ilustrasi pemilu (pexels.com/Edmond Dantès)
Kebijakan relaksasi ini diterbitkan seiring dengan meningkatnya kekhawatiran para petani AS terkait lonjakan biaya operasional menjelang pemilu sela. Tekanan ekonomi tersebut bertambah akibat konflik di Timur Tengah yang memicu fluktuasi harga solar dan pupuk global.
Gangguan di jalur Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama hambatan distribusi. Jalur laut tersebut sangat krusial karena dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, serta menjadi rute penting bagi perdagangan pupuk internasional.
Meskipun memberikan kelonggaran pada alat produksi, pemerintah AS tetap mempertahankan tarif tinggi untuk logam utama di bawah kebijakan Pasal 232 (Section 232) demi alasan keamanan nasional. Langkah ini dinilai sebagai manuver politik untuk memberikan relaksasi ekonomi bagi sektor agraris sebelum pemungutan suara dimulai.
“Angka kebangkrutan di sektor pertanian meningkat dan sentimen petani menurun, sehingga sejumlah senator memberikan peringatan politik,” ujar Barry Appleton, profesor hukum dan Wakil Direktur Center for International Law di New York Law School.