Comscore Tracker

BI Yakin The Fed Tak Akan Naikkan Suku Bunga Tahun Ini

The Fed diramal mendahulukan tapering bertahap

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) meyakini Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) tak akan menaikkan suku bunga acuan (fed funds rate/FFR) tahun ini.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan di kuartal II atau kuartal II-2022.

"Kemungkinan-kemungkinan kenaikan Fed di akhir 2022, mungkin di triwulan II-2022 maupun di triwulan berikutnya. Tapi itu adalah situasi yang dinamis dari waktu ke waktu," kata Perry dalam konferensi pers KSSK yang digelar virtual, Rabu (27/10/2021).

Baca Juga: Mengenal Tapering Off dan Dampaknya Bagi Perekonomian

1. The Fed bakal lebih dulu lakukan tapering

BI Yakin The Fed Tak Akan Naikkan Suku Bunga Tahun IniFederal Reserve (Website/https://blog.gao.gov/)

Perry memprediksi The Fed akan lebih dulu melakukan tapering (mengurangi likuiditas) secara bertahap, sebelum menaikkan suku bunga acuan. Dia pun memprediksi tapering akan dilakukan tahun depan.

"Bacaan kami pengurangan likuditas akan berlangsung sepanjang 2022," ucap dia.

Meski begitu, masih ada kemungkinan tapering dilakukan lebih awal dari perkiraan tersebut. "Kemungkinan Fed akan lebih awal mengurangi penambahan likuiditas atau tapering. Dan kita akan monitor dari waktu ke waktu," tutur Perry.

2. Yield US Treasury akan naik

BI Yakin The Fed Tak Akan Naikkan Suku Bunga Tahun IniIlustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)

Perry menilai, apabila nantinya The Fed sudah menaikkan suku bunga, maka dampaknya akan terlihat pada kenaikan yield (imbal hasil) US Treasury (obligasi yang diterbitkan Pemerintah AS).

"Yield dari obligasi Pemerintah AS akan meningkat. Bacaan kami memang akan meningkat tapi secara bertahap. Ada yang memperkirakan yield US Treasury akan bisa naik ke 2 persen, 2,2 persen, 2,5 persen. Tapi menuju ke sananya secara bertahap," ujar dia.

Baca Juga: BI Jamin Dampak Tapering The Fed Tak Separah 2013

3. Perry pede dampak tapering tak separah taper tantrum 2013

BI Yakin The Fed Tak Akan Naikkan Suku Bunga Tahun IniFederal Reserve (Website/nalcab.org)

Perry masih optimistis dampak kebijakan tapering The Fed nantinya tak separah dampak taper tantrum pada 2013 silam. Ada tiga faktor yang membuat Perry meyakini dampak tapering tidak separah taper tantrum.

Pertama, The Fed rutin melakukan komunikasi dengan pasar terkait langkah-langkahnya ke depan. Kedua, Indonesia kini sudah memiliki fundamental perekonimian yang cukup kuat dibandingkan 2013 lalu.

"Defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga jauh lebih rendah.CAD itu menunjukkan seberapa besar supply penawaran dan permintaan devisa di nilai tukar. Kalau Fed taper tantrum, CAD lebih dari 3 persen terhadap PDB. Sekarang kita perkirakan 0-0,8 persen dan tahun depan juga lebih rendah. Sehingga tekanan-tekanan fundamental dari nilai tukarnya juga jauh lebih rendah," tutur dia.

Ketiga, BI dan pemerintah terus berkoordinasi untuk stabilisasi sistem nilai tukar, dan juga terkait perubahan yield Surat Berharga Negara (SBN).

"BI akan terus memastikan stabilitas nilai tukar terjaga. Kalau diperlukan dalam hal-hal terjadi tekanan yang lebih tinggi, BI tidak segan-segan melakukan stabilisasi melalui pasar tunai, forward, maupun juga kalau diperlukan pembelian SBN dari pasar sekunder kalau terjadi outflow. Dan itu terjadi pada Maret 2020 ketika 11 miliar dolar AS keluar, capital outflows," ucap Perry.

Baca Juga: Bagaimana Dampak Tapering Off Akhir Tahun Ini kepada Indonesia?

Topic:

  • Hana Adi Perdana

Berita Terkini Lainnya