Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Triwulan I 2026, Kinerja dan Likuiditas BRI Terjaga di Level Memadai
Gedung BRI (dok. BRI)
  • BRI mencatat kinerja keuangan solid pada Triwulan I 2026 dengan likuiditas kuat dan LDR 86,7 persen, menunjukkan fungsi intermediasi yang tetap optimal di tengah ketidakpastian ekonomi global.

  • Efisiensi pendanaan meningkat lewat penurunan cost of fund dari 3,0 persen menjadi 2,3 persen serta kenaikan rasio CASA menjadi 68,1 persen, menandakan strategi pengelolaan dana murah yang efektif.

  • Capital Adequacy Ratio BRI mencapai 22,90 persen, memberi ruang ekspansi kredit terutama untuk UMKM secara prudent sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan likuiditas dan ketahanan permodalan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melaporkan kinerja keuangan yang tetap sehat dan likuid pada Triwulan I 2026, dengan pertumbuhan bisnis yang terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
  • Who?
    Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi bersama manajemen BRI menyampaikan capaian kinerja, termasuk rasio likuiditas dan permodalan perusahaan.
  • Where?
    Penyampaian informasi dilakukan di Jakarta, sebagai pusat kegiatan korporasi dan pelaporan keuangan BRI.
  • When?
    Laporan mencakup periode hingga akhir Maret 2026 atau Triwulan I tahun 2026.
  • Why?
    Kinerja positif terjadi karena penerapan prinsip kehati-hatian, pengelolaan risiko disiplin, serta strategi optimalisasi struktur pendanaan dan peningkatan dana murah.
  • How?
    BRI menjaga loan to deposit ratio di level 86,7 persen, menurunkan cost of fund menjadi 2,3 persen, meningkatkan rasio CASA menjadi 68,1 persen, serta mempertahankan CAR di posisi kuat sebesar 22,90 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menunjukkan kinerja keuangan yang solid dan resilien di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Hingga akhir Triwulan I 2026, BRI mampu menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat dengan tetap mengedepankan prinsip prudential banking dan manajemen risiko yang disiplin.

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengungkapkan, dari sisi likuiditas, BRI mencatatkan rasio likuiditas yang tetap kuat dan berada jauh di atas ketentuan regulator. “Hingga akhir Maret 2026, loan to deposit ratio (LDR) BRI tercatat 86,7 persen yang menurut kami masih ideal dalam hal mengelola fungsi intermediary, tidak terlalu ketat namun juga cukup optimal untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan,” ujar Achmad Royadi.

1. Menjaga disiplin dalam pengelolaan likuiditas ini secara konsisten

ilustrasi laporan keuangan (Freepik.com/Freepik)

Dari sisi struktur pendanaan, BRI terus menunjukkan perbaikan yang signifikan, khususnya dalam pengelolaan biaya dana dan komposisi dana murah. Cost of fund berbasis dana pihak ketiga berhasil ditekan dari 3,0 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 2,3 persen pada Triwulan I 2026, atau turun sebesar 65 basis poin. 

Penurunan ini mencerminkan efektivitas strategi BRI dalam mengoptimalkan struktur funding, khususnya melalui peningkatan porsi dana murah. Hal tersebut sejalan dengan peningkatan rasio CASA yang naik dari 65,8 persen di Triwulan I 2025 menjadi 68,1 persen di Triwulan I 2026. 

“Yang juga penting, kami menjaga disiplin dalam pengelolaan likuiditas ini secara konsisten. Hal ini tidak hanya untuk memastikan kecukupan dana, tetapi juga berdampak langsung pada efisiensi biaya dana (cost of fund) serta kualitas struktur pendanaan yang semakin optimal,” imbuhnya.

2. Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI berada di level 22,90%

Gedung BRI (dok. BRI)

Dari sisi permodalan, posisi perseroan saat ini sangat kuat. Hal tersebut tercermin Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI berada di level 22,90 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator bagi BRI sebagai bank sistemik.

Dengan level permodalan tersebut, BRI memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mendukung ekspansi bisnis secara prudent, sekaligus memberikan buffer yang memadai dalam menyerap berbagai potensi risiko ke depan.

3. Menjaga keseimbangan antara pertumbuhan likuiditas & ketahanan permodalan

ilustrasi Teller bank BRI (bri.co.id)

Artinya, struktur permodalan BRI saat ini benar-benar memberikan ruang yang fleksibel untuk terus mendorong pertumbuhan kredit, khususnya di segmen UMKM dan pembiayaan produktif, tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.

“Ke depan, kami akan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan likuiditas dan ketahanan permodalan, sehingga BRI dapat terus berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” pungkas Achmad Royadi. (WEB)

Editorial Team

Related Article