Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Candlestick: Mengenal Sejarah, Bagian, Cara Membaca, dan Polanya

8 min read
Candlestick: Mengenal Sejarah, Bagian, Cara Membaca, dan Polanya
ilustrasi saham (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Candlestick adalah grafik analisis teknikal yang merangkum harga pembukaan, tertinggi, terendah, dan penutupan dalam tiap periode, untuk mengamati pergerakan serta tekanan beli-jual.
  • Metode ini berawal dari perdagangan beras Jepang abad ke-18, dikaitkan dengan Munehisa Honma, lalu dipopulerkan Steven Nison dan digunakan pada saham, forex, hingga kripto.
  • Pembacaan candlestick mengandalkan warna, badan, ekor, tren, dan pola seperti Doji atau Engulfing; sinyal perlu dikonfirmasi indikator lain serta disertai pengelolaan risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Grafik harga menjadi salah satu hal yang perlu dipahami ketika seseorang mulai mempelajari investasi saham atau aktivitas trading. Salah satu bentuk grafik yang sering digunakan untuk menganalisis pergerakan harga di pasar keuangan adalah candlestick. Grafik ini memiliki tampilan menyerupai lilin dengan badan dan garis tipis yang menyimpan informasi mengenai perubahan harga dalam periode tertentu.

Melalui bentuk, warna, dan ukurannya, pelaku pasar dapat mengamati tekanan beli maupun jual yang terjadi selama perdagangan berlangsung. Namun, memahami grafik ini tidak cukup hanya dengan mengenali warna hijau dan merah karena setiap bentuknya dapat memberikan gambaran yang berbeda. Supaya lebih mudah memahami fungsinya dalam analisis teknikal, simak pembahasan mengenai pengertian, sejarah, bagian-bagian, cara membaca, hingga pola candlestick yang umum digunakan berikut ini.

  1. 1. Mengenal candlestick sebagai alat untuk membaca pergerakan harga

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (unsplash.com/Tötös Ádám)

    Candlestick merupakan jenis grafik yang digunakan untuk menggambarkan perubahan harga suatu aset dalam rentang waktu tertentu. Setiap batang mewakili satu periode perdagangan yang dapat diatur berdasarkan hitungan menit, jam, harian, atau periode lainnya sesuai kebutuhan analisis. Grafik ini banyak dimanfaatkan dalam analisis teknikal karena menyajikan informasi harga secara ringkas sehingga memudahkan investor dan trader dalam mengamati kondisi pasar.

    Dalam praktiknya, setiap candlestick memuat empat informasi utama, yaitu harga pembukaan (open), harga tertinggi (high), harga terendah (low), dan harga penutupan (close). Keempat informasi tersebut membantu menunjukkan seberapa jauh harga bergerak selama satu periode perdagangan sekaligus memberikan gambaran mengenai dominasi pembeli atau penjual. Meski demikian, candlestick tidak dapat memastikan arah harga berikutnya sehingga hasil pembacaannya tetap perlu dipertimbangkan bersama kondisi pasar dan metode analisis lainnya.

  2. 2. Menelusuri perkembangan candlestick dari perdagangan beras di Jepang

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (pexels.com/Aedrian Salazar)

    Metode candlestick berakar dari Jepang dan berkembang melalui aktivitas perdagangan komoditas, khususnya beras, pada abad ke-18. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan perkembangan metode ini adalah Munehisa Honma, seorang pedagang beras yang mempelajari perubahan harga untuk memahami perilaku pasar. Ia memanfaatkan catatan harga dari waktu ke waktu guna mengenali kecenderungan yang berpotensi membantu memperkirakan pergerakan harga selanjutnya.

    Seiring berjalannya waktu, metode tersebut dikenal lebih luas di luar Jepang dan digunakan dalam berbagai instrumen keuangan. Steven Nison turut berperan dalam memperkenalkan serta memopulerkan teknik analisis candlestick kepada masyarakat Barat melalui pembahasannya mengenai pola grafik Jepang. Saat ini, candlestick digunakan untuk menganalisis berbagai aset, mulai dari saham dan valuta asing atau forex hingga mata uang kripto. Perkembangannya menunjukkan bahwa teknik yang awalnya berkaitan dengan perdagangan beras dapat diterapkan untuk membantu membaca dinamika pasar keuangan modern.

