Belanja di marketplace sering terasa menguntungkan karena ada banyak promo yang ditawarkan. Mulai dari voucher potongan harga, gratis ongkir, cashback, sampai flash sale dengan harga yang jauh lebih murah dari biasanya. Tidak jarang, total diskon yang didapat dalam satu transaksi bahkan bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Dari Mana Sebenarnya Uang Promosi Marketplace Berasal?

- Dana promo marketplace dapat berasal dari penjual, baik melalui diskon produk, voucher toko, maupun pembagian biaya voucher bersama platform.
- Marketplace memakai anggaran perusahaan untuk voucher pengguna baru, cashback, dan subsidi ongkir guna menarik serta mempertahankan pengguna.
- Merek, bank, e-wallet, dan logistik turut membiayai promo demi pemasaran atau penggunaan layanan; karena itu, satu transaksi bisa mendapat promo dari beberapa pihak.
Meski begitu, pernahkah kamu bertanya-tanya sebenarnya dari mana asal uang promosi marketplace? Apakah marketplace benar-benar membayar seluruh potongan harga dari kantongnya sendiri? Ternyata, uang promosi biasanya berasal dari beberapa pihak yang terlibat dalam ekosistem marketplace, mulai dari penjual, pemilik merek, platform, hingga mitra pembayaran dan logistik. Supaya tidak bingung lagi, yuk kita bahas lebih detail seputar hal ini!
1. Penjual bisa menanggung sebagian diskon

ilustrasi berjualan di marketplace (freepik.com/freepik) Dalam banyak program promosi, penjual ikut menanggung biaya diskon yang diberikan kepada pembeli. Bentuknya bisa berupa penurunan harga produk, pemberian voucher toko, atau ikut membiayai voucher yang dibuat oleh marketplace. Sebagai contoh, seorang penjual skincare menawarkan serum seharga Rp100 ribu. Ketika ada kampanye payday, pembeli mendapatkan voucher Rp20 ribu. Dalam skema tertentu, seluruh potongan tersebut bisa ditanggung penjual sehingga pendapatan dari produk itu menjadi Rp80 ribu.
Namun, ada juga skema pembagian biaya. Misalnya, diskon Rp20 ribu dibagi rata antara penjual dan marketplace. Artinya, masing-masing menanggung Rp10 ribu dari potongan harga tersebut.
Bagi penjual, memberikan diskon tetap bisa masuk akal selama ada manfaat lain yang diperoleh. Promo dapat mendatangkan lebih banyak pengunjung, meningkatkan jumlah pesanan, memperkenalkan produk kepada pelanggan baru, sekaligus membantu menghabiskan stok lama. Meski begitu, penjual tetap harus menghitung margin dengan cermat. Penjualan yang meningkat belum tentu berarti keuntungan ikut membesar jika harga jual setelah diskon terlalu rendah.
2. Marketplace juga mengeluarkan uang promosi

ilustrasi marketplace (pexels.com/AS Photography) Marketplace sendiri juga dapat menggunakan anggaran perusahaan untuk membiayai berbagai program promosi. Contohnya, voucher pengguna baru, subsidi gratis ongkir, cashback, atau potongan harga tertentu yang tidak mengurangi jumlah uang yang diterima penjual. Mengapa platform mau mengeluarkan uang untuk hal tersebut? Salah satu alasannya adalah untuk mendapatkan dan mempertahankan pengguna.
Misalnya, seseorang tertarik memasang aplikasi marketplace karena mendapatkan voucher pengguna baru. Setelah melakukan pembelian pertama, ia bisa saja kembali berbelanja pada bulan berikutnya, menggunakan metode pembayaran yang sama, atau bahkan menjadi pelanggan rutin. Dengan begitu, uang yang dikeluarkan untuk voucher pertama dapat dipandang sebagai biaya untuk mendapatkan pelanggan baru. Marketplace berharap biaya tersebut bisa kembali melalui berbagai transaksi berikutnya.
3. Merek ikut membayar untuk mendapatkan perhatian

ilustrasi belanja di marketplace (pexels.com/Negative Space) Ada juga perusahaan pemilik merek yang sengaja mengalokasikan anggaran untuk promosi di marketplace. Hal ini biasanya semakin terlihat ketika ada kampanye besar, seperti promo tanggal kembar, Ramadan, akhir tahun, atau peluncuran produk baru. Bagi sebuah merek, marketplace memiliki keunggulan karena penggunanya memang sudah datang dengan tujuan mencari atau membeli barang. Karena itu, memberikan voucher di marketplace bisa menjadi bagian dari strategi pemasaran, bukan sekadar menurunkan harga.
Bentuknya pun beragam. Merek dapat memberikan voucher khusus, membuat paket bundling, memberikan hadiah pembelian, menawarkan cashback untuk produk tertentu, atau menyediakan harga khusus selama periode peluncuran. Merek juga bisa membayar agar produknya mendapatkan posisi yang lebih terlihat di dalam platform. Misalnya melalui iklan produk, sponsored listing, atau penempatan khusus pada halaman kampanye.
4. Bank dan e-wallet bisa ikut menanggung promo

ilustrasi e-wallet (unsplash.com/CardMapr.nl) Sumber uang promosi marketplace juga bisa datang dari pihak yang tidak menjual barang secara langsung. Bank, perusahaan kartu kredit, e-wallet, hingga perusahaan logistik dapat bekerja sama dengan marketplace untuk memberikan promo kepada konsumen. Misalnya, pembeli mendapatkan cashback Rp25 ribu setelah membayar menggunakan e-wallet tertentu. Dalam skema seperti ini, biaya cashback bisa saja ditanggung oleh penyedia e-wallet, bukan sepenuhnya oleh marketplace atau penjual.
Tujuannya tentu bukan sekadar membagikan uang. Penyedia pembayaran ingin mendorong lebih banyak orang menggunakan layanan mereka. Bank, misalnya, dapat menawarkan potongan harga agar nasabah lebih sering menggunakan kartu kredit atau metode pembayaran tertentu.
Hal serupa bisa terjadi pada layanan pengiriman. Subsidi ongkir dapat digunakan untuk menarik lebih banyak penjual dan pembeli sekaligus meningkatkan jumlah pengiriman yang menggunakan layanan tersebut. Itulah sebabnya satu transaksi di marketplace bisa mendapatkan beberapa jenis promo sekaligus. Potongan dari penjual, voucher marketplace, cashback bank, dan subsidi ongkir bisa saja berasal dari pihak yang berbeda.
Jadi, sekarang kamu sudah tahu bahwa potongan harga yang terlihat di halaman checkout bisa dibiayai sepenuhnya oleh penjual, marketplace, merek, mitra pembayaran, atau kombinasi beberapa pihak sekaligus. Hal ini juga menjelaskan mengapa syarat dan ketentuan setiap voucher bisa berbeda. Ada voucher yang hanya berlaku untuk produk tertentu, metode pembayaran tertentu, pengguna baru, atau periode kampanye tertentu karena sumber dan tujuan pendanaannya memang berbeda. Semoga, sekarang rasa penasaranmu sudah terjawab, ya!
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















