Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Merasa Miskin meski Gaji Besar? Mungkin Kamu Alami Money Dysmorphia

Merasa Miskin meski Gaji Besar? Mungkin Kamu Alami Money Dysmorphia
ilustrasi memegang uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Intinya Sih
  • Money dysmorphia adalah kondisi ketika seseorang merasa miskin meski finansialnya stabil, akibat persepsi keliru terhadap uang dan perbandingan sosial yang berlebihan.

  • Media sosial memperkuat money dysmorphia karena menampilkan gaya hidup glamor yang sering tidak mencerminkan kenyataan, membuat banyak orang merasa tertinggal secara finansial.

  • Penelitian menunjukkan 43 persen Gen Z dan milenial mengalami money dysmorphia; solusi utamanya adalah fokus pada tujuan finansial pribadi dan memahami kondisi keuangan secara realistis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah gak sih, kamu merasa penghasilanmu sebenarnya sudah cukup besar, tapi tetap merasa seperti kekurangan uang? Gaji naik, tabungan ada, tapi perasaan tertinggal dari orang lain tetap muncul.

Setiap kali melihat teman liburan ke luar negeri, makan di restoran mahal, atau membeli barang branded, kamu jadi bertanya-tanya apakah penghasilanmu sebenarnya masih kurang. Situasi seperti ini ternyata cukup umum terjadi, lho, terutama di era media sosial saat gaya hidup orang lain terlihat begitu glamor.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah money dysmorphia. Kondisi ini membuat seseorang memiliki persepsi yang keliru tentang kondisi keuangannya sendiri. Biar lebih paham, yuk kenali apa itu money dysmorphia, bagaimana tanda-tandanya, serta cara mengatasinya supaya hubunganmu dengan uang bisa lebih sehat.

1. Apa itu money dysmorphia

Merasa Miskin meski Gaji Besar? Mungkin Kamu Alami Money Dysmorphia
ilustrasi pegang uang US dollar (pexels.com/Kaboompics.com)

Money dysmorphia merupakan kondisi ketika seseorang memiliki jarak antara persepsi tentang kondisi finansialnya dengan kenyataan sebenarnya. Artinya, kamu bisa saja memiliki penghasilan atau tabungan yang cukup, tapi tetap merasa miskin atau tertinggal secara finansial. Kondisi ini membuat seseorang sulit merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki.

Lindsay Bryan-Podvin, seorang Certified Financial Therapist dari Mind Money Balance menjelaskan, money dysmorphia adalah perbedaan antara status keuangan yang dirasakan seseorang dengan kondisi finansial yang sebenarnya. Menurutnya, kondisi ini bisa muncul dalam dua bentuk berbeda. Sebagian orang merasa uangnya gak pernah cukup meski tabungannya banyak, sementara sebagian lainnya justru tetap boros walau sebenarnya sedang mengalami masalah keuangan.

2. Media sosial bisa memperparah persepsi tentang uang

Merasa Miskin meski Gaji Besar? Mungkin Kamu Alami Money Dysmorphia
ilustrasi media sosial (pexels.com/Plann)

Perkembangan media sosial membuatmu bisa melihat kehidupan orang lain hampir setiap saat. Feed dipenuhi foto liburan mewah, tas desainer, restoran mahal, hingga gaya hidup yang terlihat sangat glamor. Masalahnya, kamu sering gak mengetahui cerita lengkap di balik unggahan tersebut.

Banyak orang akhirnya tanpa sadar membandingkan hidupnya dengan orang lain di internet. Padahal, gak semua hal yang terlihat di media sosial mencerminkan kondisi sebenarnya. Ada yang mendapat perjalanan gratis, ada yang menyewa barang mewah hanya untuk konten, bahkan ada juga yang berutang demi terlihat kaya. Perbandingan seperti ini bisa membuatmu merasa tertinggal meski kondisi keuanganmu sebenarnya baik-baik saja.

