Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Saudi Kembali Muat Minyak di Yanbu Usai Pipa Beroperasi
ilustrasi bendera Arab Saudi (pexels.com/aboodi vesakaran)
  • Arab Saudi kembali memuat minyak di Yanbu setelah pipa East-West beroperasi lagi pada 22 September 2026, menyusul penghentian akibat serangan drone.
  • Data satelit menunjukkan hampir 10 juta barel minyak dimuat di Yanbu dan Al Muajjiz pada 27 September, dengan sekitar 40 kapal tanker berada di kawasan tersebut.
  • Aliran pipa diperkirakan meningkat menjadi 3–4 juta barel per hari, sementara ekspor minyak mentah Saudi September mencapai sekitar 5,4 juta barel per hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Arab Saudi kembali memulai pemuatan kapal tanker minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah jalur pipa East-West beroperasi kembali. Penghentian sementara operasional sebelumnya terjadi menyusul serangan drone terhadap pipa tersebut yang dituduhkan Saudi kepada kelompok milisi Irak.

Jalur pipa utama tersebut sempat ditutup pada 11 September 2026 sebelum kembali beroperasi pada Selasa (22/9/2026). Produsen minyak negara, Saudi Aramco, juga telah memberi tahu para pelanggannya pada Senin mengenai jadwal pemuatan kargo dari Yanbu untuk Oktober 2026, menurut seorang sumber dari perusahaan pengilangan Asia.

1. Data satelit rekam pemuatan jutaan barel minyak di Yanbu

ilustrasi barel minyak (pexels.com/Tony Wu)

Sumber kilang Asia tersebut juga mengungkapkan bahwa perusahaannya telah memuat satu kargo minyak dari pelabuhan Yanbu pada akhir pekan lalu. Citra satelit dari European Space Agency (ESA) turut mengindikasikan bahwa pemuatan minyak telah berjalan kembali di Yanbu dan terminal Al Muajjiz di dekatnya.

Perusahaan pelacak kapal TankerTrackers.com mengonfirmasi pengaktifan kembali tersebut berdasarkan data satelit ESA. “Citra satelit ESA yang diambil di atas Laut Merah pada 27 September menunjukkan Arab Saudi memuat hampir 10 juta barel minyak mentah di Yanbu dan Al Muajjiz,” sebut TankerTrackers.com melalui media sosial X.

Selain pemuatan minyak mentah, perusahaan pemantau kapal tersebut turut mengidentifikasi adanya aktivitas pemuatan produk olahan di kawasan pesisir itu. TankerTrackers.com juga memantau keberadaan 40 kapal tanker di area perairan tersebut.

2. Laju aliran harian pipa East-West diproyeksikan bertambah

ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/Jakub Pabis)

Dua sumber perdagangan memperkirakan pemuatan minyak mentah dari Yanbu mencapai sekitar 2 juta barel per hari sejak pekan lalu. Sementara itu, throughput atau aliran pipa saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2 juta barel per hari menurut sumber industri dan 2,65 juta barel per hari menurut Kpler, dari kapasitas total 7 juta barel per hari.

Dilansir TRT World, lembaga analitik Kpler memperkirakan aliran minyak melalui pipa dapat meningkat menjadi 3 hingga 4 juta barel per hari dalam beberapa hari mendatang. Namun, pemulihan volume aliran minyak menuju tingkat sebelum serangan sebesar 5,5 juta barel per hari diproyeksikan membutuhkan waktu hingga satu bulan.

Kpler mencatat persediaan minyak mentah di terminal Yanbu naik sekitar 1 juta barel pada Selasa (22/9/2026). Peningkatan cadangan ini menjadi kenaikan stok pertama yang tercatat di terminal Yanbu sejak terjadinya serangan.

3. Ekspor minyak Saudi dan operasional terminal kawasan meningkat

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh)

Ekspor minyak mentah Arab Saudi diperkirakan telah meningkat menjadi sekitar 5,4 juta barel per hari pada September 2026, naik dari angka 2,446 juta barel per hari pada Agustus 2026. Berdasarkan data Kpler yang dikutip Reuters, total ekspor minyak mentah regional kawasan Timur Tengah tercatat mencapai 16,328 juta barel per hari.

Di Mesir, pemuatan minyak mentah di terminal Sidi Kerir juga telah beroperasi kembali pada Selasa (22/9/2026) setelah terhenti selama sepuluh hari. Kendati pemuatan telah berjalan kembali, antrean kapal tanker dilaporkan masih tertahan di lepas pantai akibat pembatasan akses yang membatasi sebagian besar armada komersial, menurut Kpler.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article