Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekspor Truk Listrik China Melonjak Tajam Efek Konflik Senjata Iran

Ekspor Truk Listrik China Melonjak Tajam Efek Konflik Senjata Iran
ilustrasi truk listrik (MJofLakeland1, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • Kenaikan harga solar akibat gangguan pasokan minyak pascakonflik Iran mendorong perusahaan logistik Asia Selatan dan Asia Tenggara mencari truk listrik yang lebih hemat biaya.
  • Dalam empat bulan setelah konflik pecah, ekspor truk listrik berat China melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 16.823 unit, dengan hampir separuh dikirim ke Asia Selatan dan Asia Tenggara.
  • Sany mengalihkan fokus ke Asia Tenggara karena pengembalian investasi truk listrik makin cepat, meski harga awal tinggi dan infrastruktur pengisian daya masih terbatas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Lonjakan harga bahan bakar minyak akibat krisis energi global mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Fenomena ini dimanfaatkan produsen otomotif Tiongkok untuk memperluas ekspansi truk listrik muatan berat ke pasar internasional.

Sejak krisis senjata yang melibatkan Iran pecah pada akhir Februari lalu, pengiriman truk bertenaga baterai asal Tiongkok tercatat melonjak tajam dalam empat bulan pertama pascakonflik. Perkembangan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga mengubah lanskap logistik di kawasan regional.

  1. 1. Lonjakan harga solar picu krisis logistik regional

    ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar
    ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar (pexels.com/Derwin Edwards)

    Penutupan Selat Hormuz dalam konflik kawasan Timur Tengah berdampak langsung terhadap pasokan minyak mentah dunia. Dilansir EURONEXT, ketergantungan tinggi kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara pada pasokan minyak Timur Tengah memicu lonjakan harga solar yang cukup drastis. Kondisi tersebut memaksa para pemilik armada logistik mencari alternatif kendaraan yang lebih hemat biaya.

    Data dari GlobalPetrolPrices menunjukkan kenaikan harga solar mencapai 48 persen di Sri Lanka dan 57 persen di Filipina sejak konflik meletus. Sementara itu, pasar domestik Tiongkok juga mengalami penyesuaian harga bahan bakar sebesar 15 persen. Lonjakan ini langsung menekan margin keuntungan perusahaan transportasi darat yang masih mengandalkan mesin diesel.

    Kondisi ini membuka celah besar bagi Tiongkok sebagai produsen truk listrik terbesar di dunia. Dalam empat bulan sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, ekspor truk listrik berat dari Tiongkok melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 16.823 unit. Hampir separuh dari total pengiriman tersebut ditujukan ke wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

  2. 2. Sany alihkan fokus pemasaran ke kawasan Asia Tenggara

    ilustrasi Asia Tenggara
    ilustrasi Asia Tenggara (unsplash.com/Z)

    Perubahan peta permintaan global membuat pabrikan kendaraan komersial Tiongkok menyesuaikan strategi bisnis mereka. Sany, pabrikan truk listrik berat terbesar di dunia, mulai mengalihkan fokus pasar dari Eropa ke kawasan Asia Tenggara. Langkah ini diambil untuk merespons percepatan transisi energi di sektor angkutan barang.

    Langkah taktis ini dibarengi dengan pengembangan model-model baru yang berharga lebih terjangkau. Kenaikan harga solar membuat periode pengembalian modal atau payback period kendaraan listrik menjadi jauh lebih singkat bagi pengusaha. Sany bahkan mencatatkan rekor pengiriman tunggal terbesar sebanyak 880 unit truk berat pada Juni 2026.

    Vice President International Marketing Sany, Zhaoting Yue, menegaskan bahwa perubahan harga minyak mempercepat keputusan pembeli. "Sebelum harga minyak naik, pembeli di negara-negara ini mungkin membutuhkan 28 bulan untuk mengembalikan investasi truk listrik berat. Sekarang, hanya butuh 18 bulan," ungkapnya. Pihaknya memperkirakan tren pertumbuhan ini akan bertahan setidaknya hingga tahun depan.

  3. 3. Penghematan biaya operasional dorong efisiensi armada

    ilustrasi truk listrik
    ilustrasi truk listrik (Syced, CC0, via Wikimedia Commons)

    Penggunaan truk listrik terbukti mampu memangkas konsumsi bahan bakar fosil dalam skala masif. Penghentian pemakaian diesel pada armada truk Tiongkok diperkirakan menghemat hingga 141 juta barel minyak pada tahun ini. Angka penghematan tersebut setara dengan tiga persen total konsumsi minyak Tiongkok atau seluruh volume impor mereka dari Kuwait.

    Dilansir Economic Times, adopsi kendaraan komersial ramah lingkungan ini juga berpotensi menekan angka emisi karbon secara signifikan. Di Tiongkok sendiri, porsi penjualan truk listrik telah mencapai 30 persen dari total pasar truk baru pada tahun lalu. Bahkan, pada semester pertama tahun 2026 saja, angka penjualannya sudah menembus 140 ribu unit.

    Kondisi pasokan minyak yang bergejolak mempercepat kesadaran para pengusaha transportasi untuk beralih dari energi fosil. Co-founder Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Lauri Myllyvirta, menilai tekanan ekonomi menjadi faktor kunci pendorong transisi ini. "Harga bahan bakar yang tinggi akan memicu pemikiran bisnis dan membuat mereka bergerak cepat," tegasnya.

  4. 4. Tantangan infrastruktur dan harga jual awal

    ilustrasi pengisian daya kendaraan listrik
    ilustrasi pengisian daya kendaraan listrik (pexels.com/Giant Asparagus)

    Meskipun menawarkan efisiensi operasional harian yang tergiurkan, transisi menuju truk listrik bukan tanpa hambatan. Harga beli awal kendaraan bertenaga baterai ini masih tergolong cukup mahal jika dibandingkan dengan truk diesel konvensional. Selain masalah harga, keterbatasan infrastruktur pengisian daya juga menjadi pertimbangan utama para pengusaha.

    Sebagai gambaran di Australia, harga satu unit truk listrik berkisar 500 ribu dolar Australia atau setara 350 ribu dolar AS. Angka tersebut mencapai dua kali lipat dari harga truk mesin diesel konvensional di kelas yang sama. Namun, selisih biaya modal tersebut bisa tertutup cepat karena biaya operasional rutin dapat berkurang hingga 70 persen.

    Menjawab kendala tersebut, sejumlah produsen mulai menawarkan solusi ekosistem energi secara menyeluruh. Sany kini menjajakan paket sistem pembangkit listrik, penyimpanan energi, hingga stasiun pengisian daya terpadu kepada konsumennya. Ekspansi mobil listrik penumpang Tiongkok yang kian masif di berbagai negara juga diyakini akan membantu mempercepat perluasan jaringan pengisian daya truk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More