Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

LPEM UI Proyeksikan BI Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen

LPEM UI Proyeksikan BI Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen
Kantor Bank Indonesia (BI). IDN Times/Hana Adi Perdana
Intinya Sih
  • LPEM FEB UI memproyeksikan BI akan menahan suku bunga acuan di 5,75 persen pada RDG Juli 2026 sambil mengevaluasi dampak kebijakan moneter terhadap rupiah, inflasi, dan ekonomi domestik.
  • Inflasi diperkirakan tetap dalam target BI namun berisiko naik akibat ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi global, serta curah hujan rendah yang bisa menekan harga pangan.
  • Pengetatan moneter tambahan dinilai hanya memberi dukungan terbatas bagi rupiah karena tekanan eksternal masih kuat dan bisa membebani kredit serta aktivitas ekonomi nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, BI diperkirakan memilih menahan suku bunga sembari mengevaluasi dampak pengetatan kebijakan moneter yang telah ditempuh terhadap nilai tukar rupiah, inflasi, dan aktivitas ekonomi domestik.

"Kami memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur mendatang sambil mengevaluasi dampak pengetatan kebijakan terbaru terhadap nilai tukar, inflasi, dan aktivitas ekonomi domestik," ujar Riefky, Rabu (22/7/2026).

1. Inflasi diperkirakan tetap dalam target tapi ada potensi meningkat

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)
ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Menurut dia, inflasi diperkirakan tetap berada dalam kisaran target BI. Namun, risiko kenaikan inflasi meningkat seiring memanasnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi global dan memicu inflasi impor.

"Namun, tekanan inflasi ini sebagian besar didorong oleh sisi penawaran sehingga kemungkinan besar tidak dapat diatasi secara efektif hanya melalui pengetatan moneter tambahan," ujarnya.

Ke depan, tekanan inflasi pada Juli 2026 diperkirakan akan tetap tinggi seiring berlanjutnya pass-through kenaikan biaya transportasi dan energi ditambah kenaikan musiman belanja terkait pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, dan Kalimantan sepanjang Juli dan Agustus yang berpotensi menambah tekanan pada harga beras dan komoditas hortikultura.

"Sejalan dengan hal tersebut, Indeks Ekspektasi Harga dari Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia turut mengindikasikan penguatan ekspektasi inflasi jangka pendek, meningkat dari 175,8 pada Juli menjadi 178,0 pada Agustus," ungkapnya.

2. Langkah moneter BI sudah bisa menahan volatilitas

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Sejak Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga kebijakan secara kumulatif sebesar 100 basis poin (bps) guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan meningkatkan daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

"Terus melemahnya rupiah, meskipun suku bunga lebih tinggi dan disertai intervensi di pasar valuta asing, menunjukkan bahwa langkah-langkah moneter mungkin telah mampu menahan volatilitas, tetapi belum membalikkan tekanan yang bersifat mendasar," kata Riefky.

3. Pengetatan moneter lebih lanjut akan berikan dukungan tambahan terbatas

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)
ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Lebih lanjut, Riefky menilai permintaan dolar AS dari investor global, kebutuhan valuta asing korporasi, serta kekhawatiran terhadap komitmen fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah masih mengimbangi manfaat dari selisih suku bunga yang lebih lebar.

"Oleh karena itu, pengetatan moneter lebih lanjut kemungkinan hanya akan memberikan dukungan tambahan yang terbatas terhadap rupiah, tetapi berpotensi membebani penyaluran kredit, investasi, dan aktivitas ekonomi domestik," ucap Riefky.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More