- Bath Thailand menguat 0,33 persen
- Ringgit Malaysia menguat 0,42 persen
- Rupee India menguat 0,24 persen
- Pesso Filipina menguat 1,01 persen
- Won Korea menguat 0,39 persen
- Dolar Taiwan menguat 0,63 persen
- Yen Jepang menguat 0,30 persen
Rupiah Berhasil Menguat Seharian, Ditutup ke Level Rp16.802 per Dolar

- Rupiah ditutup menguat di level Rp16.802 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin, naik 86 poin atau sekitar 0,51 persen dibandingkan penutupan pekan lalu.
- Penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS akibat data pertumbuhan ekonomi Amerika yang di bawah ekspektasi serta dampak putusan Mahkamah Agung terkait kebijakan tarif Trump.
- Meskipun menguat, rupiah masih dibayangi ketidakpastian karena ancaman Trump menaikkan tarif global hingga 15 persen yang bisa menahan penguatan mata uang negara berkembang.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah hingga akhir perdagangan berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (23/2/2025).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp16.802 per dolar Amerika Serikat atau menguat 86 poin yang setara 0,51 persen dibandingkan penutupan pekan lalu.
1. Mayoritas mata uang di Asia menguat
Mayoritas mata uang di Asia bergerak menguat, rinciannya:
2. Rupiah lanjutkan penguatan hingga sore ini
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tengah tertekan hingga sore ini. Pelemahan dolar dipicu oleh rilis data pertumbuhan ekonomi AS yang jauh di bawah ekspektasi pasar.
"Selain itu, ada faktor dari putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (MA) yang menganulir kebijakan tarif Presiden Donald Trump," tegasnya.
3. Rupiah masih dibayangi ketidakpastian dari isu Trump
Meski demikian, Lukman mengingatkan masih terdapat faktor ketidakpastian yang dapat membatasi penguatan rupiah. Sebab, Trump justru merespons putusan tersebut dengan mengancam akan menaikkan tarif global hingga 15 persen.
Menurutnya, ancaman kenaikan tarif itu berpotensi kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap tensi perdagangan global dan menahan penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan kebijakan perdagangan AS serta arah kebijakan lanjutan yang akan diambil pemerintahan Trump, yang dinilai akan sangat menentukan arah pergerakan dolar AS dan mata uang global dalam jangka pendek.


















