Rupiah Menguat Terbatas, Akhiri Pergerakan di Rp17.899 per Dolar AS

Rupiah ditutup menguat tipis 18 poin atau 0,1 persen ke Rp17.899 per dolar AS pada Selasa, sementara kurs tengah JISDOR BI berada di Rp17.910.
Penguatan rupiah dipengaruhi pelemahan indeks dolar AS, di tengah gejolak Timur Tengah serta berkurangnya peluang kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi dan ketenagakerjaan AS melemah.
Sentimen domestik, lonjakan minyak, gangguan pengiriman, dan arus modal keluar membatasi penguatan; analis memprediksi rupiah Rabu fluktuatif lalu melemah dalam rentang Rp17.890-Rp17.940.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat pada penutupan perdagangan sore ini, Selasa (6/10/2026).
Mengutip Bloomberg, kurs rupiah ditutup menguat tipis, 18 poin atau 0,1 persen ke Rp17.899 per dolar AS sore ini. Pagi tadi, rupiah dibuka menguat 1 poin atau 0,01 persen ke Rp17.899 per dolar AS.
1. Nilai tukar rupiah berdasarkan kurs tengah BI
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.910 per dolar AS.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kurs rupiah pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (5/10/2026) yang di angka Rp17.917 per dolar AS. Data JISDOR BI menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan sore ini dibandingkan kemarin.
2. Gejolak dunia dan sentimen domestik tekan penguatan rupiah
Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, pergerakan rupiah sore ini dipengaruhi oleh pelemahan indeks dolar AS, akibat sentimen gejolak di Timur Tengah.
“Kelompok Houthi mencatat kemajuan penting di dekat Taiz kota terbesar ketiga di Yaman dengan menguasai sebagian jalan pegunungan yang membuat pasukan pemerintah terkepung, menurut lima sumber militer dari pihak pemerintah Yaman,” kata Ibrahim dalam keterangannya.
Di sisi lain, pergerakan dolar AS dipengaruhi sentimen terhadap pengurangan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) akhir bulan mendatang.
“Laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Agustus juga berada di bawah ekspektasi, sementara angka-angka sebelumnya direvisi turun. Secara keseluruhan, data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang,” ucap Ibrahim.
3. Rupiah diprediksi melemah lagi besok
Ibrahim melihat, sentimen pelaku pasar terhadap kondisi domestik juga masih besar, yang membatasi penguatan rupiah.
“Sentimen pasar terhadap Indonesia sempat memburuk pada bulan Januari, yang kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global dan gangguan pengiriman. Arus modal keluar (portfolio outflows) tercatat mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I-2026,” tutur Ibrahim.
Atas faktor-faktor tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan kembali melemah pada perdagangan besok, Rabu (7/10/2026).
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah d irentang Rp17.890-17.940. Sedangkan perdagangan dalam pekan depan (minggu ini) di rentang Rp17.750-18.050,” ujar Ibrahim.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















