Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Memangku Puing Samudra

[PUISI] Memangku Puing Samudra
ilustrasi memandang laut (pexels.com/Baset Alhasan)
Share Article

Kupikir aku telah menempa dada menjadi cadas
kekal menahan amuk gelombang yang culas
namun, takdir adalah pemahat yang tak kenal belas
mengikis angkuhku hingga menjadi jelaga yang terlepas

Reruntuhan ini tak lagi mengenali nama dan rupa
dihempas sunyi di antara debur yang terus bergetar
retak di dinding jiwa merambat
menyimpan jelang yang membusuk dalam diam yang panjang

Kini kupeluk pecahan diri di tubir senja yang pasi
membiarkan asin air mata menyatu dengan buih pasang
agar menemukan cara menerima hancur tanpa harus meradang

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Editorial Team