Wisata Rammang-Rammang Bawa Berkah, Ekonomi Warga Maros Mengalir Deras

- Rammang-Rammang kini menarik wisatawan mancanegara, dengan sekitar 75 persen pengunjung berasal dari luar Sulawesi dan luar negeri, terutama saat musim liburan Eropa antara Juni hingga Oktober.
- Perputaran ekonomi masyarakat meningkat hingga Rp11 miliar per tahun meski jumlah wisatawan menurun, karena fokus diarahkan pada wisata minat khusus yang lebih menguntungkan warga lokal.
- Hampir separuh warga dua dusun terlibat di sektor pariwisata sebagai operator perahu, pengelola homestay, dan pedagang, sambil tetap mempertahankan aktivitas bertani serta menangkap ikan.
Makassar, IDN Times - Perahu kayu itu melaju perlahan membelah Sungai Pute di kawasan wisata Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Riak air kecil memantulkan bayangan tebing-tebing karst yang menjulang megah di kanan-kiri perjalanan.
Di kejauhan, deretan rumah panggung warga berdiri tenang di tepian sungai. Aroma alam yang masih asri berpadu dengan keramahan masyarakat setempat menjadi daya tarik yang membuat Ramang-Ramang kian dikenal wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Kalau kesempatan jadi kaya raya itu mau diambil, mungkin saya sudah kaya raya. Tapi ini soal menghindari kutukan generasi,” ujar aktivis lingkungan dan advokasi kawasan Rammang-rammang, Iwan Dento saat ditemui di Rammang-Rammang, Sabtu (23/5/2026).
Namun, geliat pariwisata di desa tumbuh dari tangan masyarakat dan dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI). Pendampingan dilakukan tidak hanya untuk memperkuat sektor pariwisata, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat agar lebih inklusif dan berkelanjutan.
Tak hanya itu, pembinaan juga dilakukan melalui pengembangan kapasitas masyarakat desa wisata. Warga didorong untuk mengelola potensi lokal secara profesional, mulai dari pelayanan wisata, pengelolaan usaha, hingga promosi destinasi.
Perubahan tersebut kini mulai terasa. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat, usaha kecil warga tumbuh, dan nama Rammang-Rammang semakin sering muncul dalam daftar destinasi unggulan Sulawesi Selatan.
1. Turis asing dominasi kunjungan

Rammang-Rammang kini bukan lagi sekadar destinasi lokal. Nama kawasan itu mulai masuk dalam daftar perjalanan wisatawan mancanegara melalui promosi travel agent luar negeri dan rekomendasi media internasional.
Wisatawan yang datang disebut banyak berasal dari jalur wisata populer, seperti Bali, Labuan Bajo, Lombok, hingga Toraja, dan Manado.
“Kalau kami gabung wisatawan domestik luar Sulawesi dan mancanegara, sekarang sekitar 75 persen. Lokal justru sekitar 25 persen,” katanya.
Ia menceritakan, kawasan wisata ini ramai dikunjungi turis asing terutama pada musim liburan di Eropa atau high season yang berlangsung sekitar Juni hingga Oktober. Dalam sebulan, jumlah kunjungan wisatawan berkisar 5.000-6.000 orang. Pada musim liburan tertentu, jumlahnya bisa meningkat hingga sekitar 7.000 pengunjung.
Sebagian wisatawan asing bahkan membayar menggunakan dolar AS. Namun transaksi di kawasan wisata tetap mengacu pada rupiah.
“Kalau bule biasanya tidak terlalu rewel soal kembalian, yang penting pelayanan bagus,” ujarnya sambil tertawa.
2. Perputaran uang terjadi dari wisatawan yang datang

Dari geliat wisata tersebut, perputaran ekonomi masyarakat ikut terdongkrak. Pada 2025, Rammang-Rammang mencatat sekitar 51 ribu kunjungan wisatawan dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp11 miliar per tahun.
Perhitungan itu berasal dari rata-rata pengeluaran wisatawan sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per orang untuk sewa perahu, penginapan, hingga konsumsi. Menariknya, meski jumlah wisatawan turun dibanding 2017 yang mencapai 74 ribu orang, nilai perputaran uang justru meningkat dari sekitar Rp9 miliar menjadi Rp11 miliar.
Iwan menjelaskan, kondisi itu terjadi karena wisata Rammang-Rammang kini lebih diarahkan menjadi wisata minat khusus, bukan mass tourism.
“Target kami bukan jumlah orang sebanyak-banyaknya, tapi bagaimana income masyarakat bisa naik,” katanya.
Uang dari aktivitas wisata disebut sebagian besar langsung berputar di masyarakat. Misalnya, dari tarif sewa perahu Rp300 ribu, hanya Rp20 ribu yang masuk retribusi pengelola, sisanya menjadi pendapatan warga.
Dana itu kemudian dipakai masyarakat untuk membeli kebutuhan sehari-hari, mulai dari ikan, sayur, hingga kebutuhan rumah tangga lain.
3. Hampir separuh warga terlibat dalam pengembangan sektor pariwisata

Di dua dusun kawasan wisata Rammang-Rammang, yakni Dusun Salenrang dan Dusun Rammang-Rammang, hampir 45 persen hingga 50 persen warga kini terlibat dalam sektor pariwisata.
Sekitar 200 kepala keluarga tercatat terlibat langsung sebagai pengelola homestay, operator perahu, pedagang, hingga penyedia jasa wisata. Jika dihitung dengan dampak tidak langsung, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 300 kepala keluarga. Meski begitu, masyarakat tetap mempertahankan aktivitas bertani, berkebun, dan mencari ikan di sungai.
“Kami belajar dari Bali waktu COVID. Ketika wisata berhenti, kami masih bisa makan karena tetap punya sawah, ikan, dan kebun,” ujarnya.
Pengelola bercerita, Rammang-Rammang sebenarnya tidak langsung dibangun sebagai tempat wisata karena keindahan alamnya. Kawasan itu justru lahir dari perjuangan warga menolak aktivitas tambang marmer selama enam tahun. Tiga perusahaan asing disebut sempat mengincar kawasan karst tersebut.
“Bukan karena tempat ini cantik lalu jadi wisata. Justru karena kami menolak tambang selama enam tahun, orang-orang mulai datang dan mendukung,” katanya.
Perlawanan itu kemudian diwujudkan melalui pengembangan wisata berbasis alam sejak 2015. Tagline “Land of Tomorrow” yang kini melekat pada Rammang-Rammang juga disebut sebagai simbol perlawanan halus terhadap eksploitasi kawasan karst. Wisata healing hingga camping jadi andalan baru



















