Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Uang Beredar Indonesia Naik 9,6 Persen Jadi Rp10.133 Triliun

ilustrasi rupiah
ilustrasi rupiah (pixabay.com/IqbalStock)
Intinya sih...
  • Pertumbuhan M2 didorong uang beredar sempit dan uang kuasi.
  • Tagihan ke pemerintah dan kredit jadi faktor utama.
  • Aktiva luar negeri bersih tumbuh lebih moderat.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mengalami peningkatan pada Desember 2025. Pertumbuhan uang beredar tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, seiring dengan meningkatnya penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat.

Berdasarkan data BI, M2 pada Desember 2025 tumbuh 9,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dari pertumbuhan November 2025 sebesar 8,3 persen yoy. Dengan pertumbuhan tersebut, total uang beredar mencapai Rp10.133,1 triliun.

1. Pertumbuhan M2 didorong uang beredar sempit dan uang kuasi

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. (IDN Times/Anata)
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso. (IDN Times/Anata)

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, peningkatan M2 pada akhir 2025 terutama didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) dan uang kuasi.

“Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,0 persen yoy dan uang kuasi sebesar 5,5 persen yoy,” ujar Ramdan dalam siaran pers, Jumat (23/1/2026).

M1 mencakup uang kartal yang diedarkan serta simpanan giro rupiah, sedangkan uang kuasi meliputi simpanan berjangka, tabungan, dan simpanan dalam valuta asing milik penduduk. Kinerja kedua komponen tersebut menjadi faktor utama yang menopang peningkatan likuiditas perekonomian pada Desember 2025.

2. Tagihan ke pemerintah dan kredit jadi faktor utama

ilustrasi kredit rekening koran (pexels.com/Ahsanjaya)
ilustrasi kredit rekening koran (pexels.com/Ahsanjaya)

BI menyebut, perkembangan M2 pada Desember 2025 terutama dipengaruhi oleh meningkatnya tagihan bersih sistem moneter kepada Pemerintah Pusat (Pempus) serta penyaluran kredit oleh perbankan.

Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh sebesar 13,6 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada November 2025 yang tercatat 8,7 persen yoy. Peningkatan tersebut mencerminkan bertambahnya posisi tagihan sistem moneter terhadap pemerintah.

Sementara itu, penyaluran kredit pada Desember 2025 tercatat tumbuh 9,3 persen yoy, meningkat dari pertumbuhan November 2025 sebesar 7,9 persen yoy. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp8.448,1 triliun.

Dalam catatan BI, kredit yang dihitung hanya mencakup pinjaman (loans) dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga, tagihan akseptasi, serta transaksi repo. Kredit kepada Pemerintah Pusat dan bukan penduduk juga tidak termasuk dalam perhitungan tersebut.

3. Aktiva luar negeri bersih tumbuh lebih moderat

Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021). Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) di level 3,5 persen (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Ilustrasi Bank Indonesia. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Selain faktor domestik, BI juga mencatat perkembangan aktiva luar negeri bersih sebagai salah satu komponen yang memengaruhi uang beredar. Pada Desember 2025, aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 8,9 persen yoy.

Angka tersebut sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,7 persen yoy. Meski demikian, aktiva luar negeri bersih tetap memberikan kontribusi positif terhadap likuiditas perekonomian nasional.

4. Uang primer tumbuh dua digit

Ilustrasi rupiah yang menggambarkan penundaan kontribusi pembayaran Indonesia dalam proyek KF-21.
Ilustrasi rupiah yang menggambarkan penundaan kontribusi pembayaran Indonesia dalam proyek KF-21. (unsplash.com/Mufid Majnun)

Sejalan dengan peningkatan M2, Uang Primer (M0) adjusted juga mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi pada Desember 2025. BI mencatat M0 adjusted tumbuh 16,8 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan November 2025 sebesar 13,3 persen yoy.

Dengan pertumbuhan tersebut, posisi M0 adjusted tercatat sebesar Rp2.367,8 triliun. Kinerja uang primer ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 35,1 persen yoy serta uang kartal yang diedarkan sebesar 12,9 persen yoy.

“Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted),” ujar Ramdan.

Data BI menunjukkan, peningkatan uang beredar pada Desember 2025 mencerminkan bertambahnya likuiditas di perekonomian nasional. Kenaikan ini terjadi seiring dengan penguatan penyaluran kredit perbankan serta peningkatan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat, dengan tetap didukung oleh komponen uang primer dan aktiva luar negeri bersih.

FAQ seputar Uang Beredar

Berapa pertumbuhan uang beredar Indonesia pada Desember 2025?

Uang beredar (M2) tumbuh 9,6 persen yoy dengan nilai Rp10.133,1 triliun.

Faktor apa yang mendorong kenaikan uang beredar?

Peningkatan didorong pertumbuhan M1, uang kuasi, tagihan bersih ke Pemerintah Pusat, dan penyaluran kredit.

Bagaimana perkembangan uang primer pada Desember 2025?

Uang primer (M0) adjusted tumbuh 16,8 persen yoy menjadi Rp2.367,8 triliun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

5 Strategi Finansial Efektif untuk Pekerja Remote dan Digital Nomad

23 Jan 2026, 20:32 WIBBusiness