Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Di Balik Kekayaan Fantastis, Miliarder Disebut Hidup dalam Kecemasan
ilustrasi miliarder, kaya raya, wealth, sukses, banyak uang (vecteezy.com/Nut Denduangboripant)
  • Psikolog James Schuurmans-Stekhoven menilai bunker, pengamanan ketat, dan pengelolaan reputasi miliarder dapat mencerminkan kecemasan menghadapi ketidakpastian, kritik publik, serta ketimpangan kekayaan.
  • Filantropi miliarder dapat mendanai isu sosial, tetapi juga dipandang sebagai cara membangun penerimaan publik dan citra positif, karena mereka menentukan sendiri prioritas pendanaan melalui yayasan pribadi.
  • Riset psikologi mengaitkan kelas sosial tinggi dengan empati lebih rendah dalam situasi tertentu, sementara kekayaan ekstrem tetap tidak mampu mengendalikan krisis, bencana, perubahan sosial, dan politik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi miliarder mungkin terlihat seperti posisi yang sangat nyaman karena hampir semua kebutuhan bisa dipenuhi tanpa perlu memikirkan harga. Rumah mewah, jet pribadi, kapal pesiar, sampai akses terhadap layanan eksklusif seolah membuat kehidupan mereka jauh dari masalah kebanyakan orang.

Namun, di balik kekayaan fantastis tersebut, sejumlah perilaku orang superkaya justru dinilai memperlihatkan adanya kekhawatiran terhadap masa depan. Mulai dari membangun bunker, menjaga privasi secara ketat, hingga menghabiskan banyak uang untuk mengelola reputasi, semuanya menunjukkan sisi lain kehidupan kelompok elite.

Dr James Schuurmans-Stekhoven, seorang psikolog dan peneliti, bahkan berpendapat bahwa berbagai tindakan tersebut dapat dibaca sebagai tanda kecemasan ketika ketimpangan kekayaan dan kritik terhadap miliarder semakin mendapat perhatian. Kalau selama ini kamu membayangkan kekayaan otomatis memberikan rasa aman tanpa batas, beberapa fenomena berikut mungkin membuatmu melihat kehidupan para miliarder dari perspektif berbeda.

1. Bunker mewah menjadi pilihan untuk menghadapi skenario terburuk

ilustrasi bunker, ruang bawah tanah (unsplash.com/Evgeniy Smersh)

Kamu mungkin mengenal bunker sebagai tempat perlindungan yang identik dengan perang atau bencana besar. Namun, sebagian orang kaya di Silicon Valley diketahui mempersiapkan tempat perlindungan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya keruntuhan sosial, bencana alam, pandemi, maupun berbagai keadaan darurat lainnya. Selandia Baru bahkan pernah menjadi salah satu lokasi yang menarik perhatian kelompok kaya karena dianggap cocok sebagai tempat berlindung ketika terjadi krisis besar.

Persiapan tersebut gak sebatas menyimpan makanan atau membeli rumah di lokasi terpencil. Media theorist Douglas Rushkoff pernah menceritakan pertemuannya dengan orang-orang superkaya yang tertarik membahas cara bertahan setelah sebuah peristiwa besar yang merusak tatanan masyarakat. Salah satu persoalan yang mereka pikirkan adalah bagaimana mempertahankan loyalitas petugas keamanan ketika uang mungkin sudah gak lagi memiliki nilai seperti sebelumnya.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa memiliki kekayaan luar biasa gak selalu bikin seseorang merasa sepenuhnya aman. Ketika kamu mempunyai aset bernilai sangat besar, muncul pula persoalan mengenai bagaimana melindungi kekayaan, keluarga, dan kehidupan yang sudah dibangun. Maka, bunker mewah dapat dilihat bukan hanya sebagai simbol kemampuan finansial, tapi juga sebagai gambaran kekhawatiran menghadapi masa depan yang gak pasti.

2. Filantropi juga menjadi bagian penting dari citra miliarder

Ilustrasi program kemanusiaan (unsplash.com/Joel Muniz)

Banyak miliarder dikenal melalui kegiatan filantropi dengan mendirikan yayasan atau memberikan dana dalam jumlah besar untuk berbagai persoalan sosial. Mulai dari perubahan iklim, kesehatan, pendidikan, sampai pengembangan teknologi, kekayaan pribadi mereka dapat digunakan untuk mendanai proyek yang sulit dilakukan kebanyakan orang. Dari sudut pandang publik, aktivitas tersebut tentunya dapat memberikan manfaat apabila benar-benar menghasilkan perubahan positif.

Namun, Schuurmans-Stekhoven melihat filantropi miliarder dari sudut yang lebih kritis. Menurutnya, kegiatan semacam itu juga dapat berfungsi sebagai cara membangun penerimaan masyarakat dan memperkuat citra positif kelompok superkaya. Dengan kata lain, ketika kekayaan dan ketimpangan ekonomi semakin menjadi bahan perdebatan, filantropi bisa membantu menggeser perhatian publik menuju kontribusi sosial yang mereka berikan.

Pandangan tersebut memang gak berarti semua kegiatan amal miliarder pasti mempunyai motif tersembunyi. Akan tetapi, kamu juga bisa memahami kenapa aktivitas filantropi orang superkaya sering menjadi perdebatan mengenai kekuasaan, reputasi, dan pengaruh. Apalagi, orang dengan kekayaan sangat besar bisa menentukan sendiri isu apa yang mendapat pendanaan melalui yayasan pribadi mereka.

