Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Treasury Stock? Simak Fungsinya bagi Emiten
ilustrasi daftar emiten saham nikel di BEI (pexels.com/Burak The Weekender)

Dalam dunia pasar modal, investor mungkin pernah mendengar istilah treasury stock atau saham treasuri. Istilah ini sering muncul ketika perusahaan mengumumkan aksi buyback saham atau menyampaikan laporan keuangan. Meski cukup umum digunakan, masih banyak investor pemula yang belum memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan saham treasuri.

Padahal, memahami konsep treasury stock dapat membantu investor menilai strategi yang sedang dijalankan oleh sebuah emiten. Saham treasuri memiliki fungsi tertentu dan dapat memengaruhi jumlah saham yang beredar maupun beberapa rasio keuangan perusahaan. Berikut penjelasan mengenai treasury stock dan fungsinya bagi emiten.

1. Apa itu treasury stock?

Ilustrasi saham. (pexels.com/Rafael Minguet Delgado)

Treasury stock adalah saham perusahaan yang sebelumnya beredar di pasar, kemudian dibeli kembali oleh perusahaan melalui aksi buyback. Setelah dibeli kembali, saham tersebut menjadi milik perusahaan dan tidak lagi dianggap sebagai saham yang beredar di publik. Karena itu, saham treasuri tidak memiliki hak suara maupun hak atas dividen selama masih disimpan oleh perusahaan.

Saham tersebut dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sesuai ketentuan yang berlaku. Perusahaan juga dapat menjualnya kembali ke pasar atau menggunakannya untuk tujuan tertentu di kemudian hari. Dengan demikian, treasury stock menjadi bagian dari strategi pengelolaan modal perusahaan.

2. Menjadi hasil dari aksi buyback saham

ilustrasi bermain saham (pexels.com/Liza Summer)

Salah satu penyebab munculnya treasury stock adalah aksi buyback yang dilakukan oleh emiten. Buyback dilakukan ketika perusahaan membeli kembali sebagian sahamnya yang beredar di pasar. Setelah transaksi selesai, saham tersebut berubah status menjadi saham treasuri.

Keputusan melakukan buyback biasanya didasarkan pada berbagai pertimbangan manajemen. Misalnya, perusahaan menilai harga saham sedang berada di bawah nilai wajarnya atau ingin mengoptimalkan struktur permodalan. Karena itu, buyback sering menjadi salah satu aksi korporasi yang diperhatikan investor.

3. Dapat mengurangi jumlah saham beredar

Ilustrasi saham. (pexels.com/RDNE Stock Project)

Ketika sebagian saham berubah menjadi treasury stock, jumlah saham yang beredar di publik akan berkurang. Dampaknya, beberapa rasio per saham seperti Earnings Per Share (EPS) dapat mengalami peningkatan apabila laba perusahaan tetap sama. Hal inilah yang sering menjadi salah satu alasan perusahaan melakukan buyback.

Namun, kenaikan EPS bukan berarti kinerja operasional perusahaan otomatis membaik. Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah saham yang menjadi dasar perhitungan. Oleh karena itu, investor tetap perlu melihat pertumbuhan laba perusahaan secara menyeluruh.

4. Bisa digunakan untuk kebutuhan perusahaan

ilustrasi analisis saham (pexels.com/AlphaTradeZone)

Saham treasuri tidak selalu disimpan selamanya oleh perusahaan. Dalam kondisi tertentu, saham tersebut dapat dijual kembali ke pasar jika perusahaan membutuhkan tambahan modal. Selain itu, saham treasuri juga dapat digunakan dalam program kepemilikan saham bagi karyawan atau kebutuhan aksi korporasi lainnya.

Fleksibilitas inilah yang membuat treasury stock menjadi salah satu aset strategis bagi emiten. Perusahaan memiliki pilihan mengenai waktu dan tujuan penggunaan saham tersebut. Tentu saja, seluruh proses tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku di pasar modal.

5. Bukan satu-satunya indikator untuk menilai emiten

ilustrasi analisis saham (pexels.com/AlphaTradeZone)

Keberadaan treasury stock tidak otomatis membuat sebuah perusahaan menjadi lebih baik atau lebih buruk. Investor tetap perlu memahami alasan di balik buyback serta melihat kondisi fundamental perusahaan secara keseluruhan. Kinerja keuangan, prospek bisnis, arus kas, dan tingkat utang tetap menjadi faktor utama dalam analisis investasi.

Jika buyback dilakukan ketika kondisi keuangan perusahaan sehat dan memiliki tujuan yang jelas, langkah tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Sebaliknya, jika dilakukan tanpa didukung fundamental yang kuat, dampaknya belum tentu memberikan manfaat jangka panjang. Karena itu, konteks di balik aksi korporasi perlu dipahami dengan baik.

Treasury stock merupakan saham yang dibeli kembali oleh perusahaan sehingga tidak lagi beredar di publik. Saham ini dapat memengaruhi jumlah saham beredar, rasio keuangan tertentu, serta memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menjalankan berbagai strategi bisnis. Oleh sebab itu, keberadaan saham treasuri menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dipahami oleh investor.

Pada akhirnya, treasury stock hanyalah satu bagian dari keseluruhan kondisi sebuah emiten. Investor sebaiknya tidak hanya melihat adanya saham treasuri sebagai sinyal positif atau negatif, tetapi juga memahami tujuan buyback dan kondisi fundamental perusahaan secara menyeluruh. Dengan analisis yang lebih lengkap, keputusan investasi dapat diambil secara lebih rasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article