ilustrasi ekspor impor, kontainer, peti kemas, pelabuhan (pexels.com/Wolfgang Weiser)
Krisis global sebenarnya bukan sesuatu yang pasti terjadi. China masih memiliki ruang untuk mengubah model pertumbuhannya secara bertahap, terutama dengan meningkatkan konsumsi rumah tangga dan memperkuat jaring pengaman sosial.
Langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap ekspor dan investasi industri. Pemerintah China juga telah menunjukkan beberapa upaya untuk mendorong konsumsi, termasuk melalui rencana ekonomi periode 2026-2030.
Froman menilai, China perlu melakukan rebalancing ekonomi sebelum tekanan semakin besar. Salah satu caranya adalah mengurangi subsidi terhadap sektor tertentu, memperkuat konsumsi domestik, serta membiarkan nilai renminbi bergerak menuju posisi yang lebih seimbang.
Negara-negara mitra China juga perlu menyesuaikan kebijakan perdagangan secara bertahap agar perubahan gak menimbulkan guncangan besar. Jika langkah tersebut tidak dilakukan dan China terus meningkatkan ekspor di tengah pertumbuhan permintaan global yang terbatas, surplus perdagangan yang saat ini menjadi kekuatan justru bisa berubah menjadi sumber masalah.
China memang masih menjadi mesin manufaktur penting bagi dunia, tapi skala produksi yang terlalu besar mulai menghadirkan persoalan baru. Surplus perdagangan hampir 1,2 triliun dolar AS pada 2025 menunjukkan betapa besarnya ketidakseimbangan tersebut. Ketika pasar global gak lagi mampu menyerap tambahan produksi China, tekanan bisa muncul pada perusahaan, pemerintah daerah, pekerja, hingga negara-negara yang bergantung pada perdagangan dengan Beijing.
Karena itu, rebalancing ekonomi China bukan hanya kepentingan Beijing, tapi juga penting bagi stabilitas ekonomi global. Jika penyesuaian dilakukan secara bertahap sekarang, risiko terjadinya guncangan besar di masa depan bisa ditekan.