Orang-orang singgah dalam hidup
bagai cahaya berpindah dari jendela ke jendela.
Sebentar hangatkan telapak waktu,
sebentar jadi debu di udara ingatan.
Ada nama-nama yang dulu kita sulam
di ujung-ujung masa depan.
Lalu terurai satu per satu,
sisakan benang tak sempat dirapikan.
Kita biasa mengejar punggung yang menjauh,
hafal bunyi langkah kepergian.
Kira cinta berarti menetap
di pelabuhan bernama orang lain.
Padahal, sejak awal,
ada yang tak pernah berkemas.
Berdiam di balik lelah,
menadah kecewa tanpa bahasa.
Kepadanya, kita justru paling asing.
Paling jarang mengetuk.
Paling lama menunda pulang.
Seolah ia selalu menunggu.
Baru setelah banyak pintu tertutup,
kita ingat arah pulang.
Mengetuk perlahan, hampir ragu,
ke alamat yang lama terlupa.
Dari dalam,
tak ada suara marah.
Hanya lampu yang belum dimatikan,
dan seseorang yang tak pernah pergi.
![[PUISI] Alamat yang Terlupa](https://image.idntimes.com/post/20260611/jim-ofisia-_gamvy-vbne-unsplash_f2a9826c-999d-4aff-b6d7-aa5f1d614de4.jpg)