Comscore Tracker

[CERPEN] Tempat Ternyaman Seantero Dunia

Can I just stay here? Spend the rest of my days here?

Pernahkah terpikir olehmu tempat mana yang paling nyaman di seantero dunia ini? Di mana pun itu, tentu saja tempat itu akan selalu menjadi tujuan akhir untuk pulang.

Tempat itu pula yang tentunya adalah tempat kita merasakan suatu kehangatan yang rindunya selalu membendung dalam diri. Biar kuceritakan sedikit tentang tempat ternyaman itu.

Setiap pagi sekitar pukul enam aku terbangun tanpa alarm berisik yang acapkali membuat orang kesal dan ingin membakarnya. Aku selalu terbangun dengan suara tempur panci dan kuali yang sudah berteman karib dengan telingaku dan asap dapur yang kadang menusuk ke rongga hidungku, tepat ketika matahari masih malu-malu menampilkan wujudnya dan nyaris tersenyum.

Aku mengintip ponsel untuk sekadar melihat sudah pukul berapa. Aku mengambil Alkitab dan membaca sedikit tentang firman Tuhan, meski terkadang aku tidak melakukannya. Kemudian, aku berdoa dengan doa-doa yang sama setiap harinya.

"Tuhan, tolong berikan orang-orang di rumah ini kesehatan dan rezeki melimpah." Dan Tuhan pun selalu mengabulkan doa itu.

Aku beranjak dari tempat tidur untuk memperhatikan jendela yang dibasahi oleh air hujan. Menatap ke luar ruangan penuh khayal, menghitung tetes demi tetes air yang memicu aku untuk kembali ke tempat tidur.

Aku langsung bergegas ketika mencium wangi jahe yang direbus oleh perempuan cantik dari dapur, ibuku.

"Cuacanya dingin, seperti biasa. Minum bandrek, nih!" ucapnya sambil tersenyum dan menyodorkan secangkir bandrek yang menguarkan aroma harum sejak tadi.

"Hmm," ucapku sambil mencium sambil entah bagaimana tiba-tiba mengingat seorang pria tua yang sejak tadi belum kulihat wujudnya. Aku langsung menuju kamarnya. Dia pun berjalan bungkuk menuju aku.

"Kakek mau ke dapur, kan?" ucapku sambil menarik tangannya yang sudah keriput dan berwarna coklat tua. "Ya, mari ke dapur, saya mau ke dapur," ucapnya dengan gaya bicara khas yang cenderung terlalu formal untuk ukuranku.

Aku mempersilakan ia duduk di ruang makan dan memberikannya secangkir bandrek. Di luar masih hujan, kami hanya bisa berdiam diri di rumah.

Seperti biasa, aku berdebat dengan kakekku dengan topik yang berbeda. Ia selalu menceritakan ia adalah seorang tentara yang hebat dulunya. Pantas saja gaya bicaranya agak sedikit formal jika berbicara denganku.

Aku menghela nafas panjang karena kalah berdebat dengannya. Kami hanya mempermasalahkan huruf L yang jika dituliskan dengan huruf kecil adalah l. Kakekku tidak terima jika huruf i adalah I jika dituliskan dalam huruf kapital. Ia hanya mengakui I adalah huruf l (el) bukan huruf i.

Aku memakluminya karena sudah tua. Huh! Diam-diam aku mulai mengalihkan pembicaraan dan mengganti topik perdebatan kami. 

Sambil mendengarkan lagu-lagu Kidung Jemaat, ibuku berjoget di dapur dan memperkenalkan masakan barunya. Wanginya enak. Tampaknya tidak terlalu pedas karena ia tahu diriku bukanlah penikmat rasa pedas yang berlebihan.

Aku hanya tak sabar untuk melangkahkan kaki dan menyantap masakannya itu. Ibuku tersenyum. Setiap kali ia tersenyum aku menyadari bahwa senyumannya adalah anugerah terindah yang pernah aku dapatkan. Walaupun kami tidak pernah lupa untuk berdebat setiap harinya, tetapi memandang senyumnya adalah caraku untuk bersyukur kepada Tuhanku karena telah mengirimkan perempuan dengan senyum indah kepadaku.

Belakangan ini aku baru tahu bahwa perdebatan-perdebatan kecil kami hanya akan tertanam dalam sebuah kenangan dan tidak dapat diulangi lagi seperti sedia kala. Aku menyadari bahwa tiap-tiap detik yang kulalui bersama mereka di tempat ternyaman itu tidak dapat kuulangi di langkahku selanjutnya.

Aku ingin memberitahu bahwa tempat ternyaman yang aku miliki itu akan selalu jadi tujuanku untuk pulang. Yang kutahu, kenangan itu selalu lewat di sepertiga malam, menegurku, dan selalu berhasil membuatku menangis jika mengingatnya. 

Yang kuinginkan hanyalah sepi. Mengenang tempat itu dan selalu berharap mendapatkan kesempatan untuk mengulang hal yang sama di tempat itu.

Aku belum cukup siap untuk tidak berada di tengah-tengah mereka yang mencintaiku. Aku pernah membaca buku tentang sebuah kenangan. Kenangan akan selalu teringat ketika kita bertemu dengan aroma dan suara.

Aku selalu menemukan aroma dan suara yang nyaris percis seperti di tempat ternyaman itu. Aku sungguh-sungguh merindukannya. Tapi, aku bukannya terjebak di masa lalu. Aku hanya tidak ingin meninggalkan tempat itu untuk sekadar mengejar sepi dan sunyi yang kumiliki saat ini.

Bagiku, hal yang paling sulit dilakukan selain mengerjakan PR adalah pergi meninggalkan tempat ini. Aku bahkan ingin menyanyikan lagu Bruno Mars yang berbunyi, "Can I just stay here? Spend the rest of my days here?" berulang kali, lagi dan lagi.

Ini bukan cuman tentang memahami lirik tersebut, melainkan mendoakannya sepanjang waktu agar terwujud. Dan, siapa sangka lirik lagu itu hanya sekadar kata-kata yang mungkin akan dijawab oleh lagu Fortwnty yang berbunyi, "keluarlah dari zona nyaman,". Blop! Kata-katanya tepat kena sasaran.

Baca Juga: [CERPEN] Hadiah Gundu dari Bapak

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Jesika Nadeak Photo Writer Jesika Nadeak

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Kidung Swara Mardika

Berita Terkini Lainnya