Jakarta, IDN Times – Tekanan harga di Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah inflasi tahunan mencapai 4,2 persen pada Mei 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir sekaligus menandai kenaikan bulanan ketiga beruntun sejak pecahnya konflik di Iran pada Februari, dari sebelumnya 2,4 persen.
Dilansir The Guardian, data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) AS menunjukkan lonjakan harga energi menjadi pemicu utama kenaikan tersebut dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap kenaikan bulanan Indeks Harga Konsumen (IHK). Dampaknya terlihat pada harga bensin yang menurut Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) rata-rata mencapai 4,15 dolar AS per galon (setara Rp75 ribu), sekitar 1 dolar AS (setara Rp18 ribu) lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, sementara tarif penerbangan dalam setahun terakhir naik 26,7 persen.
