Jakarta, IDN Times - Semangat efisiensi anggaran pemerintah dihadapkan dengan tantangan baru. Sejumlah kementerian dan lembaga (K/L) mengajukan permintaan tambahan anggaran untuk 2027. Hal ini gak lepas dari tarik-menarik dalam menentukan program yang layak menjadi prioritas, di tengah ruang fiskal yang terbatas.
Di satu sisi, pemerintah mendorong efisiensi belanja. Di sisi lain, ada usulan tambahan anggaran untuk membiayai program dan kegiatan tahun depan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai ketimpangan alokasi antara program prioritas dan nonprioritas di masing-masing K/L.
Jika tidak dikendalikan, penambahan anggaran dikhawatirkan semakin menekan ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan belanja pemerintah pusat telah meningkat lebih dari 13 persen pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut dia, peningkatan anggaran semestinya lebih diarahkan untuk dana transfer ke daerah (TKD).
"Ini menimbulkan kekhawatiran adanya persoalan ketimpangan alokasi anggaran antarkementerian/lembaga," ujar Bhima kepada IDN Times, Selasa (8/9/2026).
Menurut Bhima, ketimpangan alokasi antara lain terlihat dari kenaikan anggaran Badan Gizi Nasional (BGN), sementara anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) justru turun menjadi sekitar Rp490 miliar. Hal serupa, kata dia, terjadi pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), di tengah bencana yang terjadi secara beruntun.
"Kalau persoalannya adalah ketimpangan antar-lembaga, kuncinya adalah realokasi anggaran. Program prioritas seperti MBG, Kopdes, hingga sekolah rakyat perlu dievaluasi dan sebagian anggarannya dapat dialihkan ke belanja yang lebih urgen, seperti penanganan bencana," kata Bhima.
