Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Dahaga di Mulut Besi
ilustrasi pipa logam yang berkarat. (unplash.com/Wolfagang Rathgeb)

​Di sini, di mana cakrawala telah kehilangan warna biru,

sebatang logam meruncing, mencuat bak tulang yang kaku.

Sebuah kran tua tertanam, lehernya dijerat padang yang mati,

menelan ludah debu yang kian hari kian mengubur hati.

​Aku memutar tuasnya dengan jemari yang berdarah,

mencari setetes air di tengah kutukan tanah yang marah.

Namun tak ada gemericik, tak ada nyanyi bening yang mengalir,

hanya desis pasir yang tertawa, merayap masuk lewat celah bibir.

​Dulu, mungkin ia adalah muara bagi mereka yang dahaga,

sumber kehidupan yang kini jadi bangkai yang tak berharga.

Kini, kerongkongannya tersumbat butiran gersang yang kejam,

membungkam segala janji yang pernah ia ucapkan dalam diam.

​Sia-sia aku mengemis pada pipa-pipa yang telah lama patah,

sebab di bawah sana, akar kehidupan telah lama berubah jadi abu dan sampah.

Tak ada lagi air, tak ada lagi sejuk yang bisa ditimbang,

hanya ada sisa logam yang menunggu waktu untuk terkikis habis secara fatal.

​Aku menatap kran itu, lalu menatap tanganku sendiri yang hampa,

menyadari bahwa aku adalah kembaran dari rongsokan yang tak punya sapa.

Memiliki mulut untuk memberi, namun hanya mampu memuntahkan debu,

terperangkap dalam pasir penyesalan, membeku dalam sepi yang membiru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team