Temuan ini memicu kekhawatiran baru terkait potensi perlombaan senjata nuklir di Kawasan Timur Tengah. Sebab, sejumlah pihak menyebut Iran saat ini juga berambisi untuk mengembangkan senjata nuklir. Inilah yang lantas membuat Presiden AS, Donald Trump, memulai perang dengan Teheran pada 28 Februari lalu.
AS Sebut Arab Saudi Masih Ambisi Kembangkan Senjata Nuklir

- Pejabat AS, berdasarkan dokumen intelijen rahasia, menyebut Arab Saudi masih berambisi mengembangkan senjata nuklir, memicu kekhawatiran perlombaan senjata di Timur Tengah.
- Arab Saudi dan AS meneken kerja sama industri nuklir pada Juli, mengizinkan proyek energi nuklir; Trump menyebutnya memperkuat hubungan dan standar nonproliferasi.
- Parlemen AS memprotes aturan kesepakatan yang dinilai longgar karena tidak mewajibkan larangan internasional; namun belum ada bukti resmi Arab Saudi sedang memperbanyak material nuklir.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) menyebut Arab Saudi saat ini masih berambisi untuk mengembangkan senjata nuklir. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang pejabat AS pada Sabtu (26/9/2026) berdasarkan dokumen rahasia dari hasil investigasi yang dilakukan oleh otoritas intelijen Negeri Paman Sam.
1. Arab Saudi sebelumnya menyepakati kerja sama industri nuklir dengan AS

potret sentrifugal nuklir (flickr.com/NRCgov via commons.wikimedia.org/Nuclear Regulatory Commission) Pada Juli lalu, Arab Saudi sebetulnya sudah menandatangani kesepakatan kerja sama industri nuklir dengan AS. Kesepakatan ini mengizinkan perusahaan-perusahaan dari AS untuk mengembangkan proyek energi nuklir di Arab Saudi. Trump mengatakan, kesepakatan ini akan memperkuat hubungan Washington dengan Riyadh, menegakkan standar non-proliferasi nuklir, dan mengurangi kemungkinan Arab Saudi beralih ke Rusia atau China untuk mengembangkan teknologi nuklir.
Di sisi lain, sejumlah anggota parlemen AS justru bersikap skeptis terhadap kesepakatan tersebut. Mereka menilai kesepakatan tersebut bisa memuluskan upaya Arab Saudi agar bisa memproduksi lebih banyak material khusus, seperti uranium, untuk membuat senjata nuklir. Namun, temuan intelijen AS tidak menunjukkan bahwa Arab Saudi kini sedang berupaya memperbanyak material nuklirnya.
2. Aturan dan larangan dalam kesepakatan nuklir AS-Arab Saudi sangat longgar

ilustrasi aturan (pexels.com/Joshua Miranda) Kekhawatiran anggota parlemen AS tadi bukan tanpa dasar. Jadi, parlemen AS menilai aturan dan larangan yang tercantum dalam kesepakatan kerja sama industri nuklir dengan Arab Saudi sangat longgar. Sebab, dalam kesepakatan tersebut, Washington tidak meminta Riyadh untuk mematuhi aturan internasional soal larangan pengembangan senjata nuklir.
Parlemen AS menilai, hal itu akan membuat Arab Saudi bisa dengan mudah memproduksi lebih banyak uranium untuk membuat senjata nuklir pada kemudian hari. Mereka berasumsi, dengan longgarnya aturan tersebut, Riyadh bisa meningkatkan produksi uraniumnya hingga mencapai 20 persen, demikian dilansir The New Arab.
3. Parlemen AS sudah melayangkan protes terhadap Pemerintah Trump

ilustrasi parlemen (unsplash.com/Joakim Honkasalo) Terkait hal ini, parlemen AS sebetulnya sudah melayangkan protes terhadap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS. Sebab, mereka menilai Negeri Paman Sam sengaja melonggarkan aturan dan larangan dalam kesepakatan nuklir dengan Arab Saudi. Namun, protes tersebut belum direspons.
Hingga saat ini, belum ada bukti resmi yang menunjukkan Arab Saudi berambisi mengembangkan senjata nuklir. Namun, jika melirik sejarah, Arab Saudi memang pernah berencana mengembangkan senjata pemusnah massal tersebut. Sebab, pada 2018, Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengatakan, Arab Saudi akan berupaya mengembangkan senjata nuklir jika Iran mengembangkannya.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