  3. 3. Memahami tiga komponen utama yang membentuk candlestick

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (pexels.com/Alex Luna)

    Sebelum membaca pergerakan harga melalui grafik, penting untuk mengenali bagian-bagian yang membentuk sebuah candlestick. Setiap komponen mempunyai fungsi berbeda dalam menggambarkan perubahan harga selama periode perdagangan. Dengan memahami bentuk dan karakteristiknya, kamu dapat memperoleh gambaran awal mengenai kekuatan pergerakan harga serta persaingan antara pembeli dan penjual.

    Berikut tiga komponen utama yang perlu kamu ketahui:

    a. Badan lilin (body): Bagian berbentuk persegi panjang ini menunjukkan rentang antara harga pembukaan dan penutupan. Badan yang panjang menggambarkan perubahan harga yang relatif besar selama periode tersebut, sedangkan badan pendek menunjukkan selisih harga yang lebih kecil.

    b. Ekor atau bayangan (shadow atau wick): Garis tipis di atas dan di bawah badan menunjukkan rentang harga tertinggi dan terendah yang sempat dicapai. Ekor atas memperlihatkan pergerakan menuju harga tertinggi, sedangkan ekor bawah menunjukkan pergerakan menuju harga terendah sebelum periode berakhir.

    c. Warna lilin: Warna digunakan untuk membedakan posisi harga penutupan terhadap harga pembukaan. Umumnya, warna hijau menandakan harga ditutup lebih tinggi daripada pembukaan, sedangkan warna merah menunjukkan harga ditutup lebih rendah, meskipun pengaturan warna dapat berbeda pada setiap platform.

    Ketiga komponen tersebut perlu diamati secara bersamaan agar informasi yang diperoleh tidak hanya bergantung pada satu ciri. Misalnya, badan panjang dengan ekor pendek dapat menggambarkan pergerakan harga yang kuat dalam satu arah selama periode perdagangan. Sebaliknya, ekor panjang dapat menunjukkan bahwa harga sempat bergerak jauh sebelum kembali mendekati rentang pembukaan atau penutupan. Pemahaman ini menjadi dasar sebelum mempelajari pola candlestick yang lebih kompleks.

  4. 4. Membaca sinyal candlestick melalui warna, badan, dan ekor

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (pexels.com/Rafael Minguet Delgado)

    Cara membaca candlestick dapat dimulai dengan mengamati hubungan antara harga pembukaan dan penutupan. Jika harga penutupan berada di atas harga pembukaan, lilin umumnya berwarna hijau dan menunjukkan kenaikan harga selama periode tersebut. Sebaliknya, jika harga penutupan berada di bawah harga pembukaan, lilin biasanya berwarna merah yang menandakan penurunan harga. Informasi ini membantu kamu mengenali arah pergerakan harga dalam satu periode, tetapi belum cukup untuk menentukan kecenderungan pasar secara keseluruhan.

    Langkah berikutnya adalah memperhatikan ukuran badan dan panjang ekor untuk memahami karakter pergerakan harga. Badan yang panjang menandakan selisih pembukaan dan penutupan yang besar, sedangkan badan pendek menunjukkan perubahan yang relatif terbatas. Ekor yang panjang memperlihatkan bahwa harga sempat bergerak cukup jauh dari badan sebelum akhirnya kembali, sehingga dapat mencerminkan adanya tekanan dari pihak pembeli maupun penjual. Agar lebih mudah menerapkannya, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membaca grafik candlestick:

    • Periksa warna lilin: Tentukan apakah harga ditutup lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan harga pembukaan.
    • Bandingkan ukuran badan: Amati apakah selisih harga pembukaan dan penutupan menunjukkan pergerakan yang relatif besar atau kecil.
    • Amati panjang ekor: Perhatikan seberapa jauh harga bergerak menuju titik tertinggi dan terendah sebelum periode berakhir.
    • Evaluasi posisi harga dalam tren: Periksa apakah candlestick muncul setelah tren naik, tren turun, atau ketika pasar bergerak mendatar.
    • Perhatikan rangkaian beberapa lilin: Bandingkan bentuk candlestick yang muncul berurutan untuk memperoleh gambaran pergerakan harga yang lebih menyeluruh.

    Dengan menggabungkan berbagai petunjuk tersebut, kamu dapat membaca informasi grafik secara lebih terstruktur. Sebagai contoh, badan hijau yang panjang menunjukkan bahwa harga mengalami kenaikan cukup besar dari pembukaan hingga penutupan, sedangkan badan merah yang panjang menggambarkan penurunan yang relatif besar. Namun, satu bentuk lilin tidak selalu menghasilkan makna yang sama dalam setiap situasi karena lokasi kemunculannya dan kondisi pasar turut memengaruhi interpretasi. Oleh sebab itu, hasil pembacaan sebaiknya dikonfirmasi melalui pola berikutnya atau indikator teknikal lain sebelum digunakan sebagai pertimbangan transaksi.

