Kerugian dalam investasi gak selalu sulit diterima karena nominal uang yang berkurang, tetapi juga karena ada waktu, tenaga, dan harapan yang sudah terlanjur tercurah. Ketika harga aset terus turun, keputusan untuk bertahan terkadang bukan lagi didasarkan pada prospek investasi tersebut, melainkan keengganan menerima bahwa modal yang telah dikeluarkan mungkin gak kembali. Pola pemikiran semacam ini dikenal sebagai sunk cost fallacy, yaitu kecenderungan mempertahankan keputusan karena sumber daya yang sudah dikeluarkan pada masa lalu.
Masalahnya, semakin besar kerugian yang telah terjadi, semakin kuat pula dorongan untuk menunggu keadaan berbalik meski dasar keputusan awal sudah gak relevan. Investor akhirnya berisiko mengabaikan informasi terbaru karena terlalu terpaku pada modal yang telanjur tertanam, padahal keputusan investasi idealnya mempertimbangkan peluang dan risiko ke depan. Supaya kerugian masa lalu gak terus mendikte keputusan finansial berikutnya, yuk kenali tanda sunk cost fallacy yang perlu diwaspadai.
