Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Laba Netflix Melonjak 44 Persen, Saham Turun Imbas Prospek Iklan
ilustrasi logo Netflix (unsplash.com/BoliviaInteligente)
  • Netflix membukukan laba bersih kuartal III 2026 sebesar 3,66 miliar dolar AS, naik hampir 44 persen, sementara pendapatan tumbuh 11,8 persen menjadi 12,87 miliar dolar AS.
  • Netflix memangkas target pendapatan iklan 2026 menjadi 2,7 miliar dolar AS akibat lambatnya peluncuran fitur iklan, memicu saham turun 4,1 persen dalam perdagangan after-hours.
  • Perusahaan merencanakan PHK sekitar 1.000 posisi, menunjuk Peter Rice sebagai pemimpin konten global, dan menyiapkan sejumlah serial serta film untuk kuartal keempat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Layanan streaming asal Amerika Serikat, Netflix, membukukan kenaikan laba bersih kuartal ketiga tahun 2026 sebesar hampir 44 persen secara tahunan. Pertumbuhan pendapatan perseroan terdorong oleh pertambahan jumlah anggota, kenaikan tarif langganan, pendapatan iklan, serta pergerakan positif kurs valuta asing.

Meski laba melesat, perusahaan memangkas perkiraan pendapatan iklan setahun penuh pada Selasa (20/10/2026) waktu setempat karena lambatnya implementasi fitur produk periklanan. Keputusan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar modal terhadap potensi perlambatan pendapatan hingga menekan pergerakan sahamnya dalam perdagangan after-hours.

1. Kinerja laba kuartal ketiga melampaui ekspektasi analis pasar

ilustrasi grafik ekonomi (pexels.com/Monstera Production)

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dikutip Xinhua, laba bersih Netflix untuk kuartal yang berakhir 30 September 2026 mencapai 3,66 miliar dolar AS atau setara Rp69,42 triliun (kurs Rp18.967). Realisasi tersebut melonjak 44 persen dibandingkan perolehan 2,55 miliar dolar AS atau setara Rp48,37 triliun pada kuartal yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, pendapatan naik 11,8 persen secara tahunan menjadi 12,87 miliar dolar AS atau setara Rp244,11 triliun, melambat dari laju 13,4 persen pada kuartal kedua.

Laba operasional perseroan tumbuh 37 persen menjadi 4,46 miliar dolar AS atau setara Rp84,59 triliun dengan margin operasional meningkat dari 28,2 persen menjadi 34,6 persen. Laba per saham dilusian tercatat 87 sen, melampaui estimasi konsensus analis yang berada di level 82 sen per saham. Untuk setahun penuh 2026, perseroan memproyeksikan total pendapatan sekitar 51,1 miliar dolar AS atau setara Rp969,21 triliun dengan margin operasional 31,5 persen.

Namun, manajemen memangkas target pendapatan iklan tahun 2026 menjadi sekitar 2,7 miliar dolar AS atau setara Rp51,21 triliun dari proyeksi awal sebesar tiga miliar dolar AS atau setara Rp56,90 triliun. Perseroan menyatakan penyesuaian target itu disebabkan lambatnya peluncuran kapabilitas produk iklan tertentu.

Untuk kuartal keempat, Netflix memperkirakan pendapatan 13,44 miliar dolar AS atau setara Rp254,92 triliun—sedikit di bawah estimasi konsensus analis sebesar 13,5 miliar dolar AS—dan laba bersih 2,79 miliar dolar AS atau setara Rp52,92 triliun dengan laba per saham 67 sen, berada di bawah estimasi analis sebesar 73 sen.

2. Prospek periklanan menekan saham di tengah ketatnya kompetisi

ilustrasi orang menonton film (pexels.com/cottonbro studio)

Saham Netflix turun 2,79 dolar AS atau setara Rp52.918, atau terpangkas 4,1 persen menjadi 65,90 dolar AS atau setara Rp1,25 juta dalam perdagangan after-hours. Penurunan tersebut menambah koreksi harga saham perseroan yang telah melemah sekitar 25 persen sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026). Para pemodal melepas saham setelah perseroan memangkas panduan penjualan iklan.

Analis senior Emarketer, Ross Benes, menyoroti kendala yang dihadapi Netflix dalam diversifikasi pendapatan di luar biaya berlangganan. "Dengan tekanan pada Netflix untuk menemukan lini pendapatan alternatif di luar langganan, sangat mengkhawatirkan bahwa perusahaan menurunkan perkiraan untuk bisnis iklannya," kata Benes.

Ia menilai perombakan strategi konten belum cukup menuntaskan tantangan ini meski merupakan awal yang baik, serta menyebut panduan perusahaan kini tidak seagresif dari apa yang biasa diharapkan investor.

Manajer portofolio Gabelli Funds, John Belton, turut memaparkan sejumlah sentimen negatif yang dicemaskan investor. "Investor khawatir tentang tren keterlibatan penonton yang melunak, perlambatan pertumbuhan pendapatan, prospek ekspansi margin yang lebih lambat, dan baru-baru ini perubahan kepemimpinan eksekutif konten," ujar Belton.

Selain masalah internal, perseroan menghadapi persaingan dari Amazon Prime Video, Disney+, Skydance menyusul pembelian Warner Bros. Discovery oleh Paramount senilai 81 miliar dolar AS atau setara Rp1.536,33 triliun yang menyatukan HBO Max dan Paramount+ di bawah satu atap, serta platform YouTube dan TikTok. Perseroan sebelumnya juga membatalkan penawaran pembelian studio dan bisnis streaming milik Warner Bros. Discovery pada Februari lalu.

3. Perubahan organisasi, pergantian eksekutif, dan rilis film anyar

ilustrasi kru film (pexels.com/Lê Minh)

Sebelum merilis kinerja kuartalannya, Netflix mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar enam persen tenaga kerjanya pada pekan lalu. Kebijakan tersebut mencakup hampir 1.000 posisi pekerjaan yang diambil seiring penerapan perubahan organisasi yang lebih luas. Berdasarkan data dokumen resmi pada akhir 2025, perusahaan tercatat memiliki sekitar 16.000 karyawan purnawaktu di seluruh dunia.

Perusahaan juga mengumumkan bahwa Chief Content Officer Bela Bajaria, yang telah berkarier di Netflix selama hampir sepuluh tahun, digantikan oleh Peter Rice. Mulai 26 Oktober 2026, Rice akan memimpin organisasi konten global Netflix yang mencakup serial bernaskah, non-naskah, film, hingga siaran langsung di berbagai kawasan.

Untuk kuartal keempat berjalan, daftar tayangan mendatang meliputi East of Eden, musim keempat The Diplomat, serta musim keenam sekaligus pemungkas Emily in Paris. Netflix baru-baru ini juga merilis film Spanyol La Bola Negra berbiaya produksi 15 juta dolar AS atau setara Rp284,51 miliar yang menembus pendapatan 313.391 dolar AS atau setara Rp5,94 miliar selama akhir pekan hingga Senin di empat bioskop. Penayangan film tentang kehidupan tiga pria gay dari era awal abad ke-20, Perang Saudara Spanyol, hingga masa kini tersebut menandai pertama kalinya Netflix mengungkap data pendapatan box office.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article