dapat menghasilkan keuntungan sekitar Rp5 triliun hingga Rp6 triliun dari penyelundupan 1 juta ton.

  • Bea Cukai mengamankan 30 kontainer beras dan garam dalam penindakan selama Agustus hingga September 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Agustus hingga September 2026

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan sejumlah penindakan impor ilegal. Bea Cukai mengamankan 30 kontainer berisi beras dan garam.

Selasa (22/9/2026)

Andi Amran Sulaiman menyampaikan keterangan dalam konferensi pers penindakan impor ilegal beras, garam, dan pakaian bekas di Jakarta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Penindakan impor ilegal beras dan garam menghasilkan pengamanan 30 kontainer yang tidak sesuai dengan pemberitahuan pabean.
  • Who?
    Andi Amran Sulaiman, Suahasil Nazara, dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terlibat dalam keterangan serta penindakan.
  • Where?
    Konferensi pers berlangsung di Kantor Pusat Bea dan Cukai, Jakarta. Kontainer ditemukan di Tanjung Priok dan kawasan berikat di Bogor.
  • When?
    Penindakan dilakukan selama Agustus hingga September 2026. Konferensi pers digelar Selasa (22/9/2026).
  • Why?
    Pasar Indonesia yang besar, daya beli yang meningkat, serta harga beras lebih rendah di negara lain disebut membuat penyelundupan menarik.
  • How?
    Bea Cukai mengamankan 15 kontainer di Tanjung Priok dan 15 kontainer di kawasan berikat di Bogor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pak Amran bilang Indonesia jadi incaran beras dari luar negeri yang masuk tanpa aturan setelah kita swasembada. Ia bilang harga beras di negara lain lebih murah. Bea Cukai lalu mengamankan 30 kontainer beras dan garam di Tanjung Priok dan Bogor pada Agustus hingga September 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penindakan terhadap 30 kontainer beras dan garam memperlihatkan adanya langkah untuk melindungi pasar dalam negeri. Keterangan mengenai nilai temuan di Tanjung Priok dan Bogor juga memberi gambaran konkret tentang barang yang diamankan, sementara perhatian pada pemberitahuan pabean menegaskan fokus pengawasan impor.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut Indonesia menjadi sasaran beras impor ilegal setelah mencapai swasembada. Menurut dia, pasar Indonesia yang besar membuat beras dari luar negeri tetap menarik untuk masuk secara ilegal.

"Indonesia incaran karena pasar terbesar tetapi tiba-tiba swasembada," katanya dalam konferensi pers penindakan impor ilegal beras, garam, dan pakaian bekas di Kantor Pusat Bea dan Cukai, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

1. Selisih harga beras bisa jadi keuntungan besar

ilustrasi beras dalam karung (pixabay.com/congerdesign)

Amran mengatakan harga beras yang lebih rendah di negara lain membuat pasar Indonesia menarik bagi penyelundup. Dia memperkirakan penyelundupan 1 juta ton beras dapat menghasilkan keuntungan sekitar Rp5 triliun hingga Rp6 triliun.

Menurut Amran, besarnya potensi keuntungan tersebut membuat Indonesia menjadi sasaran masuknya beras ilegal setelah tidak lagi mengimpor beras.

"Karena tidak ada jalan, ini harga beras menggiurkan. Kalau ekspor 1 juta, selundupkan 1 juta katakanlah, karena pasti ada yang lolos yang belum kelihatan. Nah itu Rp5 triliun, Rp6 triliun untungnya. Itu kan sangat menggiurkan. Karena nilainya cuma Rp5.000 di negara lain, Rp5.700," ujar dia.

2. Pasar Indonesia jadi sasaran

Ilustrasi pedagang beras di pasar (IDN Times/Besse Fadhilah)

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengatakan besarnya pasar Indonesia menjadi salah satu alasan terjadinya penyelundupan. Menurut dia, pasar dalam negeri memiliki jumlah konsumen yang besar dan daya beli masyarakat yang terus meningkat.

"Karena itu kita harus melindungi pasar kita. Pasar kita yang besar, pasar kita yang daya belinya terus meningkat, kemampuan masyarakat dan seterusnya, kita harus lindungi," tuturnya.

3. Sebanyak 30 kontainer beras dan garam diamankan

Konferensi pers penindakan impor ilegal beras, garam dan balpres. (IDN Times/Trio Hamdani)

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan sejumlah penindakan impor ilegal selama Agustus hingga September 2026. Dari penindakan tersebut, Bea Cukai mengamankan 30 kontainer berisi beras dan garam yang tidak sesuai dengan pemberitahuan pabean.

Sebanyak 15 kontainer berisi beras dan garam ditemukan di Tanjung Priok dengan nilai Rp7,8 miliar. Sementara 15 kontainer lainnya ditemukan di kawasan berikat di Bogor dengan nilai Rp8,006 miliar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article