3. Banyak anak muda mengalami money dysmorphia

Merasa Miskin meski Gaji Besar? Mungkin Kamu Alami Money Dysmorphia
ilustrasi murung (freepik.com/Freepik)

Money dysmorphia ternyata bukan fenomena langka. Menurut penelitian dari Credit Karma, sekitar 43 persen generasi milenial dan Gen Z mengalami money dysmorphia. Angka ini menunjukkan, cukup banyak anak muda yang merasa kondisi finansialnya lebih buruk daripada kenyataan sebenarnya.

Perasaan ini berbeda dengan financial anxiety atau kecemasan terhadap keuangan. Bryan-Podvin menjelaskan, financial anxiety biasanya berkaitan dengan rasa takut menghadapi tugas finansial seperti membayar tagihan atau mengatur anggaran. Sementara money dysmorphia lebih berkaitan dengan persepsi yang terdistorsi tentang seberapa baik kondisi finansialmu dibandingkan orang lain.

4. Uang gak selalu berkaitan dengan kebahagiaan

Merasa Miskin meski Gaji Besar? Mungkin Kamu Alami Money Dysmorphia
ilustrasi lembur (pexels.com/Ron Lach)

Banyak orang percaya semakin besar penghasilan, semakin bahagia hidup seseorang. Kenyataannya gak selalu demikian, lho. Penelitian dari Princeton University pada 2010 menemukan, peningkatan pendapatan hanya meningkatkan kebahagiaan sampai batas tertentu.

Menurut penelitian dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, tingkat kebahagiaan cenderung meningkat hingga pendapatan sekitar 75 ribu dolar AS per tahun. Setelah angka tersebut, peningkatan penghasilan gak terlalu berdampak signifikan terhadap kebahagiaan seseorang. Artinya, uang memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas hidup.

Masalahnya, banyak orang memiliki ekspektasi gaya hidup yang terlalu tinggi karena pengaruh lingkungan dan media sosial. Ketika kenyataan hidup gak sesuai dengan gambaran tersebut, muncul perasaan tertinggal meskipun sebenarnya kebutuhan hidup sudah terpenuhi. Perasaan inilah yang sering membuat seseorang merasa kondisi keuangannya buruk, padahal secara objektif sebenarnya masih cukup stabil.

5. Cara mengurangi money dysmorphia dalam hidupmu

Merasa Miskin meski Gaji Besar? Mungkin Kamu Alami Money Dysmorphia
ilustrasi saving (pexels.com/Sitthiphong Thadakun)

Salah satu cara sederhana untuk mengurangi money dysmorphia adalah mengubah cara pandangmu terhadap uang. Bryan-Podvin menyarankan agar seseorang mulai menetapkan tujuan finansial yang benar-benar selaras dengan nilai hidupnya. Fokus pada satu hingga tiga tujuan penting bisa membantu mengurangi tekanan finansial yang gak perlu.

Langkah lain yang gak kalah penting adalah mulai menghadapi realitas keuanganmu dengan jujur. Biasakan memeriksa kondisi finansial secara rutin tanpa menambahkan asumsi negatif. Dengan memahami situasi sebenarnya, kamu bisa melihat bahwa kondisi keuanganmu mungkin gak seburuk yang kamu bayangkan selama ini.

Money dysmorphia menunjukkan hubungan manusia dengan uang ternyata sangat dipengaruhi oleh emosi dan persepsi. Seseorang bisa memiliki penghasilan besar sekalipun tetap merasa kekurangan jika terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Apalagi di era media sosial, standar hidup yang terlihat di layar sering kali jauh dari kenyataan.

Memahami konsep money dysmorphia bisa membantumu melihat kondisi finansial secara lebih realistis. Fokus pada kebutuhan pribadi, tujuan hidup, serta hal-hal yang benar-benar penting bisa membuat hubunganmu dengan uang menjadi lebih sehat. Pada akhirnya, rasa cukup bukan hanya soal jumlah uang yang dimiliki, tapi juga tentang bagaimana kamu memandang hidupmu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More