Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Strategi Ladang Lima Jadikan Singkong Produk Premium Gluten Free
Ladang Lima adalah pelopor produsen makanan sehat bebas gluten (gluten-free) pertama di Indonesia yang bersertifikat GFCO. (Dok/Situs Ladang Lima).
  • Ladang Lima mengubah singkong lokal jadi produk pangan bebas gluten sejak 2013, menghadirkan alternatif sehat pengganti tepung terigu sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
  • Perusahaan kini mengolah hingga 300 ton singkong per bulan menjadi tepung Mocaf untuk berbagai produk seperti cookies, pasta, mi, dan premix dengan kontrol kualitas ketat.
  • Seluruh produk Ladang Lima bersertifikasi GFCO internasional, memberdayakan petani lokal melalui kemitraan berkelanjutan, serta menembus pasar ekspor ke Australia, Amerika Serikat, dan Eropa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang namanya Pak Raka yang bikin usaha pakai singkong. Dia mau buat makanan sehat yang tidak ada glutennya supaya orang bisa makan aman. Singkongnya banyak dari petani di Indonesia dan dibuat jadi tepung lalu jadi kue, mi, dan camilan. Sekarang usahanya besar dan jualan sampai ke luar negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Inisiatif Ladang Lima menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat mengangkat potensi bahan pangan sederhana menjadi produk bernilai tinggi. Dengan memanfaatkan singkong melimpah sebagai sumber tepung bebas gluten, perusahaan ini tidak hanya menghadirkan pilihan makanan sehat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional dan memberdayakan petani melalui kemitraan berkelanjutan yang berakar pada praktik produksi adil dan higienis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Di tengah tren gaya hidup sehat yang terus berkembang, produk bebas gluten (gluten free) kini semakin diminati masyarakat. Namun, saat Ladang Lima memulai bisnisnya lebih dari satu dekade lalu, pasar produk gluten free di Indonesia masih sangat terbatas. Kondisi tersebut kemudian mendorong munculnya inovasi berbasis bahan pangan lokal yang belum banyak dimanfaatkan secara optimal pada saat itu.

Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen singkong terbesar di dunia dengan produksi mencapai puluhan juta ton per tahun. Komoditas ini banyak dibudidayakan di berbagai daerah, seperti Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

CEO PT Agung Bumi Agro (Ladang Lima), A.A. Raka Bagus Vinaya, mengatakan bisnis tersebut dirintis pada 2013 dengan misi menghadirkan pangan sehat berbahan baku lokal, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas singkong yang selama ini kerap dipandang sebagai makanan kelas dua.

“Singkong jadi pilihan utama karena tumbuh hampir di seluruh Indonesia. Artinya, suplainya melimpah dan harganya relatif murah. Saat itu singkong juga belum memiliki nilai tambah yang tinggi,” kata Raka kepada IDN Times.

1. Hadirkan produk pangan sehat bebas gluten

Ladang Lima adalah pelopor produsen makanan sehat bebas gluten (gluten-free) pertama di Indonesia yang bersertifikat GFCO. (Dok/Situs Ladang Lima). ).

Ladang Lima menghadirkan produk pangan sehat bebas gluten berbasis singkong sebagai alternatif tepung terigu. "Melalui proses fermentasi, singkong diolah menjadi tepung dengan karakteristik yang menyerupai tepung terigu sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan,” ujar Raka.

Menurutnya, pemanfaatan singkong juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah bahan pangan, termasuk gandum sebagai bahan baku tepung terigu.

“Dengan menjadikan singkong sebagai salah satu bahan utama, kami ingin ikut membantu memperkuat food security atau ketahanan pangan Indonesia,” ujarnya.

Ladang Lima berkomitmen menghadirkan produk yang 100 persen bebas gluten melalui proses produksi yang dilakukan di fasilitas khusus. Seluruh tahapan, mulai dari pemilihan tepung singkong hingga proses pengolahan modern dan higienis, diawasi dengan kontrol kualitas yang ketat untuk memastikan tidak terjadi kontaminasi silang.

Komitmen ini memiliki tujuan memberikan rasa aman bagi konsumen, baik yang memiliki sensitivitas terhadap gluten maupun mereka yang menjalani pola makan lebih sehat. Dengan mengandalkan bahan baku yang lebih alami, Ladang Lima ingin menghadirkan pilihan makanan yang tidak hanya aman dikonsumsi, tetapi juga bergizi dan tetap memiliki cita rasa yang lezat.

2. Olah hingga 300 ton singkong setiap bulan

Ladang Lima adalah pelopor produsen makanan sehat bebas gluten (gluten-free) pertama di Indonesia yang bersertifikat GFCO. (Dok/Situs Ladang Lima).

Seiring berkembangnya bisnis, kebutuhan bahan baku Ladang Lima pun terus meningkat. Saat ini perusahaan mengolah sekitar 200 hingga 300 ton singkong setiap bulan yang kemudian diproses menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf).

Hal ini menunjukkan bahwa singkong tidak hanya menjadi bahan baku tradisional, tetapi juga memiliki peran penting dalam industri pangan modern berbasis inovasi. Tepung tersebut menjadi bahan baku utama berbagai produk Ladang Lima, mulai dari cookies, pasta, mi, hingga tepung premix.

Raka menjelaskan, proses produksi dimulai dari pengadaan singkong segar yang diperoleh dari mitra petani dan pemasok. Agar kualitas tepung tetap terjaga, singkong harus tiba di fasilitas produksi maksimal 24 jam setelah dipanen.