3. Kekayaan besar disebut dapat memengaruhi empati

ilustrasi kemiskinan (unsplash.com/Jonathan Kho)

Menariknya, hubungan antara status ekonomi dan perilaku sosial juga pernah menjadi perhatian dalam penelitian psikologi. Riset yang dilakukan psikolog sosial Paul Piff dan sejumlah koleganya menemukan hubungan antara kelas sosial yang lebih tinggi dengan kecenderungan menunjukkan tingkat empati dan perhatian terhadap orang lain yang lebih rendah dalam beberapa situasi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi sosial dan ekonomi seseorang dapat ikut membentuk cara dirinya melihat kebutuhan orang lain.

Piff menjelaskan bahwa orang dengan sumber daya lebih sedikit cenderung lebih bergantung pada hubungan sosial untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Kondisi tersebut dapat membuat mereka lebih peka terhadap lingkungan sosial dan kebutuhan orang lain. Sebaliknya, kekayaan bisa memberikan tingkat kemandirian yang lebih besar sehingga ketergantungan terhadap orang lain menjadi lebih rendah.

Tentunya, temuan seperti ini gak bisa kamu gunakan untuk menyimpulkan bahwa semua orang kaya otomatis gak mempunyai empati, ya. Perilaku manusia jauh lebih kompleks dan dipengaruhi berbagai faktor selain kondisi ekonomi. Namun, penelitian tersebut memberikan konteks menarik untuk memahami kenapa jarak sosial yang terlalu besar antara kelompok superkaya dan masyarakat umum dapat memengaruhi cara mereka melihat kehidupan sehari-hari.

4. Privasi dan pengelolaan reputasi menjadi semakin penting

ilustrasi privacy, kamera CCTV, privasi, perlindungan keamanan (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

Semakin terkenal dan kaya seseorang, semakin besar pula perhatian yang diarahkan kepadanya. Karena itu, kamu gak perlu heran apabila orang dengan kekayaan miliaran dolar sangat serius menjaga informasi mengenai tempat tinggal, keluarga, perjalanan, maupun aset mereka. Pengamanan pribadi dan pengelolaan informasi menjadi kebutuhan yang jauh berbeda dibandingkan kehidupan kebanyakan orang.

Schuurmans-Stekhoven menyoroti bagaimana firma hukum, konsultan komunikasi, dan berbagai layanan profesional dapat digunakan untuk menjaga reputasi kelompok elite. Jejak digital, pemberitaan negatif, hingga informasi pribadi bisa menjadi persoalan serius ketika seseorang mempunyai profil publik sangat tinggi. Dari sudut pandangnya, kebutuhan mengendalikan begitu banyak informasi tersebut menunjukkan bahwa kekayaan besar juga datang bersama rasa rentan terhadap kritik dan ancaman.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap privasi tentu gak selalu berarti seseorang sedang ketakutan. Orang terkenal memang mempunyai alasan keamanan yang masuk akal untuk membatasi informasi pribadi yang tersedia secara terbuka. Meski begitu, besarnya sumber daya yang digunakan untuk menjaga keamanan dan reputasi memperlihatkan bahwa kehidupan miliarder gak selalu sebebas dan setenang yang mungkin kamu bayangkan.

5. Kekayaan gak otomatis menghilangkan ketidakpastian

ilustrasi kapal pesiar (pexels.com/Julia Volk)

Kekayaan ekstrem memberikan kemampuan yang luar biasa untuk mengurangi banyak risiko kehidupan. Kamu bisa memperoleh tempat tinggal terbaik, layanan kesehatan berkualitas, keamanan pribadi, sampai akses terhadap jaringan orang berpengaruh apabila mempunyai uang dalam jumlah sangat besar. Namun, uang tetap gak mampu memberikan kendali penuh terhadap perubahan politik, bencana, krisis ekonomi, perkembangan teknologi, maupun perubahan sosial.

Hal inilah yang menjadi inti kritik Schuurmans-Stekhoven terhadap perilaku kelompok superkaya. Menurut pandangannya, bunker, kegiatan filantropi, pengamanan ketat, dan pengelolaan reputasi dapat dibaca sebagai respons terhadap meningkatnya kesadaran publik mengenai ketimpangan kekayaan. Semakin besar jarak ekonomi yang tercipta, semakin besar pula kemungkinan munculnya kritik terhadap sistem yang memungkinkan kekayaan terkonsentrasi pada kelompok yang sangat kecil.

Pada akhirnya, fenomena tersebut menunjukkan paradoks menarik dari kehidupan superkaya. Miliaran dolar memang bisa memberikan kenyamanan dan perlindungan yang hampir gak terbatas, tapi belum tentu memberikan perasaan bahwa masa depan sepenuhnya berada dalam kendali. Jadi, ketika kamu melihat kehidupan miliarder yang tampak sempurna dari luar, ada baiknya mengingat bahwa kekayaan fantastis juga dapat membawa persoalan mengenai keamanan, reputasi, ketidakpastian, dan hubungan dengan masyarakat yang gak sederhana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article