Rupiah Tutup Perdagangan Akhir Pekan Menguat ke Rp18.065

- Rupiah menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan.
- IMF dan ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5–5,2 persen untuk 2026–2027, memberi sentimen positif bagi pasar.
- Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah di kisaran Rp18.060–Rp18.110 per dolar AS pada awal pekan depan.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (10/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terpantau perkasa dengan mencatatkan penguatan sebesar 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS.
1. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dari IMF dan ADB jadi angin segar
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pasar merespons positif keputusan Dana Moneter Internasional (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen untuk 2026.
"Pasar merespon positif mengenai pernyataan International Monetary Fund mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada 2026," katanya.
IMF memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) atau total nilai produksi barang dan jasa nasional akan tumbuh 5,1 persen pada 2027. Angka itu berada di atas rata-rata pertumbuhan negara berkembang Asia yang diperkirakan melambat di level 4,8 persen pada 2026.
Ibrahim menambahkan, Asian Development Bank (ADB) juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di level 5,2 persen untuk 2026 dan 2027. Proyeksi 5,2 persen itu tidak berubah dari laporan pada April.
"Kendati demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada tahun ini masih berada di bawah target pemerintah. Dalam APBN 2026, pemerintah dan DPR menetapkan target pertumbuhan mencapai 5,4 persen," ujarnya.
2. Investor antisipasi gencatan senjata AS-Iran
Menurutnya, situasi kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengakhiri gencatan senjata dan memerintahkan serangan baru, yang langsung dibalas Iran. Meski mediator regional berupaya menyelamatkan nota kesepahaman, perdamaian Timur Tengah tetap tidak pasti.
Pertempuran itu bertepatan dengan pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada hari pertama perang, 28 Februari lalu, setelah demonstrasi selama seminggu.
Konflik tersebut menunda pembukaan Selat Hormuz, jalur strategis yang melayani 20 persen pasokan minyak dan gas global harian sebelum perang.
Walau Trump meyakini ketegangan akan segera berakhir, lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi energi yang diproyeksi membuat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mengambil sikap lebih agresif terkait suku bunga.
"Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve," ujar dia.
3. Rupiah diproyeksikan lanjut melemah pada awal pekan
Ibrahim memproyeksikan untuk perdagangan Senin (13/7/2026), mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS.
Sedangkan untuk pergerakan pasar selama sepekan ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada pada level Rp17.870 hingga Rp18.300 per dolar AS.



















