Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Selat Hormuz Ditutup, Inflasi AS Melonjak ke Rekor Tertinggi 3 Tahun

Selat Hormuz Ditutup, Inflasi AS Melonjak ke Rekor Tertinggi 3 Tahun
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Inflasi tahunan AS melonjak ke 4,2 persen pada Mei 2026, tertinggi dalam tiga tahun terakhir, dipicu lonjakan harga energi yang menyumbang sekitar 60 persen kenaikan Indeks Harga Konsumen.
  • Pemerintah menilai inflasi bersifat sementara akibat faktor eksternal, sementara ekonom menyoroti tekanan berat pada masyarakat karena kenaikan harga bensin, pangan, listrik, dan layanan kesehatan.
  • Ketidakpastian kebijakan moneter meningkat jelang rapat Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh, dengan pasar memperkirakan suku bunga tetap karena inflasi tinggi dan dampak penutupan Selat Hormuz.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Tekanan harga di Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah inflasi tahunan mencapai 4,2 persen pada Mei 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir sekaligus menandai kenaikan bulanan ketiga beruntun sejak pecahnya konflik di Iran pada Februari, dari sebelumnya 2,4 persen.

Dilansir The Guardian, data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) AS menunjukkan lonjakan harga energi menjadi pemicu utama kenaikan tersebut dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap kenaikan bulanan Indeks Harga Konsumen (IHK). Dampaknya terlihat pada harga bensin yang menurut Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) rata-rata mencapai 4,15 dolar AS per galon (setara Rp75 ribu), sekitar 1 dolar AS (setara Rp18 ribu) lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, sementara tarif penerbangan dalam setahun terakhir naik 26,7 persen.

1. Kenaikan biaya hidup menekan anggaran rumah tangga

ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Jack Sparrow)
ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Jack Sparrow)

Secara bulanan, IHK AS naik 0,5 persen pada Mei setelah penyesuaian musiman dilakukan. Sektor energi mencatat kenaikan 3,9 persen dalam sebulan dan secara tahunan melonjak 23,5 persen, sedangkan inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,2 persen secara bulanan dan 2,9 persen secara tahunan.

Pada kelompok kebutuhan lain, harga pangan bertambah 0,2 persen. Biaya tempat tinggal yang memiliki porsi terbesar dalam indeks naik 0,3 persen dalam sebulan dan 3,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara kenaikan harga barang kebutuhan pokok, layanan energi, dan pakaian terus membebani pengeluaran rumah tangga.

Di sisi berbeda, harga kendaraan baru turun 0,3 persen dan premi asuransi kendaraan bermotor berkurang 1,7 persen. Sementara itu, harga mobil bekas naik 0,1 persen, tarif penerbangan bulanan bertambah 2,7 persen karena biaya bahan bakar yang tinggi, sedangkan layanan transportasi secara keseluruhan turun 0,6 persen.

2. Perbedaan penilaian muncul dari pemerintah dan ekonom

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Gedung Putih menilai lonjakan inflasi hanya mencerminkan gangguan eksternal yang bersifat sementara. Pemerintahan Presiden Donald Trump menyebut sejumlah harga, seperti obat resep, produk susu, mobil, serta asuransi kesehatan dan kendaraan, masih berhasil ditekan melalui kebijakan yang diterapkan.

Kepala ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, menggambarkan beban yang sedang dirasakan masyarakat akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

“Orang Amerika sedang terjepit secara finansial oleh inflasi yang kembali ke level tertinggi 3 tahun,” kata Long, dikutip CNBC.

Long juga menyampaikan harga bensin, makanan, listrik, dan layanan kesehatan masih bergerak naik di atas 3 persen. Ia menilai berakhirnya perang di Iran dapat membantu menekan inflasi, tetapi kenaikan harga pangan dinilai masih berpotensi berlanjut.

3. Ketidakpastian kebijakan membayangi Bank Sentral AS

ilustrasi Federal Reserve (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi Federal Reserve (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Survei Bank Sentral Federal (Fed) New York menunjukkan meningkatnya kekhawatiran publik terkait inflasi, peluang kerja, dan risiko pemutusan hubungan kerja. Riset University of Michigan juga mencatat indeks sentimen konsumen turun ke titik terendah dalam sejarah setelah merosot selama tiga bulan berturut-turut.

Perhatian pasar kini tertuju pada rapat kebijakan Fed yang akan menjadi ujian awal bagi Ketua Fed baru, Kevin Warsh. Bank sentral AS saat ini masih mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen untuk mengejar target inflasi jangka panjang sebesar 2 persen.

Warsh sebelumnya pernah memberi sinyal pelonggaran moneter dengan mempertimbangkan perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan produktivitas yang dapat memicu disinflasi alami. Di sisi lain, penambahan 172 ribu lapangan kerja pada Mei dengan tingkat pengangguran 4,3 persen membuat pasar memperkirakan suku bunga belum akan berubah dalam waktu dekat.

Goldman Sachs menghapus proyeksi pemotongan suku bunga pada sisa tahun ini, sedangkan tim riset JP Morgan Global Research memperkirakan potensi kenaikan suku bunga baru muncul pada 2027. Kepala ekonom global JPMorgan Chase, Bruce Kasman, menilai lonjakan harga energi membuat perdebatan arah kebijakan moneter menjadi semakin rumit dan dapat menekan daya beli rumah tangga apabila Selat Hormuz tetap tertutup.

Kepala ekonom Fwdbonds, Chris Rupkey, memiliki pandangan berbeda terkait kondisi saat ini. Ia menilai kondisi saat ini tidak seburuk yang dikhawatirkan karena risiko inflasi pada inti barang konsumen terpantau mulai bergerak menurun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More