  5. 5. Mengenali pola candlestick untuk mengidentifikasi peluang pergerakan harga

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (pexels.com/Rafael Minguet Delgado)

    Pola candlestick terbentuk dari susunan satu atau beberapa lilin yang memiliki karakteristik tertentu. Dalam analisis teknikal, pola tersebut digunakan untuk mengamati kemungkinan kelanjutan tren atau perubahan arah pergerakan harga. Beberapa pola menunjukkan dominasi pembeli, sementara pola lainnya menggambarkan tekanan jual atau kondisi ketika kedua pihak relatif seimbang. Meski demikian, pola-pola ini memberikan petunjuk berdasarkan perilaku harga, bukan kepastian mengenai pergerakan yang akan terjadi.

    Ada sejumlah pola yang cukup umum dipelajari oleh investor dan trader, baik yang terbentuk dari satu lilin maupun kombinasi beberapa lilin. Setiap pola mempunyai ciri visual dan interpretasi yang berbeda sehingga penting untuk memahami konteks kemunculannya. Berikut tujuh pola candlestick yang dapat kamu pelajari sebagai dasar analisis teknikal:

    a. Marubozu: Memiliki badan panjang dengan ekor yang sangat pendek atau tidak terlihat. Marubozu hijau sering dikaitkan dengan dominasi pembeli, sedangkan Marubozu merah menunjukkan tekanan jual yang kuat selama periode perdagangan.

    b. Doji: Terbentuk ketika harga pembukaan dan penutupan berada pada level yang sama atau hampir sama. Pola ini mencerminkan keseimbangan relatif antara pembeli dan penjual, tetapi arah pergerakan berikutnya perlu dikonfirmasi melalui kondisi pasar.

    c. Hammer: Memiliki badan kecil di bagian atas dan ekor bawah yang panjang. Pola ini berpotensi mengindikasikan pelemahan tekanan jual ketika muncul setelah tren turun, terutama jika diikuti konfirmasi kenaikan harga.

    d. Shooting Star: Memiliki badan kecil di bagian bawah dengan ekor atas yang panjang. Jika muncul setelah tren naik, pola ini dapat menjadi petunjuk bahwa tekanan jual mulai muncul setelah harga sempat bergerak lebih tinggi.

    e. Bullish Engulfing: Terdiri dari dua lilin ketika badan lilin bullish kedua menutupi badan lilin bearish sebelumnya. Pola ini sering ditafsirkan sebagai indikasi meningkatnya tekanan beli dan kemungkinan perubahan arah menuju tren naik.

    f. Bearish Engulfing: Terbentuk ketika badan lilin bearish menutupi badan lilin bullish sebelumnya. Pola ini dapat menunjukkan bahwa tekanan jual mulai mendominasi dan berpotensi mendorong harga bergerak turun.

    g. Morning Star: Merupakan pola tiga lilin yang biasanya terdiri dari lilin bearish, lilin berbadan kecil, dan lilin bullish. Pola ini kerap diamati setelah tren turun karena dapat mengindikasikan kemungkinan peralihan tekanan dari penjual kepada pembeli.

    Memahami berbagai pola tersebut dapat membantu kamu mengenali karakter pergerakan harga dengan lebih baik. Namun, pola yang sama belum tentu memberikan hasil serupa karena pengaruh tren sebelumnya, volatilitas, dan kondisi pasar dapat berbeda-beda. Untuk meningkatkan kualitas analisis, gunakan pola candlestick bersama indikator teknikal lain serta pertimbangkan pengelolaan risiko sebelum mengambil keputusan investasi atau trading.

    Pada dasarnya, candlestick merupakan alat analisis yang membantu investor dan trader memahami perubahan harga melalui warna, ukuran badan, ekor, serta susunan pola tertentu. Penguasaan dasar-dasarnya dapat menjadi langkah awal untuk mempelajari analisis teknikal secara lebih terarah, meskipun tidak menjamin ketepatan prediksi harga. Karena itu, pelajari pola secara bertahap, lakukan evaluasi terhadap hasil analisis, dan sesuaikan setiap keputusan dengan tujuan serta profil risiko yang kamu miliki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More