Setelah itu, singkong dikupas dan dibersihkan sebelum memasuki proses fermentasi. Tahap berikutnya adalah pengeringan untuk mengurangi kadar air, kemudian digiling hingga menjadi tepung Mocaf.

“Seluruh proses pembuatan tepung membutuhkan waktu sekitar dua hari,” katanya.

3. Sempat terkendala pasar dan proses produksi

gluten free - Freepik

Raka mengakui, perjalanan membangun Ladang Lima tidak selalu mulus. Pada awal berdiri, tantangan terbesar datang dari rendahnya penerimaan pasar terhadap produk gluten free. Saat itu, masyarakat belum banyak mengenal makanan bebas gluten. Di sisi lain, variasi produk yang dimiliki perusahaan juga masih terbatas sehingga produksi belum bisa dilakukan secara rutin dan biaya produksi menjadi lebih tinggi.

"Tantangan lainnya adalah membuat produk tanpa tepung terigu, tanpa pengawet, tanpa MSG, tanpa pewarna, dan tanpa perisa. Itu tidak mudah sehingga kami harus melalui banyak trial and error," ujarnya.

Meski demikian, perusahaan terus melakukan pengembangan formulasi agar produk yang dihasilkan tetap memiliki cita rasa yang disukai konsumen meski menggunakan bahan-bahan yang lebih sehat. Kini, setelah lebih dari satu dekade beroperasi, Ladang Lima telah mengembangkan sekitar 30 varian produk berbahan dasar singkong. Produk tersebut meliputi tepung Mocaf, tepung premix, cookies, pasta, mi (noodle), hingga rice snack yang dipasarkan sebagai alternatif pangan bebas gluten sekaligus mendukung pemanfaatan bahan baku lokal Indonesia.

4. Mendukung ketahanan pangan Indonesia lewat produk pangan sehat

ilustrasi gluten free (freepik.com/freepik)

Ia menjelaskan, setiap produk yang diciptakan membawa kisah sederhana tentang koneksi, nutrisi, dan tujuan. Misi perusahaan tersebut adalah mendukung ketahanan pangan Indonesia dengan menghadirkan produk pangan sehat berbasis kekayaan bahan lokal.

Visinya adalah Indonesia di mana sektor pertanian lebih dihargai, makanan sehat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan masyarakat dapat tumbuh selaras dengan alam. Visi ini diwujudkan melalui langkah-langkah yang terarah, mulai dari inovasi produk bebas gluten, penguatan hubungan dengan petani, hingga penerapan praktik produksi yang berkelanjutan.

Seluruh proses bisnis berawal dari sumber daya alam, sehingga misi perusahaan tidak dapat dipisahkan dari peran petani singkong lokal yang menjadi mitra utama. Kemitraan yang dibangun tidak hanya sebatas hubungan jual beli bahan baku, tetapi juga upaya menciptakan masa depan yang lebih baik secara bersama-sama.

Melalui praktik perdagangan yang adil, pelatihan langsung di lapangan, serta kolaborasi jangka panjang, perusahaan berupaya memberdayakan petani untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat keberlanjutan mata pencaharian mereka. Ketika petani sejahtera, maka keluarga mereka turut berkembang, komunitas menjadi lebih kuat, dan pada akhirnya memberikan dampak positif bagi ketahanan ekonomi dan pangan nasional.

"Setiap produk yang kami ciptakan dimulai dengan singkong—anugerah bumi Indonesia yang tangguh dan bergizi. Kami dengan cermat mengeksplorasi potensinya, mengubahnya menjadi bahan-bahan yang sesuai dengan gaya hidup modern sambil tetap menghormati akar tradisional," ucapnya.

5. Seluruh produk Ladang Lima sudah kantongi sertifikasi dari sertifikasi dari Gluten-Free Certification Organization (GFCO)

ilustrasi tepung untuk donat gluten free (freepik.com/azerbaijan_stockers)

Raka mengatakan, keamanan pangan menjadi salah satu fokus utama Ladang Lima dalam mengembangkan produk bebas gluten. Untuk memastikan standar tersebut terpenuhi, seluruh produk Ladang Lima telah mengantongi sertifikasi dari Gluten-Free Certification Organization (GFCO), lembaga sertifikasi bebas gluten yang diakui secara internasional.

Sertifikasi GFCO memiliki standar yang sangat ketat. Produk yang memperoleh sertifikasi tersebut harus mengandung gluten kurang dari 10 bagian per juta (parts per million/ppm), lebih rendah dibandingkan batas yang diterapkan dalam banyak standar internasional.

Dengan sertifikasi ini, Ladang Lima ingin memberikan rasa aman kepada konsumen bahwa setiap produknya diproduksi dengan standar bebas gluten yang ketat. Oleh karena itu, produk Ladang Lima aman dikonsumsi oleh penyandang penyakit celiac, individu dengan sensitivitas gluten, maupun masyarakat yang memilih menjalani pola makan bebas gluten.

Ladang Lima memproduksi makanan olahan dengan skala usaha menengah kecil. Perusahaan ini memiliki 133 karyawan di Surabaya dan 71 karyawan di Pasuruan. Ladang Lima memproduksi makanan sehat bebas gluten berbasis singkong yang kemudian didistribusikan ke hotel dan kafe, baik secara langsung maupun melalui kanal niaga elektronik.

Selain itu, Ladang Lima juga telah menjadi eksportir produk makanan sehat. Sekitar 10 persen produksinya telah menembus pasar Australia, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Eropa.

Editorial Team

Related Article