Diworsification: Risiko Investasi Portofolio dan Cara Mencegahnya

- Diworsification terjadi saat portofolio terlalu banyak berisi aset serupa, membuat risiko meningkat tanpa menambah potensi imbal hasil, berbeda dengan diversifikasi yang justru menyeimbangkan risiko dan keuntungan.
- Investor individu lebih rentan mengalami diworsification karena keterbatasan akses terhadap teknologi penghitungan portofolio optimal yang biasanya dimiliki investor institusional.
- Risiko diworsification dapat dikurangi melalui penasihat keuangan, robo advisor, atau alokasi aset berbasis profil risiko sambil memperhatikan korelasi antar aset agar portofolio tetap seimbang.
Jakarta, IDN Times - Menambah jumlah aset dalam portofolio tidak selalu membuat investasi menjadi lebih aman. Dalam dunia investasi, ada istilah diworsification, yaitu kondisi ketika investor memasukkan terlalu banyak instrumen yang memiliki karakteristik serupa ke dalam portofolionya.
Dilansir Investopedia, alih-alih menurunkan risiko, langkah tersebut justru bisa meningkatkan risiko tanpa memberikan tambahan potensi imbal hasil.
Konsep tersebut menjadi kebalikan dari diversifikasi. Jika diversifikasi bertujuan menyeimbangkan risiko dan potensi keuntungan melalui kombinasi aset yang berbeda, diworsification justru mengganggu keseimbangan tersebut karena komposisi portofolio menjadi terlalu bertumpuk pada aset yang memiliki pergerakan serupa.
1. Diworsification muncul ketika portofolio kehilangan keseimbangan

Istilah diworsification berasal dari permainan kata diversification. Dalam diversifikasi, investor menggabungkan aset dengan tingkat korelasi yang berbeda agar penurunan nilai pada satu aset tidak terlalu memengaruhi kinerja portofolio secara keseluruhan.
Sebaliknya, diworsification menggambarkan kondisi ketika penambahan aset tidak lagi meningkatkan kualitas portofolio. Konsep ini bertolak belakang dengan modern portfolio theory, yaitu pendekatan yang digunakan untuk menentukan kombinasi aset paling optimal agar investor memperoleh imbal hasil terbaik sesuai tingkat risiko yang diambil.
Penerapan teori tersebut membutuhkan data, teknologi, dan pemantauan yang memadai. Karena keterbatasan itu, investor individu lebih rentan mengalami diworsification.
Kondisi itu dapat dipicu oleh beberapa hal, seperti keputusan investasi yang didasarkan pada dorongan sesaat, perubahan gaya investasi, hingga kecenderungan menempatkan porsi terlalu besar pada sektor yang sedang dianggap menjanjikan. Akibatnya, portofolio menjadi terlalu terkonsentrasi pada aset yang memiliki karakteristik serupa.
2. Mengapa investor individu lebih rentan?

Investor institusional umumnya memiliki akses terhadap teknologi yang mampu menghitung komposisi portofolio secara optimal. Teknologi tersebut memanfaatkan konsep efficient frontier untuk menyusun alokasi aset yang paling efisien berdasarkan tingkat risiko dan potensi imbal hasil.
Pendekatan itu berlandaskan modern portfolio theory, yang menggunakan capital market line dan efficient frontier sebagai acuan dalam menentukan komposisi investasi.
Fasilitas seperti itu hampir tidak tersedia bagi investor individu. Karena itu, kebanyakan investor hanya mengandalkan panduan alokasi berdasarkan kelas aset. Investor yang ingin membangun portofolio secara lebih optimal biasanya membutuhkan bantuan atau pendekatan lain untuk menentukan komposisi investasinya.
3. Cara mengurangi risiko diworsification

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko diworsification. Salah satunya melalui penasihat keuangan. Mereka dapat membantu menyusun alokasi aset, menentukan bobot setiap instrumen dalam portofolio, serta melakukan rebalancing agar komposisi investasi tetap sesuai tujuan dan tingkat risiko investor.
Pilihan lain adalah menggunakan robo advisor atau managed wrap account. Layanan ini menyusun rekomendasi portofolio berdasarkan profil risiko investor dengan mengacu pada teori portofolio modern. Namun, pilihan aset yang digunakan tetap terbatas. Pada robo advisor, misalnya, alokasi optimal umumnya hanya disusun dari sekitar 10 exchange-traded fund (ETF) milik perusahaan manajemen investasi yang menjadi mitranya.
Investor individu juga dapat mengacu pada alokasi aset yang umum digunakan berdasarkan profil risiko. Investor konservatif biasanya lebih banyak menempatkan dana pada instrumen berisiko rendah, seperti dana pasar uang, dana pinjaman, dan dana obligasi. Investor moderat cenderung membagi portofolio secara seimbang antara saham dan instrumen pendapatan tetap. Sementara itu, investor agresif dapat menempatkan hingga sekitar 90 persen portofolionya pada saham dan instrumen pertumbuhan.
Meski demikian, pembagian berdasarkan kelas aset belum sepenuhnya menghilangkan risiko diworsification. Investor tetap perlu memperhatikan hubungan atau korelasi antaraset dalam portofolionya.
Sebagai contoh, sebuah saham berpotensi tumbuh tinggi belum tentu memberikan manfaat tambahan jika pergerakannya sangat mirip dengan saham lain yang sudah dimiliki. Karena itu, selain mempertimbangkan prospek pertumbuhan, investor juga perlu melihat korelasi investasi baru dengan aset yang telah ada agar penambahan instrumen benar-benar meningkatkan kualitas portofolio.







![[QUIZ] Di Umur Berapa Kamu akan Menjadi Miliarder? Cek di Quiz Ini!](https://image.idntimes.com/post/20220713/fromandroid-ce0d4472c42654a331fe783d6c694d5b.jpg)




![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin Ini, Kami Tebak Potensi Kariermu](https://image.idntimes.com/post/20260418/1000232033_f37515da-3b65-41de-a721-1bb5306f1320.jpg)






