Suvei: RI Tertinggi soal Kepuasan Gaji, Singapura Terendah di Asia Pasifik

- Survei Jobstreet by SEEK 2025 menunjukkan Indonesia memiliki tingkat kepuasan gaji tertinggi di Asia-Pasifik, dengan 66 persen pekerja merasa puas meski rata-rata pendapatan tidak setinggi negara lain.
- Singapura justru mencatat kepuasan gaji terendah kedua, hanya 37 persen responden yang puas, menandakan nominal tinggi belum tentu berbanding lurus dengan rasa puas terhadap penghasilan.
- Generasi muda menilai kepuasan kerja bukan hanya soal angka gaji, tapi juga penghargaan, keadilan, dan peluang berkembang; sementara pindah kerja terbukti memberi kenaikan gaji lebih besar.
Pernah gak sih, kamu merasa gaji yang diterima sebenarnya sudah cukup besar, tapi tetap belum benar-benar puas? Ternyata perasaan seperti itu juga dialami banyak pekerja di berbagai negara, lho.
Menariknya, tingkat kepuasan terhadap gaji gak selalu sejalan dengan besarnya pendapatan yang diterima. Survei Salary Pulse: Singapore 2026 yang dirilis oleh Jobstreet by SEEK menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan.
Survei ini dilakukan pada Februari 2025 dengan melibatkan 1.008 pekerja di Singapura berusia 18 hingga 64 tahun, serta membandingkan data dengan pekerja di sejumlah negara Asia-Pasifik seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Hong Kong, Australia, dan Selandia Baru.
Hasilnya, Indonesia justru menjadi negara dengan tingkat kepuasan gaji tertinggi, sementara Singapura yang dikenal sebagai salah satu negara dengan pendapatan tinggi malah berada di posisi bawah. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Table of Content
1. Indonesia menjadi negara paling puas dengan gaji

Hasil survei menunjukkan bahwa Indonesia mencatat tingkat kepuasan gaji tertinggi di kawasan Asia-Pasifik. Sebanyak 66 persen pekerja Indonesia mengaku puas dengan penghasilan yang mereka terima. Angka tersebut berada di atas Filipina yang mencatat 59 persen, Thailand 50 persen, serta Malaysia dan Australia yang sama-sama berada di angka 49 persen.
Temuan ini cukup menarik karena Indonesia bukan negara dengan rata-rata gaji tertinggi di kawasan. Meski begitu, banyak pekerja Indonesia tampaknya merasa penghasilan yang mereka dapatkan masih sesuai dengan kebutuhan dan harapan mereka. Faktor ekspektasi, biaya hidup, serta persepsi terhadap kesejahteraan kemungkinan ikut memengaruhi tingkat kepuasan tersebut.
2. Singapura justru berada di posisi bawah

Di sisi lain, Singapura mencatat tingkat kepuasan gaji yang jauh lebih rendah. Hanya 37 persen responden yang mengatakan puas dengan gaji mereka. Angka itu membuat Singapura menjadi negara dengan tingkat kepuasan gaji terendah kedua di Asia-Pasifik, hanya sedikit lebih baik dibanding Hong Kong yang berada di angka 34 persen.
Kondisi ini cukup mengejutkan karena Singapura dikenal memiliki tingkat pendapatan yang relatif tinggi. Banyak orang mungkin mengira bahwa semakin besar gaji seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat kepuasannya. Namun hasil survei menunjukkan bahwa kenyataannya gak sesederhana itu. Kepuasan terhadap gaji ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor lain di luar nominal penghasilan.
3. Gaji dianggap cukup, tapi belum terasa memuaskan

Menariknya, sebanyak 71 persen pekerja Singapura mengaku merasa dibayar secara adil atau cukup baik. Namun ketika ditanya soal kepuasan, sebagian besar dari mereka tetap gak merasa benar-benar puas dengan kompensasi yang diterima. Bahkan sekitar 70 persen pekerja yang menganggap gajinya sudah sesuai tetap mengaku netral atau tidak puas.
Kondisi tersebut terlihat lebih kuat pada generasi muda. Di kalangan Gen Z, sekitar 80 persen responden yang merasa gajinya sudah cukup tetap belum merasakan kepuasan. Temuan ini menunjukkan bahwa pekerja masa kini gak hanya melihat angka di slip gaji. Mereka juga mempertimbangkan apakah penghargaan yang diterima terasa sepadan dengan kontribusi yang diberikan.
4. Generasi muda punya ekspektasi yang berbeda

Laporan survei menunjukkan, banyak pekerja, terutama generasi muda, menginginkan lebih dari sekadar gaji yang sesuai standar pasar. Mereka ingin merasa dihargai secara nyata atas pekerjaan yang dilakukan. Selain itu, mereka juga menilai apakah penghasilan tersebut mampu mendukung gaya hidup dan tujuan hidup yang mereka miliki.
Jaslyn Koh, Head of Remuneration and Benefits Asia di SEEK, menjelaskan bahwa ketidakpuasan pekerja saat ini bukan lagi semata-mata dipicu oleh besaran gaji. Penilaian terhadap keadilan, pengakuan atas kontribusi, hingga transparansi mengenai sistem pengupahan ikut membentuk persepsi seseorang terhadap pekerjaannya. Karena itulah, perusahaan kini menghadapi tantangan baru dalam menjaga kepuasan karyawan.
5. Pindah kerja terbukti memberi kenaikan gaji lebih besar

Survei juga menemukan fakta menarik terkait kenaikan gaji. Sebagian besar responden memang memperoleh kenaikan upah dari perusahaan tempat mereka bekerja saat ini. Namun besarnya kenaikan ternyata jauh berbeda dibanding mereka yang memilih pindah pekerjaan.
Hanya sekitar 6 persen pekerja yang bertahan di posisi yang sama mendapatkan kenaikan gaji lebih dari 10 persen. Sebaliknya, sekitar 30 persen pekerja yang berpindah perusahaan berhasil memperoleh kenaikan gaji di atas 10 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa banyak pekerja merasa peluang peningkatan pendapatan lebih besar ketika mencari kesempatan baru dibanding tetap bertahan di tempat lama.
Hasil survei ini memperlihatkan bahwa kepuasan terhadap gaji gak selalu ditentukan oleh besarnya pendapatan. Indonesia berhasil mencatat tingkat kepuasan tertinggi di Asia-Pasifik, sementara Singapura justru berada di kelompok terbawah meski memiliki standar gaji yang relatif tinggi.
Banyak pekerja saat ini mencari lebih dari sekadar penghasilan yang layak. Pengakuan atas kontribusi, peluang berkembang, keseimbangan hidup, serta rasa dihargai ternyata memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk kepuasan kerja. Bagi kamu yang sedang membangun karier, temuan ini menjadi pengingat bahwa angka gaji hanyalah salah satu bagian dari kepuasan bekerja secara keseluruhan.



















