Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Era Investasi: Data Goldman Sachs Ungkap Aset Paling Cuan

3 Era Investasi: Data Goldman Sachs Ungkap Aset Paling Cuan
ilustrasi investasi (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Era jangka panjang: 1990–2025, aset berisiko unggul konsisten
  • Era pascakrisis finansial global: 2010–2025, saham dan emas bersinar
  • Era pascapandemik: 2020–2025, emas tampil sebagai juara
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah merasa hasil investasimu berbeda jauh dengan ekspektasi awal? Bisa jadi masalahnya bukan di pilihan aset, lho, tapi di era investasinya. Dilansir dari Visual Capitalist, data menunjukkan kinerja aset keuangan sangat bergantung pada periode waktu tertentu.

Aset yang unggul di satu era belum tentu memberikan hasil yang sama di era lainnya. Karena itu, memahami konteks waktu menjadi hal penting sebelum menentukan strategi investasi.

Data dari Goldman Sachs memberikan gambaran menarik soal bagaimana berbagai aset tampil dalam tiga era berbeda. Dari sini, kamu bisa melihat pola cuan yang berubah seiring zaman.

Table of Content

1. Era jangka panjang: 1990–2025, aset berisiko unggul konsisten

1. Era jangka panjang: 1990–2025, aset berisiko unggul konsisten

3 Era Investasi: Data Goldman Sachs Ungkap Aset Paling Cuan
ilustrasi Goldman Sachs (commons.wikimedia.org/2211473abhijithsaravanan)

Dalam periode panjang sejak 1990 hingga 2025, aset berisiko menunjukkan performa yang relatif lebih unggul dibandingkan instrumen yang lebih konservatif. Berdasarkan data Goldman Sachs, private markets mencatatkan return tahunan tertinggi sekitar 10,5 persen. Angka ini mencerminkan potensi pertumbuhan yang besar, meski diiringi volatilitas tinggi. Artinya, imbal hasilnya menarik, tapi pergerakannya gak selalu mulus.

Saham global juga tampil solid dengan rata-rata return sekitar 8,1 persen per tahun. Meski mengalami berbagai krisis global dalam kurun waktu tersebut, saham tetap mampu memberikan pertumbuhan jangka panjang. Obligasi pemerintah dan obligasi korporasi menawarkan return yang lebih rendah, namun cenderung stabil. Sementara itu, emas berada di posisi tengah sebagai aset yang sering dimanfaatkan untuk diversifikasi portofolio.

2. Era pascakrisis finansial global: 2010–2025, saham dan emas bersinar

3 Era Investasi: Data Goldman Sachs Ungkap Aset Paling Cuan
ilustrasi investasi saham (freepik.com/freepik)

Memasuki periode 2010–2025, pasar keuangan bergerak dalam lingkungan suku bunga rendah yang berlangsung cukup lama. Dalam kondisi ini, saham global mengalami peningkatan performa dengan return tahunan mencapai sekitar 10,5 persen.

Data Goldman Sachs menunjukkan era ini menjadi masa yang sangat menguntungkan bagi investor saham. Banyak pelaku pasar terdorong masuk ke aset berisiko untuk mencari imbal hasil lebih tinggi.

Sebaliknya, obligasi pemerintah global justru mencatatkan return yang sangat terbatas, hanya sekitar 0,9 persen per tahun. Hal ini terjadi karena imbal hasil obligasi tertekan oleh kebijakan moneter longgar.

Emas tetap menunjukkan daya tahannya dengan return sekitar 8,6 persen per tahun, terutama saat pasar mengalami ketidakpastian. Private markets juga masih unggul, meskipun volatilitasnya tetap menjadi catatan penting bagi investor.

3. Era pascapandemik: 2020–2025, emas tampil sebagai juara

3 Era Investasi: Data Goldman Sachs Ungkap Aset Paling Cuan
ilustrasi emas (pexels.com/Zlaťáky.cz)

Periode setelah pandemik menghadirkan dinamika pasar yang jauh berbeda dibandingkan era sebelumnya. Data Goldman Sachs menunjukkan emas menjadi aset dengan performa terbaik dalam rentang 2020–2025.

Return tahunan emas mencapai sekitar 18,4 persen, menjadikannya yang paling cuan di era ini. Kondisi inflasi tinggi, ketegangan geopolitik, dan perubahan kebijakan moneter ikut mendorong lonjakan harga emas.

Saham global tetap mencatatkan pertumbuhan kuat dengan return sekitar 12,5 persen per tahun, meski volatilitasnya meningkat. Di sisi lain, obligasi pemerintah global justru mengalami tekanan berat dan mencatatkan return negatif. Kenaikan suku bunga yang agresif berdampak langsung pada penurunan harga obligasi. Sementara itu, real estate dan obligasi korporasi menunjukkan kinerja yang relatif lemah dibandingkan periode sebelumnya.

Data dari Goldman Sachs menunjukkan, tidak ada satu aset yang selalu unggul di semua era. Private markets berjaya dalam jangka panjang, saham mendominasi pasca krisis finansial global, dan emas menjadi pemenang di era pascapandemik.

Perubahan kondisi ekonomi global membuat pola cuan ikut bergeser dari waktu ke waktu. Bagi kamu, pelajaran terpentingnya adalah memahami konteks sebelum berinvestasi. Dengan begitu, strategi investasi bisa lebih adaptif dan relevan dengan zamannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

Gaji Supervisor di Indonesia Berdasarkan Pengalaman dan Industri

29 Jan 2026, 06:28 WIBBusiness